Suara.com - Tahun 2018 ditandai dengan tingginya angka kematian anak-anak di Suriah. Perang saudara di negara itu sudah memasuki tahun kesembilan, kata Badan PBB Urusan Anak-anak, UNICEF, Senin (11/3).
"Anak-anak di banyak bagian negeri itu masih menghadapi sangat banyak bahaya seperti kapan saja selama konflik delapan tahun tersebut," kata Direktur Pelaksana UNICEF Henrietta Fore di dalam satu pernyataan.
"Pada 2018 saja, 1.106 anak-anak tewas dalam pertempuran --jumlah paling banyak anak yang menemui ajal dalam satu tahun sejak meletusnya perang. Ini baru jumlah yang bisa diabsahkan oleh PBB, yang berarti jumlah sesungguhnya mungkin jauh lebih banyak," kata wanita pejabat itu.
Fore mengatakan, 262 serangan dilancarkan terhadap lembaga pendidikan dan kesehatan pada 2018, yang ia gambarkan sebagai "jumlah paling banyak", demikian laporan Kantor Berita Turki, Anadolu yang dikutip dari Antara, Selasa (12/3/2019).
Ia menyampaikan keprihatinan mengenai situasi di Idlib di bagian barat-laut Suriah, tempat "peningkatan kerusuhan dilaporkan telah menewaskan 59 anak kecil dalam beberapa pekan belakangan ini saja".
"Anak-anak dan banyak keluarga di tanah tak bertuan terus hidup dalam ketidak-pastian. Situasi keluarga di Rukban, dekat perbatasan Jordania, terus menghadapi keputus-asaan, dengan akses terbatas ke makanan, air, tempat berteduh, perawatan kesehatan, dan pendidikan," kata wanita pejabat tersebut.
Kondisi yang Memburuk
Direktur UNICEF tersebut juga "khawatir dengan kondisi yang bertambah buruk di Kamp Al Hol di bagian timur-laut (di Gubernuran Hasakeh) yang saat ni menampung lebih dari 65.000 orang, termasuk sebanyak 240 anak tanpa pendamping atau yang terpisah dari keluarga mereka".
"Sejak Januari tahun ini, hampir 60 anak dilaporkan meninggal saat melakukan perjalanan sejauh 300 kilometer dari Baghouz di Suriah Timur menuju kamp itu," katanya.
Baca Juga: Hashim Djojohadikusumo Ungkap Detik-detik Jokowi 'Telikung' Prabowo di 2014
Nasib anak-anak petempur asing di Suriah masih tidak jelas," kata wanita pejabat itu.
UNICEF "mendesak negara anggota agar memikul tanggung-jawab untuk anak-anak yang kewarganegaraan mereka atau yang dilahirkan dalam kewarganegaraan mereka dan melakukan tindakan untuk melindungi anak-anak menjadi tidak memiliki negara".
Badan PBB tersebut, kata Fore, kembali menyampaikan seruan "kepada semua pihak dalam konflik itu, serta mereka yang memiliki pengaruh atas mereka, untuk memprioritaskan perlindungan buat semua anak, tak peduli siapa yang menguasai daerah mana dan tak peduli dugaan afiliasi keluarga seorang anak".
Sebelum konferensi pemberian janji di Brussels pada 12-14 Maret, Fore mendesak negara donor agar "mempertahankan kebaikan mereka buat anak-anak Suriah dan negara tetangganya".
Suriah baru saja keluar dari konflik yang menghancurkan negeri tersebut, yang meletus pada 2011, ketika Pemerintah Presiden Bashar al-Assad menindas demonstran dengan kekuatan yang tak pernah terjadi sebelumnya.
Ratusan ribu warga sipil telah tewas atau meninggalkan tempat tinggal mereka akibat konflik itu, terutama akibat serangan udara pemerintah terhadap daerah yang dikuasai oposisi.
Berita Terkait
-
50 Warga Sipil Tewas dalam Serangan Koalisi Pimpinan AS di Suriah
-
Tiga Ribu Orang Termasuk WNI Dievakuasi dari Benteng Terakhir ISIS
-
334 Sekolah di Idlib Diliburkan karena Serangan Rezim Assad
-
Cerita Pilu Anak-anak di Suriah Korban Kekejaman ISIS
-
Kuburan Massal Berisi Jasad Perempuan Ditemukan di Benteng Terakhir ISIS
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
Terkini
-
'Takut Diamuk Massa': Alasan Klasik di Balik Tabrak Lari, Mengapa Jalanan Kita Begitu Beringas?
-
Gubernur Khofifah Apresiasi, Pemprov Jatim Borong 3 Penghargaan UB Halal Metric Award 2026
-
Ketum TP PKK Ajak Warga Sulsel Tingkatkan Imunisasi Anak Demi Generasi Sehat
-
Pastikan Bantuan Tepat Sasaran, Mendagri Tito Bersama Menteri PKP Tinjau Program BSPS di Balikpapan
-
Kemnaker Siapkan Tenaga Kerja Terampil untuk Dukung Pertumbuhan Pasar EV dan Green Jobs
-
Ironi Distribusi Air Jakarta: Apartemen Dimanjakan, Warga Kampung Pakai Pipa Usia Setengah Abad!
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Kritik Pelibatan TNI dalam Pembekalan LPDP, TB Hasanuddin: Perlu Dikaji, Tak Sesuai Tupoksi!
-
BPJS Kesehatan dan BPKP Perkuat Tata Kelola Jaga Keberlanjutan JKN
-
Letjen TNI Agus Widodo Dikabarkan Resmi Jabat Wakil Kepala BIN, Gantikan Komjen Imam Sugianto