Dirman [suara.com/Welly Hidayat]
Desember 2004 merupakan petaka bagi Dirman (30). Buruh perusahaan swasta ini sedang bekerja ketika tiba-tiba tangannya masuk ke mesin.
"Pas saya bekerja di situ tangan saya ketarik dan kejepit mesin," kata Dirman.
Dirman sudah berusaha keras mengeluarkan tangan kanannya, tapi gagal. Dia cepat-cepat mematikan mesin, tetapi sudah terlambat.
"Itu pun pakai tangan kiri saya matikan mesin. Kalau nggak saya matikan mesin masih tetap jalan, mungkin bisa sampai kelindes semua abis badan saya. Ini mesin cukup besar," kata Dirman.
Dirman kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Siloam, Lippo Cikarang, Kabupaten Bekasi. Dokter terpaksa memotongnya/
Kini,tangan kanan Dirman buntung.
"Pas saya bekerja di situ tangan saya ketarik dan kejepit mesin," kata Dirman.
Dirman sudah berusaha keras mengeluarkan tangan kanannya, tapi gagal. Dia cepat-cepat mematikan mesin, tetapi sudah terlambat.
"Itu pun pakai tangan kiri saya matikan mesin. Kalau nggak saya matikan mesin masih tetap jalan, mungkin bisa sampai kelindes semua abis badan saya. Ini mesin cukup besar," kata Dirman.
Dirman kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Siloam, Lippo Cikarang, Kabupaten Bekasi. Dokter terpaksa memotongnya/
Kini,tangan kanan Dirman buntung.
Safety First
Dirman ikut demonstrasi buruh yang tergabung aksi Aliansi Rakyat Peduli Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Selasa (7/11/2017).
Demonstrasi dilakukan mengambil momentum kebakaran pabrik petasan, PT. Panca Buana Cahaya Sukses, Kosambi, Tangerang, Banten, pada Kamis (26/10/2017). Kebakaran tersebut menewaskan 48 pekerja serta melukai puluhan orang lainnya.
Dirman menceritakan pengalaman buruknya ketika bekerja sebagai operator mesin percetakan di PT. Maja Bakti Prasindo. Dia bekerja di sana awal Agustus 2004.
Kasus itu terjadi lima bulan setelah Dirman bekerja.
"Itu kejadian bulan Desember 2004, sudah lima bulan saya kerja. Itu mesin percetakan belum dapat dikatakan safety, belum aman. Karena belum ada sensornya (mesin percetakan)," ujar Dirman.
Untungnya, perusahaan tempat Dirman bekerja masih mau menanggung biaya pengobatan.
"Dari perusahaan bertanggungjawab ada. Saya dibawa ke rumah sakit. Berobat sampai sembuh. saya di istirahatkan sampai tiga bulan untuk tidak bekerja," ujar Dirman.
Tetapi, Dirman karena tak ada santunan dari perusahaannya ketika itu. Padahal jelas-jelas petaka yang merenggut organ penting tubuhnya terjadi ketika sedang menjalankan tugas.
Dirman pun berjuang untuk menuntut hak. Dia bersama teman - teman buruh melaporkan perusahaan ke Dinas Ketenagakerjaan Bekasi. Perusahaan pun memberikan santunan.
"Tadinya nggak ada perusahaan berikan (santunan) Itu cuma sebatas pengobatan saja tadinya. Tapi saya ajukan saya gugat ke kantor depnaker di Bekasi. Alhamdulillah sudah saya ajukan saya gugat sampai rapat juga. Itu perusahaan baru mau mengeluarkan kebijaksanaan atas santunan kecelakaan kerja saya. tadinya nggak ada," ujar Dirman.
Belajar dari hilangnya tangan Dirman, dia berharap perusahaan-perusahaan penyedia lapangan kerja harus menomorsatukan keselamatan kerja.
"Harapan saya masih tetap ingin bekerja di perusahaan itu. Untuk selanjutnya perusahaan agar dapat menanamkan sistem keselamatan kerja di perusahaan. Sehingga kecelakaan kerja dapat diminimalisir. Itu saja harapan saya," kata Dirman.
Dirman ikut demonstrasi buruh yang tergabung aksi Aliansi Rakyat Peduli Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Selasa (7/11/2017).
Demonstrasi dilakukan mengambil momentum kebakaran pabrik petasan, PT. Panca Buana Cahaya Sukses, Kosambi, Tangerang, Banten, pada Kamis (26/10/2017). Kebakaran tersebut menewaskan 48 pekerja serta melukai puluhan orang lainnya.
