- Lebih dari 1.600 mantan karyawan PT Askes (kini BPJS Kesehatan) mendatangi Komisi IX DPR RI untuk memperjuangkan pencairan dana Jaminan Hari Tua (JHT)
- Para pensiunan terdesak oleh kebutuhan ekonomi yang mendesak, sementara BPJS Kesehatan menolak pencairan
- Terjadi perselisihan interpretasi aturan, di mana para pensiunan berpegang pada POJK dan ketentuan aplikasi BRImo yang memungkinkan pencairan
Suara.com - Suara jeritan para pensiunan menggema di Kompleks Parlemen Senayan. Ratusan mantan karyawan PT Askes, cikal bakal BPJS Kesehatan, terpaksa mengadukan nasib mereka ke Komisi IX DPR RI setelah upaya mencairkan dana Jaminan Hari Tua (JHT) yang menjadi hak mereka menemui jalan buntu.
Di usia senja yang seharusnya dinikmati dengan tenang, mereka justru dihadapkan pada kesulitan ekonomi yang semakin parah. Dana pensiun yang tersimpan di Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) BRI tak kunjung bisa dicairkan, tertahan oleh kebijakan manajemen BPJS Kesehatan.
"Kami menyampaikan masalah nasib teman-teman kami untuk proses pencairan dana DPLK BRI yang tertahan oleh kebijakan manajemen BPJS," ujar Syahrudin Sam Biya, Ketua Ikatan Karyawan Purna Bhakti Askes Gorontalo, dengan nada prihatin saat audiensi di Jakarta, Rabu (24/9/2025).
Menurut Syahrudin, ada lebih dari 1.600 mantan karyawan PT Askes di seluruh Indonesia yang nasibnya kini terkatung-katung, menanti kepastian pencairan dana yang sangat mereka butuhkan untuk menyambung hidup.
Alasan mereka mendesak pencairan ini sangat mendasar, perut. Kondisi ekonomi keluarga yang terus memburuk akibat pendapatan yang minim sementara harga kebutuhan pokok terus meroket membuat mereka tak punya pilihan lain.
Ditambah lagi, trauma skandal Jiwasraya di masa lalu membayangi benak mereka, menimbulkan kekhawatiran uang hasil jerih payah mereka selama puluhan tahun akan lenyap.
"Pendapatan minim, kebutuhan pokok sehari-hari terus meningkat yang berdampak pada ekonomi keluarga yang semakin memburuk. Trauma sengkarut Jiwasraya, hilangnya restitusi premi yang terkumpul," keluh Syahrudin sebagaimana dilansir Antara.
Berbagai cara telah ditempuh. Mereka sudah bertemu langsung dengan jajaran petinggi BPJS Kesehatan, termasuk Direktur Utama dan Dewan Pengawas, namun hasilnya nihil. Surat resmi yang dilayangkan pun hanya dibalas dengan jawaban birokratis yang tidak memberikan solusi.
Dalam surat balasan yang dibacakan Syahrudin di hadapan anggota dewan, BPJS Kesehatan berdalih bahwa program DPLK BRI merupakan kelanjutan dari program Anuitas Prima Jiwasraya. Keputusan ini, menurut BPJS, telah melalui kajian berbagai kementerian dan lembaga.
Baca Juga: Kriteria Penerima BSU BPJS Ketenagakerjaan, Benarkah Cair September-Oktober 2025?
BPJS Kesehatan bersikukuh bahwa usulan pencairan dana DPLK BRI harus tetap mengacu pada ketentuan keberlanjutan manfaat pensiun yang telah disepakati sebelumnya, bukan untuk dicairkan sekaligus.
Namun, para pensiunan ini memiliki argumen tandingan yang kuat. Mereka merujuk pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) dan ketentuan yang tertera jelas pada aplikasi perbankan BRImo, yang seharusnya memungkinkan mereka untuk mencairkan dana tersebut.
"Kami memohon apakah betul kami bisa mencairkan sesuai dengan peraturan POJK dan ketentuan yang berlaku di aplikasi BRImo?" tanya Syahrudin, menyuarakan kebingungan dan harapan ribuan rekannya kepada para wakil rakyat.
Berita Terkait
-
Kriteria Penerima BSU BPJS Ketenagakerjaan, Benarkah Cair September-Oktober 2025?
-
Jangan Sampai Bokek! Ini Cara Ampuh Atur Keuangan Agar Tak Jadi Korban Ketidakpastian Ekonomi
-
Merasa Terlindungi, Guru di Sukabumi Ceritakan Pengalaman Positif dengan JKN
-
Perlindungan Pekerja: Menaker Ingatkan Pengemudi ODOL Pentingnya BPJS Ketenagakerjaan
-
BPJS Ketenagakerjaan Laksanakan Pasar Budaya K3 di PT Kahatex, Implementasi dari Permenaker
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya
-
KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar
-
Gus Ipul Ajak SP2MI Ambil Peran di Program Sekolah Rakyat
-
19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati 'Todong' ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!
-
Riset Ungkap Skema Hibah dan Pinjaman Lunak Paling Efektif Danai PLTS Komunitas
-
Hari Pelaut Sedunia, Pelindo Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka
-
Prabowo Percepat Pengembangan Mobil Nasional hingga Farmasi, Kampus Diminta Kejar Kebutuhan SDM
-
Geledah Kantor BKP Sumsel, KPK Temukan Bukti Upaya Ubah Opini WTP Usai Bupati Muara Enim Kena OTT