Suara.com - Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN Sumut), menggelar seminar akademik berjudul “Jejak Pelacur Arab dalam Seni Baca Al Qur’an”, Senin (11/12/2017). Tak disangka, seminar mengenai sejarah seni membaca Alquran tersebut membuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) kesal.
"MUI sangat menyesalkan seminar yang diselenggarakan oleh UIN Sumut dalam rangka Dies Natalis ke-44," kata Anwar kepada wartawan di Jakarta, Selasa (12/12).
Anwar mengklaim, judul seminar tersebut sangat tendensius dan merendahkan kitab suci umat Islam.
Untuk itu, dia mendesak adanya permohonan maaf secara terbuka dari penyelenggara terutama kepada umat Islam Indonesia.
Permohonan maaf, lanjut dia, akan mencegah persoalan itu meluas dan berkembang ka arah yang tidak diinginkan serta mendorong terjaganya keamanan dan tidak terjadi kegaduhan.
Anwar mengatakan, pihaknya mengimbau semua pihak untuk dapat menahan diri dan tidak melakukan tindakan-tindakan yang tidak diinginkan dan menyerahkan penyelesaian masalah kepada pihak terkait.
Dia meminta Kementerian Agama agar mengambil langkah-langkah cepat dan tepat agar masalah tersebut tidak menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat dan agar hal serupa tidak lagi terulang.
Namun, Anwar tak menjelaskan apakah dirinya maupun MUI secara kelembagaan sudah membaca makalah-makalah kajian sejarah yang dipresentasikan dalam seminar tersebut.
Baca Juga: Banjir, Anies: Ikhtiar Pencegahan Harus Dilakukan Sungguh-sungguh
Kajian Sejarah
Suara.com mendapatkan satu makalah pengantar seminar tersebut yang dipresentasikan oleh Muhammad Yaser Arafat.
Dalam makalahnya, Arafat melacak ihwal seni pembacaan Alquran yang berirama pada era Arab arkais. Hasil penelitian yang dipresentasikan Arafat menyebutkan, seni pembacaan Alquran "berutang" terhadap para perempuan penyanyi dan pekerja seks atau dalam bahasa Arab disebut "al-qaynah/al-qiyan".
"Di saat festival puisi diselenggarakan, orang-orang Arab menyaksikan pelantunan puisi sambil menenggak anggur atau perasan kurma dan menikmati nyanyian plus servis erotisme yang disediakan oleh para al-qaynah/al-qiyan," demikian tertulis dalam halam pertama makalah presentasi tersebut.
Dalam makalah itu Arafat menuliskan, kebudayaan musikal orang Arab pada masa itu dirumuskan oleh kaum Qaynah atau PSK.
Sebabnya, kaum laki-laki sibuk berperang dan berdagang. Selain menyanyi dan tampil di panggung, kewajiban qaynah mencakup pekerjaan menuangkan anggur dan menyediakan jasa erotisme.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Sambut HUT RI ke-81, PB ORADO Gelar Turnamen Bertajuk Piala Panglima TNI
-
Terancam Sanksi! FK UGM Investigasi dr. Elda Putri Soal Komentar Rendahkan Pasien BPJS
-
Tiket Pesawat Jakarta-Yogyakarta Rp890 Ribuan! Ini Daftar Promo untuk Liburan Hemat
-
Perang Timur Tengah Belum Goyahkan Ekspor RI, BPS Ungkap Mesin Pertumbuhan Ekonomi Masih Ngebut
-
Bukan Sekadar Tempat Transit, Wajah Baru Lounge Bandara Ini Setara Hotel Berbintang
-
Bahlil Beri Tugas Baru Lemigas Urus Impor Minyak dan LPG, Targetkan Pasokan Nasional Lebih Terjamin
-
Tunda Kenaikan Gaji Kepala Daerah! Korupsi Itu Soal Integritas, Bukan Kurang Penghasilan
-
Industri Kecantikan Indonesia Makin Bergairah, Inovasi dan Teknologi Jadi Kunci Persaingan
-
Dari Kulit hingga Tekstil Ramah Lingkungan, Tren Fashion Masa Depan Makin Berkelanjutan
-
Wali Kota Solo Tegaskan Tak Toleransi Miras Ilegal, Empat Outlet Ditutup