- Usulan gelar pahlawan untuk Soeharto kekinian ramai menuai penolakan
- Usman Hamid pun menguliti jejak kelam Soeharto selama 32 menjadi presiden
- Dia pun membanding-bandingkan sosok Soeharto dengan Gus Dur dan Marsinah yang dianggap lebih layak mendapat gelar pahlawan nasional.
Suara.com - Usulan pemberian gelar pahlawan nasional terhadap Presiden Ke-2 RI, Soeharto kini menuai pro-kontra. Gelombang penolakan usulan gelar pahlawan bagi Soeharto terus digaungkan koalisi masyarakat sipil.
Direktur Amnesty International Indonesia Usman Hamid turut mengkritik telak setelah nama Soeharto masuk dalam 40 tokoh yang diusulkan mendapat gelar pahlawan nasional.
Usman Hamid pun menguluti jejak kelam Soeharto sebagai penguasa orde baru hingga akhirnya dilengserkan setelah ada gelombang gerakan Reformasi pada 1998. Hal itu diungkapkan Usman Hamid dalam sebuah diskusi bertema "Mencari Pahlawan Sejati" yang digelar Museum Multatuli, Rangkasbitung, Banten, Rabu (5/11/2025).
Usman Hamid awalnya menyinggung soal kriteria bagi orang yang diusulkan gelar pahlawan. Menurutnya, orang yang pantas mendapat gelar pahlawan, salah satunya adalah bisa mengobarkan dirinya sendiri untuk kepentingan umum. Selain itu, kata dia, keberanian seorang pahlawan bukan hanya fisik, tetapi juga intelektual dan moral.
"Bukan hanya semasa hidupnya tetapi sampai akhir hayat hidupnya dia pegang nilai itu, dia pegang keberanian moral itu, keberanian intelektual itu, dan nilai-nilai kebenaran itu," ujarnya ditulis pada Rabu.
Menurutnya, bagi orang yang memiliki rekam jejak seperti pernah terseret kasus korupsi tak pantas mendapat gelar pahlawan.
"Jadi kalau dia meninggal dunia dalam keadaan melakukan kejahatan atau dengan status tersangka atau dengan status terdakwa entah itu kejahatan pelanggaran hak asas manusia, kejahatan lingkungan, atau korupsi, sulit untuk diletakkan sebagai pahlawan," tambahnya.
Lebih lanjut, Usman Hamid juga membanding-bandingkan peran Soeharto dengan tokoh-tokoh yang juga diusulkan mendapat gelar pahlawan nasional seperti nama Presiden ke-4 RI, Abdurahman Wahid alias Gus Dur dan buruh wanita Marsinah.
Menurutnya, Gus Dur memenuhi unsur untuk diberi gelar pahlawan karena sumbangsihnya terhadap rakyat, termasuk memberikan perlindungan terhadap kelompok minoritas.
Baca Juga: Dicap Tak Layak Diberi Gelar Pahlawan, Romo Magnis Suseno Kuliti 'Dosa-dosa' Soeharto Penguasa Orba
"Gus Dur berani, Gus Dur mencopot Jenderal Wiranto karena terlibat dalam kejahatan kemanusiaan di Timor Timur, tidak ada yang pernah melakukan itu, terutamanya Jenderal apalagi Angkatan Darat, agak mustahil untuk bisa disentuh. Jadi, Gus Dur memenuhi kategori itu, sampai terakhir dia meninggal dunia, dia masih membela orang-orang lemah, membela orang-orang yang diserang, didiskriminasi," bebernya.
Sementara, kata dia, Marsinah juga dianggap masuk dalam kategori pahlawan karena membela kaum buruh hingga rela terbunuh.
"Nah, orang yang yang seperti itu untuk dianggap sebagai pahlawan, bisa pahlawan bagi kaum buruh," kata dia.
Usman juga menguliti sepak terjang Soeharto hingga lengser setelah memimpin Indonesia selama 32 tahun. Bahkan, dia menyebut jika Soeharto meninggal dunia dengan status terdakwa atas skandal kasus korupsi di Indonesia.
"Soeharto meninggal dunia ketika ia setengah diadili oleh pengadilan karena kasus korupsi bahkan di Asia Tenggara, dia dianggap sebagai pemimpin paling buruk di dunia, salah satu yang terburuk dan itu sebabnya gerakan reformasi akhirnya merumuskan Tap MPR nomor 11 tahun 1998 yang ada nama Soehartonya," bebernya.
Menurutnya, sosok Soeharto tidak bisa disandingkan dengan Gus Dur atau pun Marsinah karena memiliki latar belakang yang sangat kontras. Dia pun mengajak masyarakat, terutama para mahasiswa untuk ikut bersuara menolak adanya usulan Soeharto diberi gelar pahlawan.
Berita Terkait
-
Kritik Rezim Prabowo, Mantan Jaksa Agung Bongkar Manuver Politik Muluskan Gelar Pahlawan Soeharto
-
Dicap Tak Layak Diberi Gelar Pahlawan, Romo Magnis Suseno Kuliti 'Dosa-dosa' Soeharto Penguasa Orba
-
Heboh Projo Gabung ke Gerindra, Hensa Curiga Settingan Jokowi Langgengkan 2 Periode Prabowo-Gibran
-
Budi Arie Dicap Tukang Ngibul soal Kepanjangan Projo, PDIP: Pasti Contohkan Panutannya Jokowi
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 4 Mobil Kecil Bekas 80 Jutaan yang Stylish dan Bandel untuk Mahasiswa
Pilihan
-
Dugaan Skandal PT Minna Padi Asset Manajemen dan Saham PADI, Kini Diperiksa Polisi
-
Epstein Gigih Dekati Vladimir Putin Selama Satu Dekade, Tawarkan Informasi 'Rahasia AS'
-
Bertemu Ulama, Prabowo Nyatakan Siap Keluar dari Board of Peace, Jika...
-
Bareskrim Tetapkan 5 Tersangka Dugaan Manipulasi Saham, Rp674 Miliar Aset Efek Diblokir
-
Siswa SD di NTT Akhiri Hidup karena Tak Mampu Beli Buku, Mendikdasmen: Kita Selidiki
Terkini
-
Dibatasi 35 Orang, Ada Apa Jajaran PKB Temui Presiden Prabowo di Istana Siang Ini?
-
Golkar Lakukan Profiling Calon Wakil Ketua Komisi III DPR, Sarmuji: Ada Dua atau Tiga Kandidat
-
Jual Beli Jabatan Jerat Bupati Sadewo, KPK Sorot 600 Posisi Perangkat Desa Kosong di Pati
-
Pramono Anung Bakal Babat Habis Bendera Parpol di Flyover: Berlaku Bagi Semua!
-
Tak Sekadar Kemiskinan, KPAI Ungkap Dugaan Bullying di Balik Kematian Bocah Ngada
-
Viral! Aksi Pria Bawa Anak-Istri Curi Paket Kurir di Kalibata, Kini Diburu Polisi
-
Kasus Bunuh Diri Anak Muncul Hampir Tiap Tahun, KPAI: Bukan Sekadar Kemiskinan!
-
Masalah Kotoran Kucing di Skywalk Kebayoran Lama Mencuat, Gubernur DKI Instruksikan Penertiban
-
Nyawa Melayang karena Rp10 Ribu, Cak Imin Sebut Tragedi Siswa SD di NTT Jadi 'Cambuk'
-
Nama Gubernur Khofifah Muncul di Sidang Korupsi Dana Hibah, Akan Jadi Saksi Besok