Suara.com - Gencatan senjata antara Hizbullah Lebanon dan Israel yang ditengahi oleh Amerika Serikat diharapkan akan dilaksanakan sepenuhnya pada batas waktu yang ditetapkan akhir bulan ini. Kesepakatan yang dimediasi oleh pemerintahan Biden itu mengharuskan Israel menarik pasukannya dari Lebanon dalam waktu 60 hari sejak perjanjian awal pada 26 November 2024.
Pasukan Israel akan digantikan oleh Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF), sementara Hizbullah diwajibkan menarik pejuang dan senjatanya sejauh 20 mil dari perbatasan dengan Israel, di utara Sungai Litani.
Dengan berakhirnya batas waktu perjanjian pada 26 Januari 2025, Amerika Serikat mengumumkan bahwa perpanjangan gencatan senjata sementara diperlukan untuk memastikan Hizbullah tidak dapat mengancam rakyat Lebanon maupun negara-negara tetangganya. Washington pun menetapkan batas waktu baru pada 18 Februari 2025.
Selama kunjungannya ke Beirut pekan lalu, Wakil Utusan Khusus Presiden untuk Perdamaian Timur Tengah, Morgan Ortagus, menegaskan bahwa AS tetap sangat berkomitmen pada tenggat waktu tersebut.
Namun, laporan terbaru pada Senin lalu mengindikasikan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, tengah mencari kemungkinan perpanjangan tambahan dari tenggat waktu yang telah ditetapkan.
Meski demikian, Gedung Putih menyatakan bahwa Israel belum secara resmi mengajukan permintaan perpanjangan kedua. Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional AS, Brain Hughes, menegaskan bahwa penarikan pasukan Israel tetap sesuai jadwal dan tidak ada permintaan perpanjangan dari pihak Israel.
Sementara itu, pejabat di Beirut memperingatkan bahwa kegagalan Israel untuk menarik diri sebelum tenggat waktu akan menguntungkan Hizbullah. Washington pun mempertahankan sikap tegasnya, khawatir konflik baru dapat meletus antara Hizbullah yang didukung Iran dan Israel yang didukung AS.
Sumber yang mengetahui intelijen AS mengungkapkan bahwa pengerahan LAF di sepanjang perbatasan dengan Israel telah meningkat secara signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
Sebagai bagian dari peningkatan pengerahan pasukan yang sejalan dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, LAF diperkirakan akan menerima bantuan dari negara-negara Arab dalam beberapa minggu ke depan.
Baca Juga: Israel Langgar Gencatan Senjata, Hamas Hentikan Pembebasan Sandera
Bantuan ini mencakup truk serbaguna untuk pengamanan perbatasan. Sejak 2006, AS telah menjadi pendukung utama LAF dengan memberikan bantuan lebih dari $2 miliar.
Dominasi Hizbullah di Lebanon serta keterlibatannya dalam perang Yaman untuk mendukung Houthi sebelumnya telah menggagalkan paket bantuan Saudi senilai $3 miliar pada tahun 2016, yang awalnya diperuntukkan bagi LAF dan Pasukan Keamanan Dalam Negeri (ISF).
Namun, setelah kekalahan militer Israel atas Hizbullah tahun lalu, terpilihnya presiden baru di Lebanon bulan lalu, dan pembentukan pemerintahan baru pada Sabtu lalu, masyarakat internasional kembali menunjukkan minatnya untuk mendukung Lebanon.
Menurut laporan Bloomberg, obligasi berdenominasi dolar Lebanon mencapai level tertinggi sejak Maret 2020 minggu ini. Setiap potensi pertempuran atau perang baru dapat mendorong negara yang telah lama bergulat dengan korupsi, ketidakstabilan keuangan, dan isolasi diplomatik akibat Hizbullah, semakin dekat ke jurang kehancuran total.
Berita Terkait
-
Israel Langgar Gencatan Senjata, Hamas Hentikan Pembebasan Sandera
-
Bus Berusia 30 Tahun Terjun ke Jurang, 55 Nyawa Melayang
-
Kontroversi Rencana Donald Trump: Usulkan Pemindahan Warga Palestina dari Gaza Secara Permanen
-
Bangkrut, Quiksilver dan Billabong Bakal Tutup Seluruh Gerai di AS
-
Israel Lancarkan Serangan Brutal di Kamp Pengungsi Nur Shams
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Kisah BGS: Merdeka dari Balik Jeruji, Bawa 'Ilmu' Ternak Ayam dari Penjara untuk Mulai Hidup Baru
-
Diskon di Miniso Karawaci Khusus HUT RI ke-81 dari BRI, Ini Cara Klaimnya
-
Jemuran Bikin Resah, 27 Pakaian Dalam Warga Tuban Raib Dicuri
-
Bukan Sekadar Lomba, Pesta Rakyat Trindo Residence Jadi Modal Sosial Kekompakan Warga
-
Tagih Pesangon dan THR, Eks Karyawan PT Sritex Upacara Bendera di Depan Pabrik
-
Tawa dan Harapan di Balik Tembok Tinggi: Potret Kemeriahan HUT ke-81 RI di Lapas Salemba
-
Replika Gajah Raksasa Semarakkan Karnaval HUT ke-81 RI di Kota Banjar
-
Buku Gramedia Diskon 25 Persen Pakai BRI, Ini Syaratnya
-
IHSG Bisa Kembali Terbang Besok, Saham-saham Ini Bisa Dilirik
-
Unjuk Rasa hingga Saling Dorong,Mahasiswa Papua Sebut Kolonialisme Masih Tumbuh