Suara.com - Ketua DPP PAN Yandri Susanto meminta Partai Nasdem meminta maaf untuk menyelesaikan polemik pernyataan Ketua DPP Partai Nasdem Viktor Bungtilu Laiskodat. Laiskodat menyatakan kalau PAN, Demokrat, Gerindra dan PKS adalah partai yang intoleran.
"Kami sudah dengar dan menurut Nasdem tidak ada salahnya, itu kita hormati. Tentu Nasdem juga harus menghargai sikap PAN, pernyataan itu mencederai PAN," kata Yandri di DPR, Jakarta, Selasa (8/8/2017).
Dia menambahkan PAN merupakan partai yang mendukung Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Hal itu yang sering gadang Ketua Umum PAN yang sekaligus Ketua MPR, Zulkifli Hasan.
"Bang Zul tiap hari menyosialisasikan empat pilar. Kalau ada tudingan terbuka seperti itu, salah besar. Ketum kami tentu sangat toleran. Kalau PAN disebut tidak toleran, pro ekstrimis, ingin membubarkan nkri saya kira harus belajar lagi deh membaca lagi," tutur Anggota Komisi II DPR ini.
Dia menegaskan, bila tidak ada permintaan maaf atas kasus ini, PAN akan melanjutkannya ke proses hukum.
"Kita minta Bang Viktor minta maaf, karena dia menuding pihak lain dan pihak lain keberatan. Kalau tidak ada permintaan maaf yang di Bareskrim menurut kami lanjut terus. Kalau menurut mereka tidak salah, kami minta aparat penegak hukum tegakan aturan main," ujarnya.
"Kita sebenarnya nggak ada masalah. Kalau ada masalah kita selesaikan dengan cara baik-baik, dengan nilai-nilai Pancasila, salah satunya minta maaf," tambah Yandri.
Ketua DPP Partai NasDem Johnny G. Plate, mengatakan Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI Viktor Bungtilu Laiskodat tidak perlu minta maaf atas peristiwa ini.
"Siapa yang harus minta maaf? Nggak perlu. Karena kita nggak ada salah kok," ujar Johnny di DPP Partai NasDem, Jalan RP Soeroso Gondangdia, Jakarta Pusat, Senin (7/8/2017).
Menurut Johny, rekaman pidato Viktor yang sudah menyebar luas di media sosial itu merupakan hasil editan. Oknum tersebut, kata dia, yang seharusnya minta maaf karena telah menimbulkan keresahan di masyarakat.
Baca Juga: MKD Bakal Minta Klarifikasi dari Viktor Laiskodat
"Yang minta maaf yang buat itu harusnya. Ya kita korban dong. Kita dirugikan dengan viral yang berkembang ini," imbuhnya.
Dalam rekaman video pidatonya yang tersebar di media sosial, Victor mengatakan bahwa kelompok ekstrimis mulai bangkit di Indonesia. Kelompok itu mengusung sistem khilafah dan ingin mendirikan negara Islam. Sementara partai yang mendukung kelompok itu adalah Partai Gerindra, Demokrat, PKS dan PAN.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Kapolri Bakal Lakukan Revisi Perkap Hingga Perpol Usai Terbitnya Rekomendasi KPRP
-
Sidang Kasus Andrie Yunus, Eks Kepala BAIS: Kalau Dipaksa ke Peradilan Umum Bisa Berujung Impunitas
-
3 Bos KoinWorks Dijebloskan ke Bui, Skandal Korupsi Kredit Rp 600 Miliar
-
Soal Ketimpangan Personel Polri, Kapolri: Ada yang Harus Dirampingkan dan Diperkuat
-
Jangan Cuma Salahkan Sopir! DPR Soroti Kondisi Jalan Nasional di Balik Kecelakaan Maut Bus ALS
-
Resmi! Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Siap Pilih Ketum PBNU dan Rais Aam
-
Listyo Sigit Buka Suara soal Rekomendasi Calon Kapolri Harus Punya Sisa Masa Dinas 2-3 Tahun
-
Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budhi Utama Muncul di Dakwaan Korupsi, Menkeu: Tak Dinonaktifkan
-
Gus Ipul Bantah Tahan SK Jelang Muktamar PBNU: Itu Kabar Menyesatkan
-
Motif 'Sakit Hati' Gugur di Persidangan! TAUD: Serangan ke Andrie Yunus Itu Operasi, Bukan Dendam