Suara.com - Militer Jerman Bundeswehr menggelar acara tradisional "Grosser Zapfenstreich" sebagai penghormatan terhadap Angela Merkel, yang meninggalkan panggung politik setelah 16 tahun memimpin Jerman.
Dengan upacara obor "Grosser Zapfenstreich", militer Jerman Bundeswehr mengucapkan selamat berpisah kepada Kanselir Angela Merkel, Kamis malam (2/12).
Upacara penghormatan militer tertinggi ini sudah menjadi tradisi perpisahan bagi para kanselir dan presiden Jerman.
Dalam pidato singkat, Angela Merkel berterima kasih kepada warga dan penduduk Jerman dan meminta mereka untuk menjalani kehidupan dengan "hati lapang" dan optimis tentang masa depan negara mereka.
Dia sendiri meninggalkan panggung politik dengan hati lapang. Dia juga menekankan pentingnya perjuangan untuk mempertahankan demokrasi dan kemanusiaan.
"Enam belas tahun sebagai kanselir Jerman, penuh dengan peristiwa yang seringkali sangat menantang - secara politik dan sebagai manusia," kata Merkel.
Berbagai krisis yang dihadapi telah menunjukkan pentingnya kerja sama internasional untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi dunia.
"Kredibilitas dan pengetahuan penting untuk demokrasi"
Dalam pidatonya Angela Merkel selanjutnya mengatakan: "Khususnya dua tahun terakhir pandemi ini" telah menunjukkan "betapa pentingnya kepercayaan pada para pemimpin politik, sains, dan wacana publik."
Baca Juga: Siapa Olaf Scholz, Bakal Kanselir Pengganti Angela Merkel?
Demokrasi, kata Merkel, juga didasarkan pada kepercayaan, dan "pada solidaritas, pada mendengarkan satu sama lain, dan juga pada fakta."
"Saya ingin mendorong Anda di masa depan untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain juga,” tutupnya.
Merkel adalah kanselir perempuan pertama Jerman, dan pemimpin pertama yang muncul dari bekas Jerman Timur.
Upacara penghormatan militer "Grosser Zapfenstreich" adalah upacara kenegaraan yang berlangsung sekitar 20 menit dan melibatkan orkestra drum Bundeswehr, dan berasal dari tradisi militer Prusia.
Di era pasca perang upacara ini kemudian menjadi upacara perpisahan para pemimpin Jerman, dengan lokasi dan tiga lagu pertama yang mereka pilih.
Memilih lokasi bersejarah Helmut Kohl, kanselir Jerman 1982 hingga 1998, memilih Katedral Speyer di negara bagian Rheinland Pfalz, daerah kelahirannya, sebagai lokasi acara.
Kanselir Sosial Demokrat dari tahun 1998 hingga 2005, Gerhard Schröder, memilih untuk mengadakan upacara itu di kampung halamannya di Hannover.
Angela Merkel memilih tempat bersejarah untuk acara tersebut: kompleks Blok Bendler milik Kementerian Pertahanan di Berlin.
Tempat ini dulunya dibangun sebagai kantor untuk Angkatan Laut Kekaisaran Jerman pada tahun 1914, kemudian menjadi salah satu markas Nazi.
Sekelompok perwira Jerman di bawah komando Claus Schenk Graf von Stauffenberg pada 20 Juli 1944 berusaha untuk membunuh Adolf Hitler dengan bom, namun usaha itu gagal.
Para pemimpin konspirasi kemudian dieksekusi di halaman Blok Bendler. Sejak 1993, kompleks ini menjadi bagian dari Kementerian Pertahanan Federal Jerman.
Setelah memainkan lagu kebangsaan Jerman, para prajurit menabuh genderang untuk mengucapkan selamat berpisah kepada Angela Merkel, yang menandai akhir sebuah era dalam sejarah pasca perang Jerman.
Yang menjadi sorotan media adalah lagu-lagu pilihan Merkel untuk dimainkan orkestra drum Bundeswehr. Terutama lagu dari penyanyi punk asal Jerman Timur, Nina Hagen, yang kata Merkel mengingatkan dia pada masa mudanya. Lagu ini adalah "highlight masa remajaku", kata Merkel kepada wartawan.
Selama masa sekolah, Merkel memang sempat bekerja di bar dan diskotik untuk mendapat uang saku. hp/vlz (dpa, ap, afp)
Berita Terkait
-
Dedi Mulyadi Jemput 13 Korban LC di NTT, Pastikan Proses Hukum Tetap Berlanjut!
-
Viral Pernyataan Influencer Cut Rizki Sebut Sahur Ganggu Jam Tidur, Langsung Tuai Kritik Pedas
-
Jadi Tren Baju Lebaran 2026, Ini Asal Usul Gamis Bini Orang yang Ramai Diburu
-
Debut di Posisi Baru, Ini Kata-kata Dion Markx Usai Jalani Laga Perdana Bersama Persib
-
Soal Alumni LPDP Ogah Anaknya Jadi WNI, Ketua Komisi X: Alarm Sosial dan Ujian Komitmen Kebangsaan
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Desa di Kebumen Ini Ubah Limbah Jadi Rupiah
Pilihan
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
-
Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
Terkini
-
Cak Imin Pastikan Bantuan BPJS Tepat Sasaran, Masyarakat Miskin Tetap Bisa Berobat
-
Komisi XII DPR Minta ESDM Hitung Akurat Kebutuhan Energi Ramadan-Lebaran: Jangan Ada Kurang Pasokan
-
Seorang Pemotor Tewas Usai Tertemper Kereta Bandara di Perlintasan Kalideres Jakbar
-
Komisi III DPR Beri Deadline 1 Bulan ke Kapolri, Ambil Alih dan Sikat Habis Oknum Polisi Bermasalah!
-
Sekretaris Eks Mendikbudristek Sebut Nadiem Makarim Larang Rekam Semua Rapat Daring
-
Saksi Sebut Nadiem Makarim Transfer ke 5 Stafsus Pakai Uang Pribadi
-
Bikin Publik Kecewa, Dasco Langsung Minta Pemerintah 'Rem' Rencana Impor 105 Ribu Mobil dari India!
-
Dedi Mulyadi Jemput 13 Korban LC di NTT, Pastikan Proses Hukum Tetap Berlanjut!
-
Soal Alumni LPDP Ogah Anaknya Jadi WNI, Ketua Komisi X: Alarm Sosial dan Ujian Komitmen Kebangsaan
-
Menteri PPPA Minta Hukum Transparan Bagi Oknum Brimob Penganiaya Anak di Tual