Dirman menceritakan pengalaman buruknya ketika bekerja sebagai operator mesin percetakan di PT. Maja Bakti Prasindo. Dia bekerja di sana awal Agustus 2004.
Kasus itu terjadi lima bulan setelah Dirman bekerja.
"Itu kejadian bulan Desember 2004, sudah lima bulan saya kerja. Itu mesin percetakan belum dapat dikatakan safety, belum aman. Karena belum ada sensornya (mesin percetakan)," ujar Dirman.
Untungnya, perusahaan tempat Dirman bekerja masih mau menanggung biaya pengobatan.
"Dari perusahaan bertanggungjawab ada. Saya dibawa ke rumah sakit. Berobat sampai sembuh. saya di istirahatkan sampai tiga bulan untuk tidak bekerja," ujar Dirman.
Tetapi, Dirman karena tak ada santunan dari perusahaannya ketika itu. Padahal jelas-jelas petaka yang merenggut organ penting tubuhnya terjadi ketika sedang menjalankan tugas.
Dirman pun berjuang untuk menuntut hak. Dia bersama teman - teman buruh melaporkan perusahaan ke Dinas Ketenagakerjaan Bekasi. Perusahaan pun memberikan santunan.
"Tadinya nggak ada perusahaan berikan (santunan) Itu cuma sebatas pengobatan saja tadinya. Tapi saya ajukan saya gugat ke kantor depnaker di Bekasi. Alhamdulillah sudah saya ajukan saya gugat sampai rapat juga. Itu perusahaan baru mau mengeluarkan kebijaksanaan atas santunan kecelakaan kerja saya. tadinya nggak ada," ujar Dirman.
Belajar dari hilangnya tangan Dirman, dia berharap perusahaan-perusahaan penyedia lapangan kerja harus menomorsatukan keselamatan kerja.
"Harapan saya masih tetap ingin bekerja di perusahaan itu. Untuk selanjutnya perusahaan agar dapat menanamkan sistem keselamatan kerja di perusahaan. Sehingga kecelakaan kerja dapat diminimalisir. Itu saja harapan saya," kata Dirman.
Komentar
Berita Terkait
-
Serikat Pekerja BPJS Ketenagakerjaan Tegaskan Peran Negara Sebagai Jangkar Perlindungan Pekerja
-
Menaker: Serikat Pekerja Adalah Mitra, Bukan Lawan Perusahaan
-
Buruh Kompak Desak Reformasi SJSN, Minta Revisi UU Libatkan 10 Konfederasi
-
Buruh Bersatu Desak Reformasi Total SJSN, Soroti Rendahnya Perlindungan Pekerja
-
Buruh: 10.000 Pekerja Diserap Jika PT Agrinas Beli Pikap di Dalam Negeri
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
-
Sempat Hilang Kontak, Ain Karyawan Kompas TV Meninggal dalam Kecelakaan KRL di Bekasi
-
4 Pemain Anyar di Skuad Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026, 2 Statusnya Debutan!
Terkini
-
Andi Gani Tegaskan Perayaan May Day di Monas 'Nol Dana Negara' Meski akan Dihadiri Prabowo
-
Pola Kekerasan Sejak Lama, LPSK Sebut Masih Ada Potensi Lonjakan Korban Daycare Little Aresha
-
Krisis Energi Tekan Kelas Menengah Indonesia, Satu Guncangan Bisa Jadi Miskin
-
Transportasi Publik Belum Jadi Layanan Dasar, ITDP Dorong Penguatan Kebijakan Nasional
-
Dunia Harus Tahu! 8 Juta Warga Sudan Terancam Kelaparan, 700 Ribu Anak di Ambang Maut
-
Stasiun Bekasi Timur Dibuka Lagi, KAI Pastikan Asepek Keselematan Sudah Terpenuhi
-
Dikritik Perang Lawan Iran, Donald Trump Murka ke Kanselir Jerman: Dia Gak Tahu Apa-apa
-
Ketergantungan Energi Fosil Bebani APBN, Transisi Energi Bisa Jadi Solusi?
-
Raja Charles Sindir Trump di Gedung Putih, Candaan soal Bahasa Prancis Bikin Ruangan Pecah
-
Bakal Hadiri May Day 2026 di Monas, Prabowo Subianto Siapkan 'Kejutan' untuk Buruh