Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro ditemui di Gado-gado Boplo, Menteng, Jakarta, Senin (10/4/2017) [suara.com/Umi Hadya Saleh]
Partai Golongan Karya sejak awal mendeklarasikan diri sebagai partai pendukung Presiden Joko Widodo pada pemilu presiden tahun 2019. Bahkan, melalui forum musyawarah nasional luar biasa yang melahirkan ketua umum baru, Airlangga Hartarto, partai berlambang pohon beringin kembali menegaskan dukungan itu.
Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Siti Zuhro menilai hubungan antara Jokowi dan Golkar murni politik, keduanya sama-sama ambil keuntungan dari kerjasama.
"Hubungannya sangat politik, artinya political bargainnya ini sama-sama menguntungkan secara politik," kata Zuhro kepada Suara.com, Rabu (27/ 12/2017).
Menurut Zuhro satu sisi Jokowi saat ini tengah mencari dukungan politik sebesar-besarnya sehingga ia harus pandai-pandai memainkan peran secara politik, termasuk bermain di dua kaki, yakni PDI Perjuangan dan Golkar.
Di sisi lain, Partai Golkar membutuhkan seorang figur untuk mendongkrak elektabilitas yang dalam beberapa bulan terakhir kian tergerus karena gejolak internal, baik isu korupsi yang menjerat mantan ketua umum Setya Novanto maupun isu adanya faksi-faksi di internal organisasi.
"Golkar merasa dalam posisi yang tadi itu, terjepit dan dia tidak punya banyak alternatif, tidak punya waktu untuk, mempertahankan saja, 14 persen suara seperti pemilu 2014," ujar Zuhro.
Zuhro mengatakan tak mudah bagi Golkar untuk meraup suara tinggi di pemilu 2019. Terlebih partai ini tidak memiliki figur internal yang bisa dijual kepada publik untuk mendongkrak elektabilitas. Sebab itu, dukungan pada Jokowi diharap dapat meraih keuntungan politik.
"Jadi dalam posisi yang seperti itu memang tidak ada sosok yang bisa membuat Golkar menggantungkan diri. Golkar kan terbiasa seperti itu, zaman Pak Harto ya (patronnya) Pak Harto, zaman pak Habibie, ya pak Habibie, zamannya Pak Jusuf Kalla jadi wakil SBY, ya kepada Pak Jusuf Kalla. Akhirnya posisi nilai tawar politiknya, bargainingnya itu tinggi," tutur Zuhro.
Kebiasaan Golkar menggantungkan diri kepada patron tertentu yang dari internal sendiri berakhir saat Golkar dipimpin oleh Aburizal Bakrie. Sejak saat itu, Golkar tak punya figur yang dapat dijadikan pegangan, bahkan saat ditimpa masalah dualisme kepemimpinan.
"Oleh karena itu Golkar ini berusaha mencari sosok patron yang dinilai akan mendongkrak suara. Mereka asumsinya seperti itu, tapi kan biar bagaimanapun nggak bisa menjadi prefrensi dari pemilih di Indonesia, dengan posisi Pak Jokowi yang bukan kader," ujar Zuhro.
"Jadi pragmatisme dan oportunisme yang seperti ini akan tinggal asumsi-asumsi saja akhirnya," tambah Zuhro
Perubahan perilaku pemilih juga terlambat disadari partai, bukan saja Golkar, melainkan juga partai-partai lain.
"Kejadian-kejadian perubahan sosial, perubahan politik dua tahun terakhir, sejatinya akan menciptakan memori kolektif pemilih. Itu juga bergeser dan itu akan berpengaruh pada perilaku pemilih," kata Zuhro.
Itu sebabnya, tak ada jaminan dukungan masyarakat pada Jokowi akan menguntungkan Partai Golkar secara politik, terlebih Jokowi bukan kader Partai Golkar.
"Political bargain yang dimiliki Golkar hari ini di bawah PDIP. Karena biar bagaimanapun Pak Jokowi adalah PDIP. Kalaupun Golkar mendukung yang mendukung saja," kata Zuhro.
Komentar
Berita Terkait
-
Seret Inisial AA dan FA, dr. Tifa Klaim Kantongi Bukti Upaya Pembujukan RJ di Kasus Ijazah Jokowi!
-
Rismon Bandingkan Diri dengan Einstein: 'Ilmuwan Saja Bisa Revisi, Kenapa Saya Dicap Pembelot?'
-
Tak Bisa Hadir Jadi Saksi Kasus Ijazah Jokowi, Aiman Witjaksono Utus Tim Legal Temui Penyidik Polda
-
Setelah Karni Ilyas, Kini Giliran Aiman Witjaksono Dipanggil Polisi Soal Ijazah Palsu Jokowi
-
Usai Akui Ijazah Jokowi Asli, Pelapor Sepakat RJ Rismon, Kasus Segera SP3?
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Begini Cara Satgas PRR Manfaatkan Kayu Hanyutan di Wilayah Terdampak Bencana
-
Respons Gempa Sulut: Mensos Pastikan Beri Santunan Ahli Waris dan Kirim Bantuan Sesuai Kebutuhan
-
Gegana Turun Tangan! Gereja di Jakarta hingga Bekasi Disisir dan Dijaga Ketat Jelang Ibadah Paskah
-
Kesimpulan DPR Kasus Amsal Sitepu: Desak Eksaminasi dan Evaluasi Kejari Karo
-
Tegas! 1.256 SPPG di Timur Indonesia Disetop Sementara BGN Akibat Abaikan SLHS dan Tak Punya IPAL
-
KPK Akan Maraton Periksa Agen Perjalanan Haji dan Umrah Pekan Depan
-
Iran Pastikan Selat Hormuz Terbuka untuk Dunia, Tapi....
-
Kasus Kuota Haji, KPK Perpanjang Masa Penahanan Gus Alex Hingga 40 Hari ke Depan
-
2 Siswa SMP Terkena Peluru Nyasar, Marinir Ungkap Alasan Tolak Tuntutan Rp3,3 Miliar
-
Gerak Cepat TNI Pasca-Gempa Sulut: Ratusan Prajurit Evakuasi Korban hingga Sisir Dampak Tsunami