Suara.com - Di tengah riuh rendah perayaan kemerdekaan, kata "merdeka" sering kali terdengar agung dan kompleks. Namun, di sebuah sekolah sederhana di Bambu Apus, Jakarta Timur, makna kemerdekaan justru terdengar begitu jernih, tulus, dan penuh harapan dari suara anak-anak Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 6 Jakarta, Sentra Handayani.
Bagi mereka, kemerdekaan bukanlah sekadar teks proklamasi atau cerita perang di buku sejarah. Merdeka adalah ruang kelas tempat mereka belajar, seragam yang mereka kenakan dengan bangga, dan kanvas kosong untuk melukis cita-cita setinggi langit.
Di sudut sekolah, Aina Faida Azmi, atau akrab disapa Ifa, menyuarakan makna kemerdekaan dengan mata berbinar. Baginya, merdeka adalah hak paling mendasar yang ia syukuri setiap hari; kesempatan untuk bisa belajar.
“Merdeka itu bisa belajar. Aku suka belajar biar pintar. Aku suka belajar olahraga dan menggambar,” ujar Ifa penuh semangat saat ditemui Suara.com beberapa waktu lalu.
Di benaknya, pahlawan yang paling berjasa atas kemerdekaannya untuk bersekolah adalah RA Kartini. Polos, ia membayangkan jika bisa bertemu langsung dengan sang pelopor emansipasi itu.
“Mau bilang terima kasih aja ke RA Kartini karena udah ngebantu para perempuan bisa sekolah,” katanya tulus.
Dari rasa terima kasih itu, lahir sebuah cita-cita mulia. Ifa tidak ingin kemewahan belajar ini hanya ia rasakan sendiri. Ia bermimpi, suatu saat nanti, semua anak Indonesia bisa merasakan hal yang sama.
“Aku pengen semua sekolah gratis, jadi semua anak bisa sekolah, ngerasain hal yang sama, gak beda-beda gitu,” ucapnya sambil tersenyum.
Lain lagi dengan Fauza Kamila. Di usianya yang belia, ia memaknai kemerdekaan sebagai sebuah perjuangan kolektif. Baginya, merdeka terasa nyata saat ia dan teman-temannya bisa bergotong royong, membangun sesuatu bersama untuk kemajuan.
Baca Juga: Mencari Makna Merdeka di Tengah Gelombang PHK Media
Kekagumannya tertuju pada sosok pahlawan revolusi, Pierre Tendean. Bukan sekadar nama, Fauza ingin menyelami jiwa sang pahlawan.
“Aku pengen dengar gimana rasanya jadi pahlawan yang bela negara dengan tidak patah semangat. Terus aku pengen dengar juga gimana caranya jadi pahlawan yang bermakna bagi negara,” ujarnya dengan sorot mata serius.
Inspirasi itu tak berhenti di angan-angan. Fauza telah memantapkan langkahnya untuk mengikuti jejak sang pahlawan dengan caranya sendiri. Ia ingin mengabdi, menjaga kemerdekaan yang telah direbut dengan darah.
“Kalau aku udah lulus SMA atau SMK, aku mau daftar Kopassus. Insyaallah lulus,” ucapnya.
Sementara itu, Azka punya pandangan yang tak kalah unik. Setiap kali mendengar kata "merdeka", memorinya langsung tertuju pada keriuhan lomba 17 Agustus-an di kampungnya.
“Merdeka itu harus selalu ikut lomba. Kalau di rumah selalu ikut lomba tangkap belut,” katanya sambil tertawa lepas, menunjukkan sisi kemerdekaan yang penuh suka cita.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
Terkini
-
Hakim Sebut Pengadaan Chromebook Nadiem Demi Keuntungan Google
-
Duduk Perkara Ultimatum Prabowo soal Demo Bayaran: Benarkah Ditunggangi dan Siapa Dalangnya?
-
Siap Adu Ahli! Polda Metro Tunggu Langkah Roy Suryo di Sidang Praperadilan Ijazah Jokowi
-
Dihadirkan Besok, Roy Suryo Siapkan 'Saksi Kunci' untuk Patahkan Argumen Polda Metro
-
31 Perlintasan Liar Ditutup, Namun Kecelakaan Kereta di Daop 1 Jakarta Tetap Meningkat
-
2.596 Warga Klaten Dientaskan dari Kemiskinan, Siap Hidup Mandiri
-
Kemendagri Perluas Digitalisasi Bansos ke 43 Daerah, Targetnya Berlaku Nasional
-
Kejari Jaksel Sebut Gugatan Roy Suryo Salah Sasaran: Urusan Penangkapan Itu Domain Polisi!
-
Kuasa Hukum Roy Suryo Kritik Jawaban Polda Metro Jaya, Sebut Argumentasi Hukumnya Kacau
-
Mendikdasmen Abdul Mu'ti Ajak Siswa Biasakan Cek Komposisi dan Tanggal Kedaluwarsa Makanan