- Jaringan Kader Muda NU konsolidasi menolak kesewenang-wenangan struktural dan meminta pimpinan patuh AD/ART organisasi.
- Kader muda memprotes rencana pleno penunjukan Pj Ketum karena dianggap mengabaikan upaya islah kiai sepuh.
- Tujuan gerakan moral ini adalah mengembalikan marwah serta menegakkan tradisi musyawarah dan bimbingan ulama NU.
Suara.com - Eskalasi konflik internal di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang tak kunjung menunjukkan tanda-tanda mereda, telah memantik keprihatinan mendalam dari kalangan akar rumput.
Jaringan Kader Muda Nahdlatul Ulama (NU) dari seluruh Indonesia mengambil sikap tegas, menyerukan agar para pimpinan PBNU kembali berpegang teguh pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta menghormati ikhtiar islah yang tengah diupayakan para masyayikh atau kiai sepuh.
Seruan ini mengemuka setelah konsolidasi nasional yang digelar sebagai respons atas perebutan kursi Ketua Umum yang kian meruncing.
Situasi ini diperparah oleh adanya Rapat Harian Syuriyah yang meminta Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mundur dari jabatannya, serta terbitnya Surat Edaran Syuriyah yang menyatakan jabatan Ketum PBNU berakhir secara otomatis pada 26 November 2025.
Juru Bicara Jaringan Kader Muda NU, Purwaji, menyatakan bahwa konsolidasi ini merupakan gerakan moral untuk mengembalikan marwah organisasi.
Menurutnya, saat ini terdapat kecenderungan penggunaan kewenangan struktural yang justru membatasi dialog, menutup ruang permusyawaratan, dan yang paling mengkhawatirkan, mengabaikan seruan para kiai sepuh.
Kondisi ini, menurut Purwaji, sangat berbahaya karena mengancam ruh dasar NU sebagai Jam’iyah (organisasi) yang berpijak pada musyawarah (syura), moral publik, dan kebenaran yang senantiasa dibimbing oleh para ulama.
Purwaji secara khusus menyoroti adanya rencana dari pihak tertentu untuk menggelar rapat pleno yang bertujuan menunjuk Penjabat (Pj) Ketua Umum.
Langkah ini dinilai sangat bertentangan dengan kehendak para kiai sepuh yang saat ini sedang bekerja keras menempuh jalan damai atau islah.
Baca Juga: Gus Miftah Berharap PBNU Segera Rukun dan Fokus Bantu Korban Bencana
“Jika benar ada rencana pleno penunjukan Pj, itu adalah bentuk kesewenang-wenangan. Para kiai menghendaki islah, bukan pemaksaan pleno,” tegas Purwaji di Jakarta, Jumat (5/12/2025).
Ia menambahkan, mengabaikan suara para ulama sepuh merupakan sebuah tindakan yang sangat disayangkan dan dapat melukai perasaan warga Nahdliyin secara luas.
“Sangat menyedihkan jika suara para kiai dianggap bisa diabaikan begitu saja,” imbuhnya.
Purwaji menegaskan bahwa AD/ART bukanlah sekadar dokumen formalitas, melainkan pagar kokoh yang berfungsi menjaga kehormatan dan martabat Jam’iyah.
Senada dengan itu, Fajri Al Farobi, salah satu narasumber dalam forum konsolidasi tersebut, menekankan bahwa dialog adalah napas dari tradisi NU. Upaya islah yang didorong oleh para kiai adalah cerminan dari tradisi luhur tersebut.
“Islah adalah jalannya para kiai. Ketika pintu dialog ditutup dan keputusan diambil sepihak, maka itu bukan lagi tradisi NU. Maka dari itu, forum konsolidasi ini adalah gerakan moral untuk memastikan NU tetap berada di rel yang benar,” ucapnya.
Dari hasil konsolidasi, Jaringan Kader Muda NU mengeluarkan sejumlah pernyataan sikap. Mereka secara tegas menolak segala bentuk kesewenang-wenangan di tubuh PBNU, menolak tindakan yang mengabaikan AD/ART, dan meminta agar para kiai tidak mendasarkan keputusan strategis organisasi pada informasi sumir atau fitnah tanpa melakukan tabayyun (klarifikasi) terlebih dahulu.
Para kader muda ini menggarisbawahi bahwa gerakan mereka bukanlah bentuk pembangkangan.
Sebaliknya, ini adalah sebuah ikhtiar untuk menegakkan kembali tradisi luhur Jam’iyah yang selama ini dibimbing oleh para kiai sepuh dari berbagai pondok pesantren besar, dari Ploso hingga Tebuireng, demi menjaga persatuan dan marwah Nahdlatul Ulama di tengah badai konflik yang sedang terjadi.
Berita Terkait
-
Sebut Upaya Pelengseran dari PBNU Batal demi Hukum, Gus Yahya Pantang Mundur
-
Gus Miftah Berharap PBNU Segera Rukun dan Fokus Bantu Korban Bencana
-
Gus Yahya Ancam Tempuh Jalur Hukum, Tak Rela Posisinya Direbut Kepentingan Sepihak
-
Soal Dugaan Aliran Uang Rp100 Miliar ke PBNU, Gus Yahya Santai: Silahkan Diproses!
-
Gus Yahya Pantang Mundur, Sebut Upaya Pelengseran dari PBNU Batal Demi Hukum
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Istimewa! Eks Jampidsus Febrie Ditahan Tanpa Rompi Pink dan Tangan Tak Diborgol
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Merawat Koperasi agar Berdaya Melampaui Dinamika Politik
-
55 Karya Desain Dunia dari SaloneSatellite Permanent Collection Dipamerkan di Indonesia
-
Ribuan Orang di Dunia Jadi Korban Phishing Kratos, Pengelola Dibekuk di Pontianak
-
Usia 35 Tahun Sudah Punya 5 SPBU, Herman Deru Ungkap Kebiasaan yang Mengubah Hidupnya
-
Terkuak! Pengemudi Alphard Arogan ke Satpam di Bundaran HI Ternyata Anggota Polda Jabar
-
Napi Kasus Narkoba Pekanbaru Kabur saat Berobat, Petugas Pengawal ke Mana?
-
Hinca Panjaitan Sebut Perkara Kredit Tak Layak Diproses sebagai Korupsi
-
Mahfud MD Bantah Kejagung soal Febrie: Tak Pernah Ada Pelimpahan Kasus Asabri dari Polisi