- Seorang siswa SD 10 tahun di Ngada, NTT, bunuh diri karena tertekan tidak mampu membeli buku dan pena Rp10.000.
- Menko PM, Abdul Muhaimin Iskandar, menyatakan kasus ini tamparan keras bagi pemerintah dan sosial.
- Korban meninggalkan surat perpisahan untuk ibunya yang merupakan ibu tunggal pekerja keras menghidupi lima anak.
Suara.com - Sebuah tragedi memilukan di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyentak nurani publik. Seorang siswa sekolah dasar (SD) berusia 10 tahun nekat mengakhiri hidupnya hanya karena merasa tertekan tak mampu membeli buku dan pena seharga Rp10.000.
Peristiwa pilu ini memancing respons keras dari Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Abdul Muhaimin Iskandar. Pria yang akrab disapa Cak Imin itu menegaskan bahwa kasus ini adalah tamparan keras bagi tatanan sosial dan pemerintah.
“Ya, ini harus menjadi cambuk ya,” ujar Cak Imin saat ditemui di kawasan Gambir, Jakarta, Selasa (3/2) malam.
Menurut Cak Imin, kejadian ini bukan sekadar masalah kemiskinan materi, melainkan sinyal bahaya adanya kebuntuan akses bantuan di tengah masyarakat. Ia menekankan pentingnya kepekaan lingkungan agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kita juga harus cari akar masalah frustrasi sosial itu sudah sejauh mana,” katanya lagi. Beliau juga menambahkan bahwa kasus tersebut menjadi pengingat agar semua pihak harus membuka diri untuk mudah dimintai tolong oleh siapa pun.
Surat Perpisahan yang Menyayat Hati
Bocah malang tersebut pergi dengan meninggalkan luka mendalam bagi keluarganya. Sebelum menghembuskan napas terakhir, ia menuliskan sepucuk surat untuk ibundanya, MGT (47), seorang ibu tunggal yang berjuang keras menghidupi lima anaknya.
Dalam surat yang telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia tersebut, sang anak menuliskan pesan terakhir yang sangat menyentuh:
“Surat buat Mama ****
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya
Selamat tinggal Mama”.
Baca Juga: Cak Imin Soroti Makanan di CFD: Tujuannya Sehat, Tapi Jualannya Nggak Ada yang Sehat
Potret Kemiskinan Ekstrem
Keseharian korban selama ini dihabiskan bersama neneknya. Sang ibu harus banting tulang sebagai petani dan pekerja serabutan demi menghidupi lima orang anak sendirian. Beban ekonomi yang menghimpit diduga menjadi pemicu korban merasa putus asa saat tak mampu memenuhi kebutuhan sekolah yang sebenarnya bernilai sangat kecil bagi sebagian orang, namun sangat besar bagi mereka.
Tragedi di Ngada ini menjadi pengingat pahit bahwa di tengah hiruk-pikuk pembangunan, masih ada anak-anak yang merasa "harus pergi" hanya karena harga sebuah pena. (Antara)
Tag
Berita Terkait
-
Pemulihan Ekonomi Pasca-Bencana Sumatra, Cak Imin Dorong Aceh Bangkit Lewat Kopi Gayo
-
Begini Respons Cak Imin Soal Kelakar Prabowo 'PKB Harus Diawasi'
-
Momen Jenaka di Retret Hambalang: Prabowo Minta Koalisi Awasi Terus Cak Imin, Kenapa?
-
Cak Imin Soroti Makanan di CFD: Tujuannya Sehat, Tapi Jualannya Nggak Ada yang Sehat
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
Terkini
-
Sidang Perdana Korupsi Bea Cukai: Bos Blueray Cargo John Field Hadapi Pembacaan Dakwaan
-
Mendagri: Program Tiga Juta Rumah Wujud Kepedulian Presiden kepada "Rakyat Kecil"
-
Mendagri: Program 3 Juta Rumah Percepat Akses Hunian Layak bagi Masyarakat Kurang Mampu
-
Polisi Buru Kiai Ashari! Tersangka Cabul Santri Ponpes Pati Bakal Dijemput Paksa Jika Mangkir
-
Sedia Payung dan Jas, BMKG Ingatkan Jakarta Potensi Hujan Sore Ini!
-
'Takut Diamuk Massa': Alasan Klasik di Balik Tabrak Lari, Mengapa Jalanan Kita Begitu Beringas?
-
Ketum TP PKK Ajak Warga Sulsel Tingkatkan Imunisasi Anak Demi Generasi Sehat
-
Pastikan Bantuan Tepat Sasaran, Mendagri Tito Bersama Menteri PKP Tinjau Program BSPS di Balikpapan
-
Kemnaker Siapkan Tenaga Kerja Terampil untuk Dukung Pertumbuhan Pasar EV dan Green Jobs
-
Ironi Distribusi Air Jakarta: Apartemen Dimanjakan, Warga Kampung Pakai Pipa Usia Setengah Abad!