Suara.com - Seorang pria Austria memberikan warisan untuk desa di Prancis sebagai tanda terima kasih karena penduduk di desa itu menerima keluarganya selama Perang Dunia Kedua.
Le Chambon-sur-Lignon, di wilayah tenggara Prancis, melindungi ribuan orang Yahudi dan dikenal memiliki reputasi sebagai desa yang melindungi warga dari persekusi.
Eric Schwam, yang meninggal Desember tahun lalu di usia 90 tahun, tiba di desa itu bersama keluarganya pada 1943.
Wali kota setempat mengatakan Eric memberikan warisan "dalam jumlah besar" bagi desa itu dalam surat wasiat yang ia tinggalkan, tanpa mengkonfirmasi jumlahnya.
Namun pendahulunya mengatakan kepada media lokal bahwa Schwam sudah menanyakannya kepada para pejabat beberapa tahun yang lalu dan totalnya diperkirakan sekitar € 2 juta [Rp34 miliar].
- Kisah 83 anak Yahudi disembunyikan dan dilindungi seorang biarawati dari buruan Nazi
- Adolf Hitler: Bagaimana pemimpin Nazi ini meninggal dan mengapa banyak misteri di seputar kondisi jenazahnya?
- Bagaimana sebuah kamp pembantaian menjadi pusat Holocaust Nazi
Denise Vallat, asisten budaya dan komunikasi di Le Chambon-sur-Lignon, mengatakan kota itu dihubungi oleh notaris lebih dari tiga pekan lalu untuk membahas warisan dari Eric.
"Ia adalah orang yang sangat bijaksana dan ia tidak menginginkan banyak publisitas mengenai sikapnya," kata Denise seperti dikutip media France 3.
"Hanya sedikit hal yang diketahui tentang sumbangan ini, tapi kami melakukan beberapa penelitian."
Menurut penelitian tersebut, keluarga Eric Schwam berasal dari Wina, dan ayahnya adalah seorang dokter.
Baca Juga: Tentara AS Reuni dengan Bocah yang Nyaris Ia Tembak Saat Perang Dunia II
Ia tiba di kota itu pada tahun 1943 bersama orang tua dan neneknya. Tak diketahui, bagaimana keluarga pengungsi ini bisa sampai di sana.
Namun mereka sebelumnya ditahan di kamp Rivesaltes, sebuah fasilitas militer di Prancis selatan yang digunakan untuk menampung warga sipil, sebelum ditutup pada tahun 1942.
Catatan menunjukkan orang tua Eric kembali ke Austria setelah perang tetapi ia pindah ke Lyon pada tahun 1950 untuk belajar ilmu farmasi.
Di sanalah ia bertemu, menikah dan tinggal bersama istrinya. Menurut laporan dari daerah setempat, pasangan itu tidak memiliki anak dan Eric tetap menduda setelah istrinya meninggal, sampai ia sendiri meninggal pada 25 Desember.
Walikota Jean-Michel Eyraud mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa warisan dari Eric akan digunakan untuk mendanai pendidikan dan berbagai program untuk anak-anak muda.
Le Chambon-sur-Lignon hanya berpenduduk sekitar 2.500 orang tetapi memiliki reputasi sebagai tempat perlindungan bagi mereka yang berasal dari kaum Huguenot Protestan Prancis yang melarikan diri dari persekusi agama selama abad ke-17.
Selama Perang Dunia II, seorang pendeta dan istrinya di wilayah itu memimpin seruan untuk melindungi pengungsi Yahudi dari pendudukan Nazi dan kelompok pendukungnya Prancis Vichy.
Kabar menyebar dari mulut ke mulut melalui kelompok-kelompok hak asasi manusia dan desa tersebut menjadi pusat gerakan perlawanan. Penduduk desa itu biasa menampung dan menyembunyikan mereka yang melarikan diri.
Le Chambon-sur-Lignon kemudian diakui oleh Israel atas usaha perlindungan luar biasa ini.
Berita Terkait
-
Sesi Potret Erling Haaland Jelang Piala Dunia 2026 Panen Kritik Dianggap Fasis dan Neo Nazi
-
Ancaman Belum Usai! Mortir dan Amunisi Aktif PD II Ditemukan di Lokasi Ledakan Maut Biak
-
Jojo Rabbit: Ketika Komedi Gelap Membedah Kengerian Perang Dunia II
-
Bom Sisa Perang Dunia II Meledak di Biak, 5 Tewas dan 3 Hilang
-
Simbol Nazi dan Pesan Anti-Islam Ditemukan di Mobil Pelaku Penembakan Masjid San Diego
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
AI Digadang-gadang Mampu Kurangi Emisi Karbon, Benarkah?
-
Stop Stigma Anti-Negara! Kritik Bukan Ancaman, Semua Presiden Wajib Tunduk pada Konstitusi!
-
Benarkah Demo Mahasiswa Ditunggangi? Ini Alasan Mengapa PDIP Dicurigai
-
Wamensos Apresiasi Dukungan ESQ Group untuk Pendidikan dan Karier Siswa Sekolah Rakyat
-
Sekolah Rakyat Ubah Jalan Hidup Aldo, Mantan Tukang Las Kini Punya Impian ke Negeri Sakura
-
Bupati Kediri Apresiasi Capaian Siswa Sekolah Rakyat dalam Open House 2026
-
Rano Karno Janji Tuntaskan Banjir Abadi Joglo: Jalan Ambles Aja Kita Perbaiki
-
Washington D.C. Kalah, Jakarta Masuk Peringkat 53 Kota Terbaik Dunia
-
Gaya Dasco Hadapi Aksi Mahasiswa Dipuji, Peneliti: Dobrak Eksklusivitas Senayan
-
Polisi Tangkap 4 Terduga Pelaku Terkait Tewasnya Dua Pria di Saluran Air Bekasi