- BMKG mengancam Jakarta dengan banjir rob dan cuaca ekstrem, sementara Pemprov DKI menerima rapor merah mitigasi banjir.
- Anggota DPRD DKI, Francine Widjojo, menyoroti keluhan warga mengenai banjir yang berulang dan semakin parah.
- PSI mengkritik Pemprov DKI karena pengerukan saluran air tidak rutin dan proyek pencegahan banjir dilakukan saat musim hujan.
Suara.com - Peringatan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengenai ancaman banjir rob dan cuaca ekstrem yang mengintai Jakarta akhir bulan ini menjadi alarm keras. Namun, di tengah kekhawatiran warga, kinerja Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta dalam mitigasi banjir justru mendapat rapor merah dari parlemen Kebon Sirih.
Kritik tajam datang dari Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) melalui Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta, Francine Widjojo. Berdasarkan hasil serap aspirasi langsung dari masyarakat, Francine menemukan keluhan yang sama berulang kali, banjir di lingkungan mereka kini terasa semakin parah.
"Kalau dari hasil reses kemarin ya, 24 kegiatan bersama dengan warga, banyak keluhan yang kami terima terkait dengan banjir berulang dan makin parah di kondisi-kondisi lingkungan pemukiman warga," ujar Francine di Jakarta, Kamis (20/11/2025).
Menurut PSI, salah satu akar masalahnya adalah penanganan yang tidak konsisten. Francine menyoroti pentingnya pengerukan saluran air dan kali sebagai langkah fundamental yang seharusnya menjadi rutinitas, bukan sekadar proyek reaktif.
"Termasuk salah satu hal yang harusnya rutin dilakukan itu adalah pengerukan," katanya.
Ia meyakini, jika program pengerukan dijalankan secara disiplin dan menyeluruh di seluruh penjuru Ibu Kota, dampaknya akan sangat signifikan dalam meredam luapan air.
"Karena ketika pengerukan ini rutin dilakukan di seluruh saluran air dan kali di Jakarta, ini sudah sangat membantu warga Jakarta supaya banjirnya tidak terlalu parah," jelas Francine.
Proyek Musim Hujan: Resep Gagal Pemprov DKI
Namun, catatan paling kritis dari PSI adalah soal momentum pengerjaan proyek yang kerap salah kaprah. Francine menyentil kebiasaan Pemprov DKI yang seolah baru "terbangun" dan sibuk melakukan perbaikan fisik justru ketika musim hujan sudah di depan mata.
Baca Juga: Pohon Tumbang Lumpuhkan MRT, PSI Desak Pemprov DKI Identifikasi Pohon Lapuk: Tolong Lebih Gercep!
"Dan tolong juga bagi Pemprov DKI Jakarta agar melakukan pekerjaan-pekerjaan untuk pengendalian banjir atau pencegahan ini dilakukan pada musim kemarau," pintanya.
Logika sederhana di balik kritik ini adalah efektivitas. Pengerjaan proyek infrastruktur pengendali banjir, seperti pembangunan tanggul, membutuhkan kondisi kering agar material bangunan dapat mengeras sempurna dan kokoh. Ketika dipaksakan saat musim hujan, hasilnya bisa fatal.
"Jangan nunggu ketika pada saat musim hujan, ada orang lapor, baru mulai dilakukan perbaikan," lanjut Francine.
Ia tidak hanya berbicara teori. Francine membeberkan contoh kegagalan nyata akibat perencanaan yang buruk ini, yakni insiden jebolnya tanggul di Kali Pesanggrahan, Jakarta Selatan, yang sedang dalam proses pembangunan.
"Yang kejadian di Kali Pesanggrahan, karena penanggulannya dilakukan pada saat musim hujan, jebol," ungkapnya.
Insiden ini menjadi bukti konkret bagaimana tata kelola proyek yang tidak efisien berujung pada kerugian. Infrastruktur yang dibangun untuk menahan air justru hancur oleh air bahkan sebelum sempat berfungsi.
Berita Terkait
-
Pohon Tumbang Lumpuhkan MRT, PSI Desak Pemprov DKI Identifikasi Pohon Lapuk: Tolong Lebih Gercep!
-
Diguyur Hujan Deras, Wilayah Jaksel Dikepung Banjir
-
Jakarta Dikepung Banjir, Transjakarta Rombak Puluhan Rute! Cek Jalur Alternatif Anda
-
Ketika Banjir Lebih Menakutkan di 'Kampung Zombie' Cililitan
-
Melihat 'Kampung Zombie' Cililitan Diterjang Banjir, Warga Sudah Tak Asing: Kayak Air Lewat Saja
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas di Bawah 60 Juta, Pilihan Terbaik per Januari 2026
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
Pilihan
-
Investor Besar Tak Ada Jaminan, Pinjol Milik Grup Astra Resmi Gulung Tikar
-
5 HP Infinix Memori 256 GB Paling Murah untuk Gaming Lancar dan Simpan Foto Lega
-
John Herdman Teratas Soal Pelatih ASEAN dengan Bayaran Tertinggi
-
Coca-Cola Umumkan PHK Karyawan
-
Unilever Jual Sariwangi ke Grup Djarum Senilai Rp1,5 Triliun
Terkini
-
Status Arkana Terungkap di Tengah Perceraian Ridwan Kamil-Atalia, Ternyata Masih 'Anak Negara'
-
Jerit Ibunda Korban Salah Tangkap Aksi Demo Agustus, Dua Jari Anaknya Patah Diduga Disiksa Polisi
-
Sabida Thaiseth, Muslimah Pertama di Kabinet Thailand yang Mengusung Wajah Baru Kebudayaan
-
Bonus Rp465 Miliar Atlet SEA Games Cair, Pemerintah Kasih Literasi Keuangan 1,5 Jam
-
Rekayasa Lalin MRT Glodok-Kota Dimulai 10 Januari, Simak Rutenya
-
Said Iqbal Bongkar 'Janji Manis' KDM Soal Upah: Katanya Tak Ubah Rekomendasi, Faktanya Malah Dicoret
-
Mayoritas Publik Tolak Pilkada Lewat DPRD, Golkar: Mungkin Yang Dibayangkan Pilkada Model Orba
-
Jaksa Sebut Nadiem dan Pengacaranya Galau: Seolah Penegakan Hukum Tak Berdasarkan Keadilan
-
Sebut Politik Dinamis, Dede Yusuf Ungkap Alasan Demokrat 'Lirik' Pilkada Lewat DPRD
-
Perpendek Rentang Kendali, Pakar Usulkan Polri Dibagi Dua Wilayah: Barat dan Timur