Suara.com - Menkopolhukam Mahfud MD menanggapi pernyataaan bekas Staf Khusus Wakil Presiden Jusuf Kalla, Azyumardi Azra yang pernah menyindirnya karena memberikan dua pendapat berbeda soal Perppu KPK.
Terkait hal itu, Mahfud mengakui kini adalah seorang pembantu Presiden Joko Widodo.
"Tetapi saya menteri sekarang, ketika akan diangkat itu tidak ada visi menteri yang ada visi presiden, menteri itu melaksanakan tugas presiden," kata Mahfud saat membuka acara dialog bersama tokoh masyarakat di Kantor Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (11/11/2019).
Diketahui, Azyumardi pernah ikut menghadiri undangan Presiden Joko Widodo atau Jokowi ke Istana bersama tokoh-tokoh lain termasuk dengan Mahfud untuk membahas beragam hal termasuk soal adanya Perppu KPK.
Azyumardi menyebut kalau saat itu Mahfud termasuk ke dalam pihak yang setuju dengan diadakannya UU KPK hasil pengesahan di DPR.
Namun, pernyataan Mahfud dinilai Azyumardi malah berubah ketika sesudah diangkat Jokowi menjadi Menkopolhukam periode 2019-2024.
Mahfud mengaku akan senang apabila Perppu KPK bisa dikeluarkan oleh Jokowi. Akan tetapi, eks Ketua Mahkamah Konstitusi itu mawas diri karena kini ia menjabat sebagai menteri di Kabinet Indonesia Maju.
"Maka dalam posisi ini tentu saya nunggu presiden, kan, mengeluarkan Perppu atau tidak pasti saya akan memberikan saran-saran akan memberi pertimbangan," katanya.
Lebih lanjut, Mahfud menerangkan bahwa ia hanya bisa menanti keputusan dari Jokowi untuk nasib Perppu KPK. Tidak hanya berdiam diri, Mahfud mengatakan kalau dirinya pasti akan berkontribusi memberikan saran ataupun pertimbangan.
Baca Juga: Mahfud Akui Tak Punya Kewenangan Minta Jokowi Terbitkan Perppu KPK
Hal itu disampaikannya karena ia menyebut Jokowi sangat terbuka untuk membicarakan hal apa pun.
"Presiden itu sebenarnya tidak sulit diajak bicara yang begitu-begitu, enteng-enteng saja dijawab, pak ini gimana? Oh begini, begini, tidak ada ketegangan," tandasnya.
Berita Terkait
-
Tito Diminta Benahi Hubungan Pusat dan Daerah, Jokowi: Harus Satu Barisan
-
Mahfud Minta Surat 'Pencekalan' Rizieq Shihab, FPI: Anda Level Bawah
-
FPI: Ucapan Mahfud MD Perkuat Bukti Habib Rizieq Dicekal Penguasa
-
Jokowi Minta Menteri Contoh Regulasi di AS: Tolong Nanti Dikaji Lagi
-
Maju Pilkada Solo, Pendiri PAN Minta Gibran Sabar Tunggu Jokowi Pensiun
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Wajah Bercahaya
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Alih Fungsi Kali Ciputat dan Kelalaian Proyek Jadi Biang Kerok Banjir di Taman Mangu Indah?
-
Hakim Militer Minta Ahli Kimia Uji Campuran Air Keras dalam Kasus Andrie Yunus
-
Ade Armando Pamit dari PSI: Tameng untuk Jokowi atau Sekadar Strategi 'Cuci Tangan' Politik?
-
Siasat Licin Teroris JAD di Sulteng: Jualan Buah di Siang Hari, Sebar Propaganda ISIS di Medsos
-
Waka DPR Soroti Darurat Kekerasan Seksual di Pendidikan: Harus Ada Efek Jera dan Sanksi Berat!
-
Kata Pengamat Soal Rupiah Melemah: Jangan Panik, Tak Bakal Ganggu Daya Beli
-
Kemensos Siapkan Skema Transisi Dapur Mandiri Siswa Sekolah Rakyat
-
Gus Ipul Pastikan Pengadaan Sepatu Sekolah Rakyat Transparan
-
Tutup Program Magang Kemendagri Wamendagri Bima Arya Tekankan Pentingnya Penguatan Karakter
-
Evaluasi Rekrutmen Polri: Hapus Kuota Khusus, Libatkan Multi-aktor