- Mahfud MD mendesak penyelidikan pidana terhadap dugaan mark up proyek Whoosh
- Dugaan penggelembungan anggaran diperkuat oleh data selisih biaya per kilometer proyek Whoosh yang mencapai 52 juta US dolar, jauh di atas standar China (17-30 juta US dolar)
- Mahfud MD memperingatkan risiko gagal bayar utang Rp116 triliun ke China dapat mengancam kedaulatan negara
Suara.com - Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD, secara terbuka mendesak pemerintah untuk mengusut tuntas dugaan penggelembungan dana (mark up) dalam proyek strategis Kereta Cepat Whoosh. Ia mempertanyakan secara tajam aliran dana proyek yang membengkak dan menuntut agar para pihak yang bertanggung jawab dipanggil untuk dimintai keterangan.
Mahfud menyoroti adanya potensi korupsi masif di balik proyek yang kini menjadi beban keuangan negara. Ia menegaskan bahwa penyelidikan pidana adalah sebuah keharusan agar menjadi pelajaran dan bangsa ini tidak terbiasa membiarkan pelaku kejahatan lolos begitu saja.
“Dugaan mark upnya ini harus diperiksa, ini uangnya lari ke mana dan ke siapa,” kata Mahfud MD dalam siniar di Youtube pribadinya @Mahfud MD Official, Selasa (14/10/2025).
“Pelaku-pelakunya sekarang masih ada dan pemerintah harus memanggil mereka untuk dimintai keterangan agar kasus ini lebih jelas,” terangnya.
Pernyataan keras Mahfud ini seolah menjadi ledakan dari "bom waktu" yang sebelumnya pernah disinggung oleh Direktur PT KAI, Bobby Rasyidin, dalam rapat bersama DPR pada Agustus lalu.
Bobby kala itu sempat mengisyaratkan bahwa pendapatan Whoosh tidak sesuai rencana dan memerlukan bantuan untuk membayar utang ke China, sebelum penjelasannya diinterupsi oleh anggota dewan.
Dugaan mark-up semakin diperkuat oleh data yang diungkap Ekonom Political Economy and Policy Studies, Anthony Budiawan. Ia memaparkan bahwa biaya proyek Whoosh per kilometer mencapai 52 juta US dolar.
Angka itu jauh di atas standar biaya pembangunan kereta cepat di China yang berkisar antara 17 hingga 30 juta US dolar per kilometer. Perbedaan harga yang sangat signifikan ini memunculkan pertanyaan besar mengenai efisiensi dan transparansi anggaran.
Kembali ke Mahfud MD, ia memperingatkan adanya konsekuensi yang jauh lebih berbahaya jika masalah ini tidak ditangani serius: ancaman kedaulatan negara akibat potensi gagal bayar utang. Dengan total utang mencapai Rp 116 triliun ke China, posisi Indonesia menjadi sangat rentan.
Baca Juga: Utang Whoosh Rp116 T Jadi Bom Waktu, Agus Pambagio: Jokowi Gak Mau Dengar Saya dan Pak Jonan
“Harus diingat akibatnya sangat berbahaya bagi rakyat, jika kita gagal bayar itu kan berarti Cina harus ngambil alih,” ujarnya.
Mahfud melukiskan skenario terburuk, di mana China tidak akan mengambil alih aset fisik kereta yang berada di tengah kota, melainkan meminta kompensasi lain yang lebih strategis, seperti kedaulatan di perairan Natuna Utara.
“Jika hal ini terjadi, maka Indonesia akan seperti Sri Lanka,” katanya, merujuk pada kasus di mana Sri Lanka terpaksa menyerahkan pelabuhan strategisnya kepada China akibat jeratan utang.
Kekhawatiran ini diperparah oleh kondisi keuangan PT KAI yang terus merugi. Pada semester II 2024, KAI sudah merugi Rp1,9 triliun, dengan total kerugian sepanjang tahun 2024 mencapai Rp2,69 triliun.
Kerugian berlanjut pada semester I 2025 yang tercatat sebesar Rp1 triliun, membuat beban untuk membayar utang Whoosh terasa semakin berat.
Menurut Analis Kebijakan Publik, Agus Pambagio, proyek ini sejak awal sudah menuai kontroversi. Ia menyebut bahwa keputusan memindahkan proyek dari Jepang ke China merupakan inisiasi langsung dari Presiden Joko Widodo saat itu.
Berita Terkait
-
Belum Ada Opsi, Bos Danantara Bingung Utang Kereta Cepat Jadi Polemik
-
Utang Kereta Cepat Seberapa Banyak? Pantas Menkeu Purbaya Ogah Bayar Pakai APBN
-
Utang Whoosh Rp116 T Jadi Bom Waktu, Agus Pambagio: Jokowi Gak Mau Dengar Saya dan Pak Jonan
-
Bom Waktu Kereta Cepat Whoosh, Jokowi Ditagih Tanggung Jawab Utang Rp118 T dan Rugi Triliunan
-
Terpopuler: Anak Setya Novanto Menikah, Gaji Pensiunan PNS Bakal Naik Oktober 2025?
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- 5 Sampo Penghitam Rambut yang Tahan Lama, Solusi Praktis Tutupi Uban
- 5 Mobil Nissan Bekas yang Jarang Rewel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- 4 Bedak Wardah Terbaik untuk Usia 50 Tahun ke Atas, Bantu Samarkan Kerutan
- Bukan Sekadar Wacana, Bupati Bogor Siapkan Anggaran Pembebasan Jalur Khusus Tambang Tahun Ini
Pilihan
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
-
Tanpa Bintang Eropa, Inilah Wajah Baru Timnas Indonesia Era John Herdman di Piala AFF 2026
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
Terkini
-
Pengaduan Pelanggaran Hak Anak ke KPAI Melonjak, Identitas 66 Persen Pelaku Tidak Diungkap
-
Antisipasi Banjir, Pemprov DKI Perpanjang Operasi Modifikasi Cuaca Hingga 22 Januari
-
Hirup Udara Bebas, Laras Faizati Ingin Ziarah ke Makam Ayah Hingga Main ke Mal
-
Pakar Hukum Sebut Pilkada Lewat DPRD Suburkan Oligarki dan Renggut Kedaulatan Rakyat
-
Mendagri Pimpin Rakor Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatra
-
DPRD DKI Pastikan Tiang Monorel Rasuna Said Kembali ke Adhi Karya usai Dibongkar Pemprov
-
Laras Faizati Divonis Bersalah Tapi Bebas, Bivitri: Ini Bukan Putusan Demokratis
-
Prabowo Diprediksi Reshuffle Usai Evaluasi saat Retret, Siapa saja Menteri Layak Diganti?
-
Soal Vonis Laras Faizati, Ketua Komisi III DPR Sebut Bukti Manfaat Nyata KUHP dan KUHAP Baru
-
Prabowo Naikkan Anggaran Riset 50 Persen Jadi Rp12 Triliun, Fokus pada Swasembada Pangan dan Energi