Suara.com - Kota Surabaya, Jawa Timur, telah membuktikan bahwa nilai-nilai luhur bangsa, khususnya Pancasila, tetap relevan sebagai solusi atas berbagai persoalan perkotaan modern. Program "Kampung Pancasila" yang diresmikan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, pada 11 Agustus 2025 terbukti efektif mendorong kemandirian warga sekaligus menjadi model pembangunan bottom-up yang menarik perhatian berbagai daerah.
Program tersebut bahkan mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk Guru Besar Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Prof Muhadam Labolo. Ia menilai, langkah yang digagas Wali Kota Eri Cahyadi merupakan upaya melembagakan Pancasila dalam praktik kehidupan sehari-hari masyarakat.
Prof Muhadam menjelaskan, Kampung Pancasila mencerminkan miniatur Indonesia di Surabaya, meski 86 persen penduduknya beragama Islam (Program Madani) dan 83 persen beretnis Jawa (tradisi Arek). Menurutnya, program ini diterapkan melalui empat pilar utama sebagai perasan Lima Sila yang dapat diukur secara praktis, tidak sekadar bersifat simbolik.
"Pertama, adalah pilar lingkungan yang diukur dari kesadaran memilah sampah (tongpilah). Isu ini vital mengingat Surabaya memproduksi 1.800 ton sampah per hari. Pembudayaan ini merepresentasikan tanggung jawab semesta (Ketuhanan yang Maha Esa)," kata Prof Muhadam, Senin (24/11/2025).
Pilar kedua menyasar aspek ekonomi yang dinilai dari aktivitas 385.054 Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebagai wujud Keadilan Sosial, dengan target menurunkan angka kemiskinan dari 3,56 persen ke level terendah pada 2026. "Pilar ketiga adalah sosial budaya, yang bisa dilihat dari aktivitas gotong-royong yang merefleksikan nilai Persatuan dan Kemanusiaan," ujarnya.
Pilar keempat, yakni kemasyarakatan, diukur dari kemampuan warga menyelesaikan persoalan internal dan menjaga keamanan bersama sebagai nilai kerakyatan. "Pengukuran nilai Pancasila berbasis aktivitas warga memberi gambaran tentang perubahan pada tiap komunitas di level pemula, berkembang dan maju," kata Prof Muhadam.
Evaluasi program dilakukan melalui aplikasi Sayang Warga yang menjadi dasar pembentukan indeks pelembagaan Pancasila di berbagai tingkatan wilayah. Selain itu, strategi keamanan yang melibatkan 9.000 Poskamling ikut menurunkan angka kriminalitas hingga 5 persen setiap tahun.
Sejumlah kampung di Surabaya telah menampilkan hasil konkret dari penerapan nilai-nilai Pancasila. Salah satunya adalah RW 06 Kelurahan Gundih, Kecamatan Bubutan, yang berhasil menyelesaikan persoalan sosial melalui budidaya maggot dan urban farming berbasis gotong royong.
RW 3 Tambakrejo, Surabaya, juga berperan sebagai laboratorium inovasi Kampung Pancasila. Di kampung ini, nilai-nilai Pancasila diterapkan dalam bentuk kerukunan dan produksi karya bersama, seperti pembuatan Instalasi Pembuangan Limbah Cair (IPL CRT), pengembangan kebun hidroponik, serta program dolanan mingguan untuk anak-anak.
Keberhasilan implementasi program Kampung Pancasila menarik perhatian banyak pemerintah daerah. Sejumlah kepala daerah bahkan mengirim delegasi ke Kota Pahlawan untuk mempelajari model penggerak masyarakat yang diterapkan Pemkot Surabaya.
Wali Kota Eri Cahyadi mengatakan implementasi Kampung Pancasila pada 1.360 RW telah mengubah paradigma pembangunan kota dari top-down menjadi bottom-up. Ia mengakui, gagasan ini sempat diragukan saat dipresentasikan dalam forum Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI)
"Waktu itu, saya cerita di depan semua kepala daerah saat APEKSI. Mereka bilang Surabaya ini kota besar, enggak bisa dibuat seperti itu sampai akhirnya mereka meminta anak buahnya datang ke Surabaya untuk belajar dan membuktikan sendiri," ujar Wali Kota Eri.
Keraguan tersebut justru memicu ketertarikan banyak daerah, termasuk Wali Kota Medan dan Depok yang turut melakukan kunjungan kerja ke Kota Pahlawan.
Wali Kota Eri menjelaskan ide Kampung Pancasila lahir dari kesadaran bahwa keberhasilan Surabaya sejak masa perjuangan dicapai melalui keterlibatan semua elemen masyarakat.
"Ketika saya membaca buku sejarah, lalu saya gabungkan nilai-nilai pancasila dengan sejarah bangsa. Saya sadar satu hal bahwa setiap kepemimpinan kota yang berhasil bukan dilakukan pemerintah sendiri, tapi bagaimana kita bisa mengajak semua stakeholder, semua masyarakat untuk menjadi bagian pembangunan dan merasakan Surabaya adalah rumah bersama," terangnya.
Berita Terkait
-
Hasil Super League: Persija Jakarta Bantai Persebaya 3-0 di Stadion GBK
-
Ekspor IKM Surabaya Tembus 2,73 Juta Dolar AS, SIL Festival 2026 Serap Ribuan Tenaga Kerja Lokal
-
Skuad Pincang Bukan Halangan, Persija Jakarta Siapkan Taktik Lumat Persebaya
-
Bernardo Tavares: Tekanan Ada di Persija, Mereka 3 Kali Tanpa Kemenangan
-
Jelang Duel Klasik, Persija Jakarta Larang Bonek Hadir di Stadion GBK
Terpopuler
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
'Pak Minta Nama!', Cerita Haru Nenek di Istana hingga Prabowo Usulkan Nama Adi Dharma
-
Puji Kontribusi Masif Warga Jateng, Pramono Anung: Pilar Penting Jakarta Menuju Kota Global!
-
Petaka Parkir di Bahu Jalan! Sigra 'Nangkring' di Pembatas Jalan Usai Dihantam Fortuner di Tangerang
-
Iran Berencana Kenakan Biaya untuk Kapal yang Melintas Selat Hormuz
-
Fasilitas Pipa Minyak Arab Saudi Pulih, Penyaluran Capai 7 Juta Barel Per Hari
-
Satpol PP Gandeng TNI-Polri Sikat Preman Tanah Abang, Pangkalan Bajaj Liar Ikut Ditertibkan
-
Vladimir Putin Siap Bersua Prabowo Subianto di Moskow, Isu Energi hingga Global Dibahas
-
Negosiasi dengan AS Gagal, Iran: Selat Hormuz Sepenuhnya di Tangan Kami!
-
Jelaskan Anggaran EO Capai Rp113,9 M, Kepala BGN: Mekanisme Sesuai Aturan dan Terbuka untuk Diawasi
-
Bukan Emas atau Berlian, Pemuda di Rembang Pinang Kekasih dengan Mahar Bibit Pohon Mangga!