- KPK memberi sinyal kuat akan memanggil kembali eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas
- Penyelidikan KPK berfokus pada kebijakan diskresi Kemenag yang membagi 20 ribu kuota tambahan dengan pola "50-50"
- Ditemukan sejumlah masalah akibat kebijakan tersebut, termasuk distribusi kuota yang tidak merata
Suara.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memberikan sinyal kuat akan kembali memanggil mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, dalam pusaran skandal dugaan korupsi kuota haji tambahan tahun 2024. Langkah ini diambil seiring makin dalamnya penyelidikan KPK terhadap kebijakan diskresi Kementerian Agama (Kemenag) yang membagi 20 ribu kuota ekstra secara kontroversial.
Nama Yaqut Cholil Qoumas kembali menjadi pusat perhatian setelah juru bicara KPK, Budi, mengisyaratkan kemungkinan pemeriksaan ulang terhadap mantan orang nomor satu di Kemenag tersebut. Hal ini diperlukan untuk melengkapi keterangan dari saksi-saksi lain yang telah diperiksa intensif oleh penyidik.
"Tentu dari pemeriksaan hari ini akan dianalisis nanti pihak-pihak mana saja yang dibutuhkan kembali untuk dipanggil dan dimintai keterangannya. Termasuk yang bersangkutan jika nanti memang dibutuhkan kembali keterangannya, maka nanti akan dipanggil oleh KPK untuk kembali dimintai keterangan, melengkapi keterangan-keterangan yang sudah diperoleh dari saksi-saksi lainnya," ucap Budi kepada wartawan, Selasa (7/10/2025).
Fokus utama penyidik saat ini adalah menelanjangi proses di balik lahirnya kebijakan diskresi yang membagi kuota tambahan dengan pola "50-50" antara jemaah haji reguler dan haji khusus.
KPK tengah menelaah apakah kebijakan ini murni inisiatif Kemenag di bawah kepemimpinan Yaqut, atau ada tekanan dan dorongan dari pihak lain, seperti asosiasi penyelenggara haji.
Untuk mendalami hal ini, KPK telah berulang kali memeriksa eks Bendahara Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (Amphuri), Tauhid Hamdi. Pemeriksaan berulang ini dilakukan untuk memetakan alur pengambilan keputusan sebelum diskresi tersebut ditetapkan.
"Apakah itu murni dari Kementerian Agama atau ada dorongan, ada inisiatif dari bawahnya, dari asosiasi atau dari PIHK," kata Budi.
Menurut KPK, kebijakan kuota tambahan ini melahirkan dampak besar dan membuka celah masalah serius bagi Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK). Distribusi kuota menjadi tidak merata, dan yang lebih parah, muncul dugaan adanya biro travel "siluman" tanpa izin yang bisa ikut memberangkatkan jemaah haji.
“Nah, oleh karena itu artinya itu pra-diskresi, itu didalami. Jika itu didalami terkait pasca adanya keputusan pembagian kuota, artinya bagaimana proses dan mekanisme distribusi dari kuota haji khusus tersebut. Mengingat asosiasi ini kan membawahi sejumlah PIHK atau Biro Travel," tutur Budi.
Baca Juga: Terbongkar! Sejumlah Biro Travel Ilegal Garap Haji Kuota Khusus, KPK Bidik Praktik Jual Beli Kuota
“Nah, ini pembagiannya seperti apa, pendistribusiannya? Termasuk tadi di lapangan ditemukan adanya Biro-Biro Travel yang tidak terdaftar tapi ternyata bisa menyelenggarakan ibadah haji," sambungnya.
Penyidik menemukan bahwa sistem pengelolaan kuota haji khusus selama ini sangat bergantung pada asosiasi. Asosiasi tidak hanya mengatur distribusi, tetapi juga mengendalikan sistem aplikasi yang digunakan untuk mengisi data jemaah, memesan logistik, hingga akomodasi di tanah suci.
Posisi asosiasi yang sangat sentral ini membuat mereka memiliki kekuatan besar dalam menentukan siapa saja biro travel yang bisa berangkat.
"Di mana soal distribusinya itu seperti apa, termasuk soal pelaksanaan ibadah haji. Di mana dalam pengisian di aplikasi itu kan usernya dikelola di asosiasi yang menaungi beberapa Biro Travel. Artinya apa, peran asosiasi ini memang cukup sentral dalam pelaksanaan ibadah haji dari kuota khusus ini," tambah Budi.
Berita Terkait
-
Usai Periksa Eks Bendahara Amphuri, KPK Pertimbangkan Panggil Gus Yaqut
-
Terbongkar! Sejumlah Biro Travel Ilegal Garap Haji Kuota Khusus, KPK Bidik Praktik Jual Beli Kuota
-
Bongkar Fakta Kuota Khusus Travel 'Abal-abal', KPK Usut soal Ini ke Asosiasi Biro Haji
-
Skandal Haji Kemenag: Travel 'Gelap' Bisa Dapat Jatah Kuota Khusus, Gimana Skenarionya?
-
-
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
Terkini
-
Nasib Pandji Pragiwaksono di Tangan Polisi, Penyelidik Mulai Analisis Barang Bukti Materi Mens Rea
-
Aksi Ekstrem Pasutri Pakistan di Soetta: Sembunyikan 1,6 Kg Sabu di Lambung dan Usus
-
Kasus Isu Ijazah Palsu Jokowi, PSI Desak Polisi Segera Tahan Roy Suryo Cs
-
60 Ton Sampah Menggunung, Pemprov DKI Janji Pasar Induk Kramat Jati Bersih dalam 5 Hari
-
Sinyal Bahaya Demokrasi, Lakso Anindito Sebut KUHP Baru Berpotensi Hidupkan Rezim Otoritarian Orba
-
KPK Sempat Terbelah dan Ragu Jadikan Yaqut Tersangka Korupsi Haji?
-
Lakso Anindito Prediksi Gelombang Praperadilan Koruptor Akibat KUHP Baru
-
Rumah Yaqut 'Dikepung' Aparat, Tamu Diperiksa Ketat Usai Jadi Tersangka Korupsi Haji
-
BNI Hadirkan agen46 hingga Pelosok Kota Bima, Perluas Inklusi Keuangan
-
Indonesia Terpilih jadi Presiden Dewan HAM PBB, Amnesty International Indonesia: Kebanggaan Semu!