Suara.com - Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai NasDem, Willy Aditya menyoroti soal potensi polarisasi jelang Pilpres 2024 yang masih kuat. Hal ini disebutnya disebabkan karena rekonsiliasi pasca-pilpres 2019 yang hanya terjadi di kalangan elite saja.
Menurut Willy, usai Pilpres 2019 perpecahan masih terjadi di kalangan masyarakat kelas bawah. Bahkan, ada pihak yang diduga sengaja menyuarakan politik identitas agar masyarakat tak bisa bersatu.
Hal ini ia sampaikan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema Common Project Rekonsiliasi dan Reintegrasi Nasional di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta yang digelar oleh organisasi guru besar dan akademia se-Indonesia, Forum 2045.
“Saya kira kita semua telah alpa usai Pilpres 2019 kemarin. Rekonsiliasi pasca Pilpres lalu hanya dibangun di level elit dan di level bawahnya terabaikan. Inilah yang menyebabkan potensi polarisasi masih kuat. Apalagi, sepertinya ada yang terus mengorkestrasi sentimen politik identitas, terutama di medsos,” ujar Willy kepada wartawan, Senin (16/11/2022).
Menurut Willy, dibutuhkan upaya serta iktikad yang kuat dari para pelaku politik untuk mencegah berlanjutnya keterbelahan seperti di tahun-tahun sebelumnya.
Karena itu, ia menilai Indonesia saat ini memerlukan sosok negarawan, yaitu kalangan yang senantiasa mengorientasikan semangat persatuan saat memegang kendali kekuasaan.
”Beda dengan politisi, negarawan percaya dengan political obligation (kewajiban politik) bahwa saat mereka berkuasa, proyek persatuan nasional dalam bentuk rekonsiliasi harus dipastikan berjalan,” ucap Willy.
Ketua Forum 2045 Untoro Hariadi mengatakan, pergelaran Pilpres 2014 dan 2019 masih menyisakan residu politik yang membelah masyarakat secara tajam. Bahkan, setelah bergabungnya Prabowo Subianto dalam Pemerintahan Jokowi-Maruf Amin, ternyata tidak menyatukan publik dalam kerjasama yang produktif.
Fakta itu mengindikasikan belum adanya upaya serius dari berbagai kalangan untuk merajut persatuan bangsa yang terkoyak oleh perkubuan politik.
Baca Juga: Nasdem Minta Pertemuan Anies dan Gibran Harus Dicontoh Semua Politisi
"Rekonsiliasi dan reintegrasi penting untuk digaungkan dalam upaya menjaga eksistensi negara-bangsa yang kita cintai dari potensi perpecahan, pengkerdilan budaya dan involusi kebangsaan,” ucap Untoro.
Menurut Untoro, ajakan rekonsiliasi dan reintegrasi bangsa sangat relevan mengingat kehidupan politik Indonesia secara umum masih belum beranjak dari kebanalan dan pragmatisme. Ajakan tersebut juga bermanfaat sebagai antisipasi menjelang Pemilu dan Pilpres 2024 mendatang yang rentan dengan kemunculan politik identitas.
“Literasi yang rendah dan daya kritis yang tumpul di tingkat akar rumputnya dapat disulut menjadi kayu bakar konflik, dengan api yang bernama populisme. Dalam situasi semacam itu, isu politik identitas dapat dimainkan untuk kepentingan kekuasaan, tanpa memperhitungkan dampaknya bagi bangunan kebangsaan kita,” ujar dia.
Berita Terkait
-
Said Abdullah Menuding Anies Hanya Mencari Keuntungan Politik: Tidak Ada Hubungannya dengan Gibran
-
Nasdem Minta Pertemuan Anies dan Gibran Harus Dicontoh Semua Politisi
-
Dipertanyakan PDIP, Pertemuan Gibran dengan Anies Baswedan Justru Dipuji Petinggi Partai Nasdem
-
Temui Gibran di Solo, Anies Baswedan: Tidak Ada Obrolan Khusus, Hanya Silaturahmi Saja
-
Tuding Anies Baswedan Bakal Gunakan Politisasi Agama Islam di Pilpres 2024, Ade Armando: Ancaman Nyata Bagi Indonesia!
Terpopuler
- Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 12 Ikan Hias Pembawa Keberuntungan Menurut Feng Shui, Cocok untuk Akuarium di Rumah
- Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Tegas Sistem Empat Bek Lebih Cocok
- Mau Terlihat Lebih Muda? Ini 5 Pilihan Warna Lipstik yang Bisa Dicoba
Pilihan
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
Terkini
-
Layanan Kesehatan NTT Dikebut Pulih Usai Gempa M7,7, RS Mobil Dikirim ke Nagekeo
-
Nekat Menambang Sembunyi-sembunyi, 5 Warga Tewas Tertimbun Longsor di Pohuwato
-
Ada Skenario BI dan BRICS yang Disiapkan untuk Mengubah Peta Ekonomi Dunia
-
Jakarta Hampir 3 Pekan Tak Hujan, Modifikasi Cuaca Terkendala Minim Awan
-
Tecno Pova 8 Pro 5G Resmi Meluncur: Bawa Layar 144Hz, Dimensity 7400 Ultimate, dan Baterai 6.500 mAh
-
Awas! Pengelola SPPG Bisa Dijerat Pasal Berlapis Jika Menu MBG Bikin Keracunan
-
Duka NTT, Gempa M7,7 Tewaskan 47 Orang dan Paksa 5.000 Warga Mengungsi
-
Pasar Saham Pekan Ini Variatif, Kapitalisasi BEI Naik tapi Transaksi dan Volume Melemah
-
Hampir Semua Layanan Publik di Jakarta Kini Gratis, Warga Diminta Ikut Awasi
-
Apakah Boleh Cuci Muka Pakai Air Hangat saat Mandi? Ini Penjelasannya