Suara.com - Amerika Serikat mengumumkan pelajar asing akan dipaksa untuk pulang jika sekolah mereka hanya mengadakan kelas online. Untuk siswa yang tidak mematuhi aturan tersebut, terancam deportasi.
Menyadur NBC News, Selasa (7/7/2020), Pemerintah AS melalui Badan Penegakan Hukum dan Keimigrasian mengeluarkan pernyataan bahwa siswa dengan visa F-1 dan M-1 harus meninggalkan AS jika sekolah hanya mengadakan kelas online.
"Siswa harus meninggalkan negara atau mengambil langkah-langkah lain, seperti mentransfer ke sekolah dengan instruksi langsung untuk tetap memiliki status hukum," jelas badan Imigrasi AS dikutip dari NBC News.
"Bagi siswa yang melanggar aturan akan menghadapi konsekuensi imigrasi, tidak terbatas pada inisiasi proses pemindahan," kata badan tersebut.
Aturan tersebut muncul ketika beberapa perguruan tinggi dan universitas, termasuk Harvard, mengumumkan rencana untuk hanya akan mengadakan kelas online pada musim gugur (sekitar September-Desember) ketika A S berjuang mengendalikan pandemi virus corona.
Aturan baru ini merupakan pukulan bagi banyak siswa internasional yang akan dipaksa meninggalkan AS atau berebut untuk pindah ke sekolah baru untuk mempertahankan status hukum mereka.
Aturan ini juga akan menimbulkan tantangan tersendiri terutama bagi mereka yang berasal dari negara dengan zona waktu yang sangat berbeda, termasuk Indonesia.
"Aturan baru seharusnya tidak memengaruhi siswa yang berpartisipasi dalam OPT," kata juru bicara sebuah agensi pendidikan di AS, merujuk pada program pelatihan praktis opsional yang memungkinkan siswa dengan visa F-1 yang telah menyelesaikan studi mereka untuk bekerja di AS hingga satu tahun di bidang yang relevan.
Terry Hartle, wakil presiden Dewan Pendidikan Amerika Senior mengatakan bahwa peraturan tersebut akan menimbulkan kebingungan dan ketidakpastian.
Baca Juga: Pelajar SMP Ditemukan Tewas Tergantung, Orang Tua Menolak Anaknya Diautopsi
Kelompok Pendidikan Internasional (NAFSA) juga ikut mengecam peraturan tersebut, mereka mengatakan pihak sekolah harus diberikan wewenang untuk membuat keputusan sendiri.
Menurut Institute of International Education, siswa dari negara lain di Amerika Serikat kini berjumlah hampir 1,1 juta pada tahun akademik 2018-2019 atau sekitar 5,5 persen dari siswa asli Amerika Serikat,
Sebagian besar siswa asing di AS cenderung mengandalkan beasiswa dari lembaga pendidikan tinggi A.S., yang mensubsidi orang Amerika.
Peraturan baru tersebut merupakan langka terbaru yang diambil oleh Presiden Trump untuk membatasi imigrasi dan visa legal selama pandemi Covid-19.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Panas Lagi! AS Luncurkan Serangan Balasan ke Iran Usai Insiden di Selat Hormuz
-
Jokowi Mulai Safari Politik, PAN Merasa Tak Terancam: Kami Tunggu PSI Lolos ke Senayan
-
Batas Penghasilan MBR Rp8 Juta Tak Cukup, Pemerintah Harus Tekan Biaya Hidup
-
Ucapan 'Adikku Sayang' Berujung Penganiayaan Caddy Golf, Pelaku Dibekuk di Lampung
-
Open House Sekolah Rakyat Surabaya, Orang Tua Terharu Lihat Perkembangan Siswa
-
1 Tahun Sekolah Rakyat, Wamensos: Alhamdulillah Cukup Berhasil
-
Bukan Sekadar Kunjungan Biasa, Jokowi Ungkap Alasan Hadiri Rakorda PSI di Lampung
-
Penandaan APBD 2027: Langkah Strategis Kemendagri Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
-
Mendagri: Parade Tenun Belu Jaga Warisan Budaya dan Gerakkan Ekonomi Daerah
-
Dampak Mengerikan Gempa Venezuela, Korban Tewas Bertambah Jadi 589 Orang