Pada potongan video yang beredar di Twitter baru-baru ini, Sharma menyebut seorang panelis "munafik dan pembohong" serta meminta agar dia "tutup mulut".
Ketika dia membagikan klip video itu kepada para pendukungnya melalui akun Twitter--Perdana Menteri Narendra Modi salah satu di antara setengah juta pengikutnya--penyokongnya memuji Sharma dengan sebutan "singa betina, pejuang tangguh dan tak kenal takut".
Namun, sikap Sharma sama sekali berbeda setelah didepak BJP. Sharma menulis bahwa dirinya menarik pernyataannya "tanpa syarat". Meski demikian, dia berdalih bahwa komentarnya dilontarkan sebagai respons atas "hinaan terus-menerus terhadap dewa umat Hindu, Shiva".
Apa latar belakang ujaran Sharma soal Nabi Muhammad?
Komentar Sharma soal Nabi Muhammad dilontarkan dalam perdebatan kasus Masjid Gyanvapi.
Kasus itu mengemuka ketika sejumlah umat Hindu mengklaim bahwa masjid di kota suci Varanasi dibangun di atas reruntuhan kuil Hindu dari abad ke-16 yang dihancurkan Kaisar Mughal Aurangzeb pada 1669. Atas dasar itu, ada umat HIndu yang meminta izin kepada pengadilan untuk beribadah di kompleks masjid tersebut.
Pengadilan kemudian mengeluarkan perintah kontroversial yang memperbolehkan survei menggunakan rekaman video di masjid. Rekaman video disebut-sebut menampilkan pilar batu yang diklaim para pengaju petisi sebagai Sivalinga atau simbol Dewa Shiva. Namun, pihak masjid berkeras itu adalah air mancur.
Silang pendapat ini digelar di pengadilan, namun perdebatan serupa juga berlangsung tanpa henti di televisi. Sharma berada di kubu nasionalis Hindu yang melontarkan pendapatnya secara blak-blakan.
Pada 27 Mei, komentarnya soal Nabi Muhammad dianggap banyak pihak sudah keterlaluan.
Baca Juga: 5 Fakta Aksi Politikus India Hina Nabi Muhammad, Langsung Dipecat Partainya
Kecaman bermunculan, akhir karier Nupur Sharma?
Setelah wartawan dan pemeriksa fakta, Mohammed Zubair, membagikan klip video pernyataan Sharma soal Nabi Muhammad ke Twitter, Sharma mencuit kepada Kepolisian Delhi. Dalam cuitan itu, dia mengaku "dibombardir dengan ancaman pemerkosaan, pembunuhan, dan pemenggalan terhadap adik perempuan, ibu, ayah, dan saya sendiri".
Sharma menuding Zubair "memicu narasi palsu untuk meracuni atmosfer, menimbulkan ketidakselarasan komunal dan menargetkan kebencian terhadap saya dan keluarga saya".
Pada cuitan itu, dia turut menambahkan PM Modi, Menteri Dalam Negeri Amit Shah, dan Ketua BJP, JP Nadda.
Tiga hari kemudian, dia mengatakan kepada pewawancara bahwa "kantor perdana menteri, kantor kementerian dalam negeri, dan kantor pimpinan partai berada di belakang mendukung saya".
Masalah mulai meruncing pada Jumat (03/06) ketika sebuah aksi protes umat Muslim di Kanpur, kota di Negara Bagian Uttar Pradesh, berubah menjadi aksi kekerasan.
Akan tetapi, Sharma dan BJP tidak lagi bisa berkutik setelah negara-negara di Timur Tengah mengecam pernyataan Sharma. Kuwait, Iran, dan Qatar memanggil duta besar India.
Kemudian Arab Saudi merilis pernyataan keras. Bahkan Uni Emirat Arab yang berhubungan baik dengan India, mengkritik komentar Sharma.
Dalam beberapa hari terakhir, tuntutan agar Sharma ditangkap atas "komentar yang menghujat" semakin kencang. Kepolisian di sejumlah negara bagian yang dikuasai oposisi juga menggelar penyelidikan terhadapnya.
Pada Selasa (07/06), Kepolisian Delhi memperketat pengamanan terhadap Sharma dengan alasan bahwa dia diancam oleh sebuah kelompok militan.
Namun, sejak Sharma didepak, dukungan terhadapnya berkembang. Tagar seperti #ISupportNupurSharma dan #TakeBackNupurSharma menjadi tren di media sosial dengan puluhan ribu warganet India menyanjungnya.
Beberapa pengamat politik juga menyindir bahwa banyak politisi top India bisa lolos setelah melontarkan ujaran kebencian. Artinya, kontroversi ini mungkin bukan akhir dari karier politik Shrma. (Sumber: BBC)
Berita Terkait
-
5 Film Terbaik Sonam Kapoor, Artis India yang Ulang Tahun Ke-37 Tahun
-
Efek Kasus Penghinaan Nabi Muhammad, Pusat Perbelanjaan Kuwait Boikot Produk India
-
Umat Islam dan Hindu di India Berpotensi Dibenturkan Gara-gara 'Mulutnya' Politikus
-
Buntut Panjang Nupur Sharma Hina Nabi Muhammad, Beredar Surat Peringatan Serangan Gerilyawan Islam di India
-
Kasus Penghinaan Nabi Muhammad, Partai Bharatiya Janata Instruksikan Pejabatnya Berhati-hati saat Berbicara
Terpopuler
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
- Kunjungi Korban Gempa di NTT Hari Ini, Gus Miftah Gelontorkan Bantuan Rp500 Juta
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Unsoed Buka Suara Soal OTT KPK, Pastikan Tak Ada Kekosongan Kepemimpinan di Rektorat
-
BI Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Transformasi Digital, Andalkan e-Farming hingga QRIS
-
Nekat Jualan Dekat Masjid, Toko Miras di Blitar Akhirnya Digembok
-
Ulasan Dan Bandung: Adaptasi Novel Pidi Baiq yang Sukses Menguras Air Mata
-
Botok Aktivis Pati Balas Bamus Betawi: Urusan Kami dengan Pejabat Ruwet, Bukan Warga Jakarta
-
Terjaring OTT KPK, Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq Punya Tanah dan Bangunan Rp2,5 Miliar!
-
Mekaar InspirAksi, Kolaborasi Nasabah dan Karyawan PNM Perluas Dampak Pemberdayaan
-
Sering Dianggap Sama, Ini 5 Perbedaan Freckles Alami vs Sunspots Flek Penuaan
-
Sindir Pramono? Maruarar Tanya Lokasi Rumah Kumuh di Jakarta, Mau Diperbaiki Prabowo
-
Bikin Skill Jadi Cuan: 5 Side Hustle yang Cocok untuk Mahasiswa dan Pekerja Muda