- Dedi Mulyadi memperluas moratorium izin pembangunan perumahan ke seluruh wilayah Jabar akibat ancaman bencana hidrometeorologi.
- Kebijakan ini berlaku sampai ada kajian risiko bencana valid dan penyesuaian Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
- Pengembang memprotes kebijakan tersebut karena dianggap menghambat investasi, sementara pengamat menyoroti kelemahan dasar hukumnya.
Suara.com - Keputusan yang dibut Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), kembali mengejutkan dan langsung menjadi sorotan publik. Kali ini, pria yang akrab disapa KDM itu membuat para pengembang properti "panas dingin".
Bukan tanpa alasan, Dedi secara resmi memperluas kebijakan penghentian sementara (moratorium) penerbitan izin pembangunan perumahan.
Kebijakan yang semula hanya berlaku untuk kawasan Bandung Raya, kini dipukul rata untuk seluruh wilayah Jawa Barat.
Awalnya, moratorium ini tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor: 177/PUR.06.02.03/DISPERKIM yang diteken pada 6 Desember 2025 khusus untuk Bandung Raya. Namun, merasa langkah itu belum cukup, Dedi mengeluarkan aturan sapu jagat melalui SE Gubernur Jabar Nomor 180/HUB.03.08.02/DISPERKIM tertanggal 13 Desember 2025.
Alasan Darurat Bencana
Dalam SE tersebut, Dedi menegaskan bahwa kebijakan ini bukan untuk menghambat investasi, melainkan langkah darurat mitigasi bencana.
Ancaman hidrometeorologi seperti banjir bandang dan tanah longsor dinilai tidak lagi bersifat lokal, melainkan merata di hampir seluruh wilayah Jabar.
"Potensi bencana alam hidrometeorologi berupa banjir bandang dan tanah longsor bukan hanya terjadi di wilayah Bandung Raya, tetapi juga di seluruh wilayah Jawa Barat," tulis KDM dalam SE-nya tersebut dikutip Suara.com, Rabu (17/12/2025).
Moratorium ini berlaku hingga setiap kabupaten/kota memiliki hasil kajian risiko bencana yang valid serta melakukan penyesuaian Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
Baca Juga: Datangi Pabrik Aqua Lagi, Dedi Mulyadi Ungkap Sumber Airnya yang Tak Sesuai Iklan
Pemda se-Jabar juga diwajibkan meninjau ulang lokasi pembangunan di zona rawan bencana, termasuk area persawahan, perkebunan, daerah resapan air, hingga kawasan hutan.
Seluruh pembangunan wajib mematuhi peruntukan lahan agar tidak menurunkan daya dukung lingkungan.
Pengembang Teriak, Asosiasi Bergerak
Kebijakan ini sontak menuai reaksi keras. Para pengembang perumahan kini mulai "berteriak".
Asosiasi Pengembang dan Pemasar Rumah Nasional (Asprumnas), misalnya, langsung melayangkan surat protes ke Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).
Mereka menilai kebijakan Dedi menabrak Perda Jabar Nomor 9 Tahun 2022 dan menghambat Program 3 Juta Rumah pemerintah pusat.
Senada, Aliansi Pengembang Perumahan Nasional Jaya (Appernas Jaya) menyatakan akan segera duduk bersama Kementerian PKP dan Pemprov Jabar untuk mencari jalan tengah alias solusi dari kebijakan tersebut.
Dilema Warga: Ingin Aman tapi Takut Menunggu
Di tingkat masyarakat, kebijakan ini memicu respons beragam. Aris (35), warga Kabupaten Bogor, mengapresiasi langkah preventif gubernur demi keselamatan.
"Kalau tujuannya sih bagus. Kita bisa lebih aman," kata Aris kepada Suara.com.
Namun, ia juga cemas kebijakan ini akan menghambat ketersediaan hunian bagi warga.
"Takutnya nanti kita nunggu lama kalau ingin tinggal dan membeli rumah. Soalnya harus tunggu kajian juga kan. Mudah-mudahan sih nggak lama dan pembangunan bisa dilakukan," tambahnya.
Hal serupa diungkapkan Ester (27), warga Depok. Ia tak ingin rumah impiannya tertunda gara-gara birokrasi perizinan yang mandek.
"Nunggu lama jangan sampai deh," ujarnya singkat.
Pakar Soroti Kelemahan Hukum: "Jangan Ugal-ugalan"
Niat baik KDM mendapat dukungan dari Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI), Tulus Abadi.
Ia mengakui banyak proyek perumahan yang abai terhadap lingkungan dan mengubah tata ruang secara sepihak.
"Yang semula ruang terbuka hijau diubah menjadi area komersial, termasuk untuk area perumahan," jelas Tulus, kepada Suara.com, Rabu (17/12).
