Suara.com - "Mengadili, menyatakan terdakwa Ferdy Sambo, SH, SIK, MH telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana turut serta melakukan pembunuhan berencana dan tanpa hak melakukan tindakan yang berakibat sistem elektronik tidak bekerja sebagaimana mestinya yang dilakukan secara bersama-sama. Menjatuhkan pidana kepada terdakwa tersebut, oleh karena itu, dengan pidana mati."
SORAK sorai di dalam ruang sidang bergema setelah Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (Jaksel) Wahyu Imam Santoso mengetukan palu di ruang pengadilan usai membacakan amar putusan terhadap terpidana Ferdy Sambo pada Senin (13/2/2023) sore.
Ferdy Sambo yang mendengarkan amar putusan Majelis Hakim PN Jaksel tampak tegak berdiri sambil mengepalkan tangan. Mengenakan kemeja putih dengan mengenakan masker hitam dan kacamata, Sambo akhirnya dipersilakan duduk kembali.
Setelah diminta duduk kembali di kursi pesakitan, Sambo terlihat beberapa kali mengedipkan mata.
"Demikian para pihak, baik penuntut umum, maupun penasihat umum, maupun terdakwa mempunyai hak untuk mengajukan upaya hukum. Demikianlah putusan telah dibacakan sidang perkara 796/Pid.B/2022 atas nama terdakwa Ferdy Sambo dinyatakan tertutup," sambungnya.
Usai tutup sidang, Ferdy Sambo bergegas menghampiri kuasa hukumnya, Arman Hanis. Sesaat ia nampak berdiskusi dengan Arman juga Rasamala Aritonang dan tim kuasa hukum yang lain.
Tak berselang lama, Ferdy Sambo keluar dari ruang sidang. Namun tak ada sepatah kata pun yang keluar dari Mantan Kadiv Propam Polri itu. Setelah memakai kembali rompi tahanan, Ferdy dikawal dikawal pasukan bersenjata keluar dari PN Jakarta Selatan.
Keramaian atas putusan hakim tersebut menimbulkan euforia di area Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel). Putusan hakim tersebut dianggap menyuarakan rasa keadilan di publik. Bahkan di luar ruang persidangan, ibu Brigadir Yosua menangis haru atas vonis tersebut.
"Tetesan darah anakku, darah anakku yang bergelimang, ampuni lah kami, Tuhan menyatakan keajaibannya. Saya yakin kepada hakim, hakim, karena hakim. Tuhan, semoga hakim lurus tegakan pengadilan persidangan semoga ini nanti," ujarnya.
Putusan Hakim Diapresiasi
Keputusan hakim dalam persidangan yang memutuskan vonis mati untuk Ferdy Sambo dinilai sudah mencerminkan rasa keadilan dalam masyarakat. Bahkan, Menko Polhukam Mahfud MD dalam akun Twitter-nya @mohmahfudmd menyampaikan pernyataannya.
Cuitannya tersebut diunggah setelah putusan mati Ferdy Sambo disampaikan majelis hakim.
"Peristiwanya memang pembunuhan berencana yang kejam. Pembuktian oleh jaksa penuntut umum memang nyaris sempurna. Para pembelanya lebih banyak mendramatisasi fakta. Hakimnya bagus, independen, dan tanpa beban. Makanya vonisnya sesuai dgn rasa keadilan publik. Sambo dijatuhi hukuman hati," tulisnya dalam cuitan.
Sementara itu Presiden Jokowi juga mengungkapkan pendapatnya terkait putusan hakim terhadap Ferdy Sambo. Menurutnya keputusan hakim tersebut, baik soal vonis mati hingga 1,5 tahun penjara untuk Richard Eliezer sudah mempertimbangkan fakta-fakta yang ada.
"Tetapi saya kira keputusan yang ada saya melihat pertimbangan fakta-fakta, pertimbangan bukti-bukti. Saya kira kesaksian dari para saksi itu menjadi penting dalam keputusan yang kemarin, saya lihat," katanya, baru-baru ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 2 Juli 2026, Ada Kuda hingga Anjing
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Anak Disabilitas Psikososial Alami Hambatan di Sekolah, Apa yang Salah?
-
Dugaan Intimidasi Dokter Icha Dilakukan 3-4 Orang, Hasil Investigasi Diserahkan ke Polisi
-
Kemenkes Soroti Lemahnya Sistem Perlindungan Nakes usai Dugaan Intimidasi dr. Icha
-
Tarif Transjakarta Diusul Rp 5.000, Transjabodetabek Rp 10.000
-
Bukan yang Pertama! Polisi Duga Ada Korban Penyekapan Lain di Percetakan Senen
-
Dicap 'Lembek' Kritik Pemerintah, Said Didu: Saya Bukan Terwo!
-
Usai Minta Maaf, Om Zein Diminta Komnas Perempuan Perbaiki Cara Pandang soal Perempuan
-
Dulu Kontraktor Kini 'Gelandangan', Kisah Jafar Ali Setahun Bertahan di Trotoar Depan UNHCR
-
Menhut Raja Juli Soal Pertemuan dengan Bupati Kuansing: Amplop Dikembalikan, Tak Ada Pelepasan Hutan
-
Ibu Hamil Tewas Tertembak di Papua, DPR Minta Diusut Transparan