Suara.com - Setelah mengundurkan diri dari ketua tim pengacara terdakwa kasus korupsi KTP berbasis elektronik Setya Novanto, Fredrich Yunadi jarang muncul di media massa.
Dihubungi Suara.com pada Senin (1/1/2018), dia mengatakan sudah tidak berhubungan lagi dengan Novanto. Tetapi, dia mengaku masih tetap berhubungan dengan keluarga mantan ketua umum Partai Golkar.
"Ya sama keluarganya saya sering berhubungan. Tapi kalau sama dia (Novanto) nggak. Kan saya bukan kuasa hukumnya lagi. Nggak boleh sama KPK," kata Fredrich.
Hubungan Fredrich dengan keluarga Novanto sebatas hubungan profesional.
"Kalau mereka tanya, saya memberi pendapat hukum saja. Hubungannya ya begitu saja," ujar Fredrich.
Fredrich sekarang ini disibukkan dengan banyak urusan. Tapi, di antara klien yang sekarang sedang ditangani, tak ada yang kasusnya sohor.
"Pekerjaan saya banyak. Pekerjaan kantor kan numpuk. Belum tangani klien besar. Kita yang kecil-kecil saja dulu. Kalau yang besar bikin repot, jadi yang kecil saja. Nggak banyak yang tahu," kata Fredrich.
Tak ada yang tahu secara persis alasan Fredrich mundur dari tim hukum Novanto.Tapi yang jelas, dia mundur setelah muncul nama pengacara Maqdir Ismail.
Dia mundur hampir bersamaan waktunya dengan mundurnya Otto Hasibuan yang baru beberapa hari jadi pengacara Novanto.
Beberapa peristiwa penting dan berpengaruh pada proses hukum dikemudian hari terjadi pada waktu Fredrich masih menjadi pengacara Novanto.
Peristiwa itu, antara lain Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Agus Rahardjo dan Wakil Ketua KPK Saut Situmorang dipolisikan Sandi Kurniawan atas dugaan pembuatan surat palsu. Sandi Kurniawan tak lain anggota tim kuasa hukum Novanto yang berasal dari Yunadi and Associates.
Beberapa hari Bareskrim Polri menerbitkan surat pemberitahuan dimulainya penyidikan atas laporan Sandi Kurniawan, KPK menetapkan kembali Novanto menjadi tersangka. Kasus Novanto terus menggelinding hingga sekarang dia dijadikan terdakwa. Jabatan berpengaruh sebagai ketua DPR dan ketua umum Partai Golkar hilang.
Berita Terkait
-
HUT Fraksi Golkar, Sarmuji Kenang Jasa Setya Novanto: Saya Banyak Belajar Menghadapi Tekanan
-
Mengintip Rumah Setya Novanto di Kupang yang Dilelang KPK, Harganya Miliaran!
-
Pembebasan Bersyarat Setya Novanto Digugat! Cacat Hukum? Ini Kata Penggugat
-
Setnov Bebas Bersyarat, Arukki dan LP3HI Ajukan Gugatan ke PTUN Jakarta: Kecewa!
-
Terpopuler: Anak Setya Novanto Menikah, Gaji Pensiunan PNS Bakal Naik Oktober 2025?
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
Terkini
-
Anggota Komisi III DPR Dukung RUU Polri Atur Jabatan Polisi di Luar Institusi Dibatasi: Supaya Jelas
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Pemerintah Telah Salurkan Dana Rp 10,65 Triliun untuk Kebut Rehabilitasi Pascabencana Sumatera
-
Kabar Gembira! Pajak Kendaraan Listrik di Jakarta Tetap Nol Rupiah, Ini 5 Fakta Terbarunya
-
Eks Ketua BPK Sebut Audit Kerugian Negara Rp1,5 Triliun di Kasus Chromebook Cacat
-
Diduga Ada Jual Beli, KPRP Usul Jalur Kuota Khusus di Rekrutmen Polri Dihapuskan
-
Tanggapi Reformasi Polri, Sahroni Usul Jabatan Polisi di Lembaga Sipil Dibatasi Maksimal 3 Tahun
-
Bobol 7 Gereja di Jateng, Pencuri Ini Keok Usai Jualan Hasil Curian di Medsos
-
Dukung Rekomendasi Reformasi Polri, Abdullah Tegaskan Polri Tetap di Bawah Presiden
-
Program SMK 4 Tahun dan SMK Go Global Mulai Berjalan, Ini Jurusan yang Jadi Prioritas