Namun, Tulus menyarankan KDM melakukan review total perizinan secara terintegrasi.
"Karena bagaimana pun masih banyak warga yang memerlukan perumahan untuk tempat tinggal," pesannya.
Kritik lebih tajam datang dari Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio.
Ia menyoroti lemahnya landasan hukum kebijakan tersebut jika hanya bermodalkan Surat Edaran (SE). Menurutnya, larangan publik harus diatur lewat Peraturan Gubernur (Pergub) atau Peraturan Daerah (Perda).
"Enggak bisa dia melarang (dengan landasan) SE untuk ngatur keluar, harus pakai Pergub atau Perda. Ya karena SE itu tidak ada di Undang-Undang 12 Tahun 2011 tentang tata cara pemba- pembuatan peraturan perundang-undangan, enggak ada. Di hirarki peraturan perundangan enggak ada," tegas Agus.
Agus menyarankan Dedi segera menerbitkan Pergub agar kebijakannya memiliki taring dan kekuatan hukum yang mengikat.
"Kan harus nyangkut di undang-undang di atasnya. Kalau SE buat apa? Itu kan Surat Edaran sifatnya internal. Enggak bisa dipakai untuk ngatur publik," katanya.
"Ya kita mau taat ikut hukum atau enggak? Kalau mau ugal-ugalan ya silakan. Kalau... dia, dia biar bikin Pergub. Apa susahnya bikin Pergub?," Agus menambahkan.
Dukungan Parlemen
Di sisi lain, kalangan legislatif cenderung mendukung langkah KDM sebagai momentum evaluasi tata ruang.
Anggota DPR RI Dapil Jabar XI, Oleh Soleh, menilai ini langkah positif untuk menata ulang tidak hanya perumahan, tapi juga sektor pertambangan.
"Nah ini saya rasa positif untuk bagaimana RTRW tata ruang wilayah Jawa Barat ini kan sudah ada ya, nah tinggal bagaimana apakah penggunaan tata ruang di Jabar ini sesuai dengan perda yang telah disepakati oleh Pemprov dan tentunya RTRW juga berkaitan dengan roadmap dari pada program nasional," ujar Oleh Soleh kepada Suara.com.
"Oleh sebab itu maei kita dukung untuk melakukab evaluasi sekaligus membuat peta jalan dalam rangka penggunaan tata ruang di wilayah Jawa Barat," imbuhnya.
Dukungan juga mengalir dari Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Ono Surono.
Menurutnya, SE ini adalah langkah awal pemetaan kawasan hijau versus kawasan industri/hunian yang nantinya harus dituangkan dalam Perda RTRW.
"Untuk menetapkan lahan/kawasan itu sebagai kawasan industri, perumahan dan kawasan hijau (hutan, kebun, sawah). Selain itu juga ada lahan sawah yang lindungi yang tidak dapat beralih fungsi," tandas Ono.
Berita Terkait
-
Bahas Aset Negara, Dedi Mulyadi Sambangi KPK
-
KDM Tegaskan Alih Fungsi Lahan Jadi Dalang Banjir di Bandung
-
Dedi Mulyadi Datang ke KPK: Ada Apa dengan Sungai dan Hutan Jabar?
-
KPK Periksa Ridwan Kamil Hari Ini Terkait Dugaan Korupsi Dana Iklan Bank BJB
-
Sule Tolak Mentah-mentah Tawaran Politik Dedi Mulyadi: Pilih Tetap Jadi Seniman Penghibur Rakyat!
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Dari Kulit hingga Tekstil Ramah Lingkungan, Tren Fashion Masa Depan Makin Berkelanjutan
-
Wali Kota Solo Tegaskan Tak Toleransi Miras Ilegal, Empat Outlet Ditutup
-
Dari AI hingga Alat Diagnostik Presisi, Inovasi Teknologi Dorong Deteksi Penyakit Lebih Cepat
-
Watak Weton Rabu Pon Milik Presiden Prabowo Subianto, Simak Kelebihan dan Kekurangannya
-
BPS Ungkap Penjualan Truk hingga Pikap Melonjak 38,76%
-
Mendagri Siapkan Tiga Langkah Sebagai Solusi Operasional Gaji Pegawai Pemda
-
BRI Dukung Optimalisasi Dana SAL, Perkuat Penyaluran Kredit ke Sektor Produktif
-
Deposit Judi Online Piala Dunia 2026 Tembus Rp1 Triliun! QRIS Paling Banyak Disalahgunakan
-
Purbasari White Glow Body Serum Bisa Memutihkan Kulit? Cek Ulasan Pengguna
-
Meski Tampil Singkat, Mariano Peralta Ungkap Kesan Debut di Persib Bandung