- Fenomena pengibaran bendera putih di Aceh menandakan keputusasaan ekstrem masyarakat akibat bencana yang diyakini bersifat ekologis.
- Peneliti SOREC menyebut bencana tersebut disebabkan oleh faktor manusia berupa eksploitasi lingkungan dan model pembangunan berisiko.
- Dampak terberat adalah hilangnya harapan sosial dan kegagalan respons darurat pemerintah yang mendorong tuntutan penetapan bencana nasional.
Suara.com - Kekinian muncul fenomena pengibaran bendera putih di sejumlah ruas jalan di Aceh. Aksi ini seolah menjadi penanda bahwa keputusasaan masyarakat dalam menghadapi bencana sudah mencapai puncak.
Menanggapi fenomena itu, Peneliti Social Research Center (SOREC) AB. Widyanta menilai, bendera putih bukan sekadar simbol. Lebih dari itu, ada ekspresi sosial yang lahir dari situasi ekstrem.
Pria yang juga pengajar Departemen Sosiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) itu menyebut pengibaran bendera putih dapat dibaca dari berbagai dimensi, mulai dari semiotik hingga psikososial.
"Bendera putih itu menandakan tentang tanda menyerah, tanda putus asa, tanda tidak ada harapan. Itu artinya betul-betul sudah surrender [menyerah]," kata Abe, sapaan akrabnya, saat dihubungi, Senin (15/12/2025).
Menurut dia, dari sisi sosiologis, banjir yang melanda Aceh tidak dapat dilepaskan dari faktor manusia. Abe tegas menyebut bahwa bencana tersebut bukan murni bencana alam.
Melainkan bencana ekologis yang dipicu oleh eksploitasi lingkungan dan model pembangunan yang tidak peka terhadap risiko kebencanaan.
"Nah, dari aspek yang lebih sosiologis sebetulnya, kita tahu persis bahwa ini bukan bencana alam. Kita harus highlight bahwa ini adalah bencana yang timbul karena human-made," tegasnya.
Disampaikan Abe, dampak paling berat justru menimpa kehidupan sosial masyarakat. Bencana tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menghancurkan komunitas.
Lebih dari itu, turut memutus sumber penghidupan dan memperparah kerentanan warga yang terdampak secara langsung.
Baca Juga: Apresiasi Wali Kota Lhokseumawe: Mentan Amran Tanggap dan Cepat Bantu Masyarakat Aceh
Ia menyebut dimensi psikososial menjadi beban terberat pascabencana. Kehilangan anggota keluarga, rumah, serta harta benda menjadi faktor utama.
Belum lagi ditambah dengan minimnya akses bantuan dasar, membuat masyarakat berada dalam kondisi trauma dan ketidakpastian yang mendalam. Sehingga fenomena bendera putih ini yang kemudian muncul.
"Ini adalah gambaran paling telanjang dari rasa frustrasi sosial yang muncul pascabencana," ucapnya.
Frustrasi sosial itu semakin memuncak ketika muncul berbagai sikap penyangkalan dari negara.
Narasi yang menyebut banjir sebagai bencana alam semata, serta kecenderungan saling menyalahkan, kata Abe, melahirkan rasa ketidakadilan di tengah masyarakat yang menjadi korban.
Menurutnya, masyarakat selama ini menjadi pihak yang paling menanggung beban kebencanaan, meski penyebab kerusakan lingkungan kerap tidak terlihat secara langsung.
Berita Terkait
-
Apresiasi Wali Kota Lhokseumawe: Mentan Amran Tanggap dan Cepat Bantu Masyarakat Aceh
-
Banjir Aceh: Bukan Sekadar Hujan, tapi Tragedi Ekologis Hutan yang Hilang
-
Puncak Musim Hujan Masih Berlangsung, Gubernur Sumbar Imbau Warga Waspadai Bencana Susulan
-
KLH: Tambang Emas Afiliasi Astra dan 7 Perusahaan Melanggar, Jalur Hukum Ditempuh
-
Bupati Aceh Utara Sampaikan Apresiasi atas Bantuan Mentan Amran untuk Korban Banjir Sumatra
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Jika Tim 9 Gagal, KPK Disebut Wajib Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah
-
Sungai Cileungsi Menghitam, DLH Bogor Gandeng Polda Jabar Bidik 5 Perusahaan
-
Diperiksa Kejagung Terkait Dugaan Kasus, Kekayaan Kasi Pidsus Bogor Capai Rp6,1 Miliar Tanpa Utang
-
Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Satpol PP Bandung Ratakan 36 Bangunan Liar di Jalan Rajiman
-
Sempat Sebut PDIP, Ustaz Das'ad Latif Edit Unggahan soal Putusan MK Larang Dana Pendidikan untuk MBG
-
Kejagung Bongkar Alasan Periksa Tan Kian dan Ferry Boboho di Kasus Febrie Adriansyah
-
Alasan Keselamatan, Kejagung Titipkan Ferry Boboho Saksi Kunci Kasus TPPU Febrie Adriansyah ke LPSK
-
Angela Tanoesoedibjo Apresiasi Legislator yang Dinilai Berdampak bagi Masyarakat
-
Arus Peti Kemas IPC TPK Panjang Melonjak 73,7 Persen
-
Gandeng TP PKK Hingga Tingkat RT, Bupati Bogor Rudy Susmanto Pacu Kesejahteraan Warga