- Gen Z Jakarta jenuh dengan aplikasi kencan yang melelahkan dan dangkal.
- Biro jodoh 'CV' di mal menjadi alternatif mencari koneksi nyata.
- Metode ini menjawab kebutuhan validasi, kepercayaan, dan interaksi yang manusiawi.
Suara.com - Di tengah hiruk pikuk Jakarta yang tak pernah tidur, layar ponsel kini telah menjadi jendela utama sekaligus penjara bagi kaum lajang. Rutinitas mengusap layar ke kanan dan kiri bukan lagi aktivitas yang mendebarkan, melainkan sebuah beban administratif yang melelahkan.
KEJENUHAN aplikasi kencan—atau dating app fatigue—mulai menjangkiti mereka yang lelah dengan siklus percakapan basa-basi yang berujung ghosting, atau profil yang terlalu dipoles hingga kehilangan sisi manusianya. Di sela kemacetan Sudirman, muncul kerinduan mendalam akan sebuah koneksi yang tidak sekadar ditentukan oleh algoritma.
Ada sesuatu yang tak tergantikan dari getaran suara, sorot mata, dan bahasa tubuh yang tidak bisa ditangkap oleh aplikasi mana pun. Mereka mendambakan interaksi yang lebih organik, di mana tawa bisa pecah tanpa perlu jeda pengetikan.
Kembalinya 'CV Jodoh' di Era Digital
Di tengah keresahan itulah, sebuah fenomena unik muncul. Di Mall of Indonesia (MOI), Kelapa Gading, sebuah etalase bernama 'Cindo Match' menampilkan deretan CV para lajang untuk dilihat pengunjung. Bermodalkan Rp 250 ribu, peminat bisa memilih hingga enam CV calon pasangan untuk pengenalan lebih dalam. Sementara bagi yang ingin memasang CV-nya, dikenakan biaya Rp 100 ribu.
Fenomena ini seolah melahirkan kembali tren perjodohan klasik sebagai jawaban atas kekosongan interaksi di era digital.
Namun, layanan ini masih sangat tersegmentasi. 'Cindo Match' saat ini masih terbatas untuk komunitas Tionghoa-Indonesia (Cindo). Pesertanya pun bukan sembarang orang, karena wajib memiliki latar belakang pendidikan minimal S1 dan telah melalui proses kurasi yang ketat.
"Rata-rata S1, yang S2 pun juga banyak," kata founder Cindo Match, Angie.
Tujuannya jelas: menyasar mereka yang serius mencari pasangan hidup, bukan sekadar teman kencan sesaat.
Baca Juga: Bos Persik Tolak Mentah-mentah Eks Persib Gabung Persija Jakarta
Mengapa Metode Klasik Kembali Diminati?
Kembalinya kaum lajang ke interaksi tatap muka adalah bentuk perlawanan terhadap digitalisasi asmara yang terasa semakin dangkal. Menurut sosiolog Andreas Budi Widyanta, aplikasi kencan sering kali gagal memenuhi dua kebutuhan krusial; validasi dan kepercayaan (trust).
"Dating application itu kan sangat personal. Butuh validasi, saling curiga ini beneran atau nggak, fake atau nggak," papar Andreas kepada Suara.com.
Dengan memilih interaksi yang terkurasi seperti biro jodoh, pencarian pasangan tidak lagi terasa seperti perburuan yang melelahkan. Prosesnya menjadi lebih transparan dan terasa intelek.
"Ini betul-betul real, jadi itu nampak lebih intelek karena kayak orang mencari kerja yang membutuhkan CV dengan kualifikasi. Portofolio dalam konteks perjodohan itu menjadi lebih transparan," kata Andreas.
Bisnis Asmara yang Sah dan Prospektif
Lalu, bagaimana dengan aspek komersialnya? Andreas melihat layanan berbayar ini bukan sebagai masalah etika, melainkan sebagai bisnis jasa yang sah.
"Ada ruang kapitalisasi yang dilakukan oleh pihak ketiga," tuturnya.
Biro jodoh ini menyasar ceruk pasar (niche market) yang spesifik: kelas pekerja terpelajar dari komunitas tertentu. Bagi mereka, biaya yang dikeluarkan tergolong ekonomis jika dibandingkan dengan potensi mendapatkan pasangan yang sepadan dan efisiensi waktu yang didapat.
"Kalau dengan Rp 250 ribu bisa dapat jodoh, ya saya rasa itu sangat worth it. Itu sah-sah saja," ujar Andreas.
Masa Depan Perjumpaan Nyata
Andreas optimis bahwa bisnis semacam ini memiliki potensi yang sangat besar. Tantangan utamanya hanyalah jika permintaan pasar menurun. Peran biro jodoh adalah sebagai fasilitator; jika perjodohan gagal, seringkali itu dianggap sebagai faktor "belum jodoh," bukan kegagalan sistem, selama proses kurasinya profesional.
"Perjodohan itu ya tentu saja kayak ada gambling-nya juga. Tapi bahwa dengan data yang akurat, data yang saling interest-nya apa, keinginan bertemu dengan orang seperti apa, itu kan pasti bisa difasilitasi," paparnya.
Pada akhirnya, optimisme ini didasari pada satu kebutuhan fundamental yang tak lekang oleh waktu: kebutuhan dasar manusia untuk berjumpa secara fisik, yang hingga kini tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh teknologi.
"Mereka membutuhkan ruang-ruang perjumpaan yang lebih real, lebih manusiawi," tegas Andreas.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Hanya di Jateng, DIY Berlakukan Pajak Opsen 66 Persen, Pajak Kendaraan Tak Naik
- 5 Sepatu Tanpa Tali 'Kembaran' Skechers Versi Murah, Praktis dan Empuk
- Jalan Lingkar Sumbing Wonosobo Resmi Beroperasi, Dongkrak Ekonomi Tani dan Wisata Pegunungan
- 5 Rekomendasi HP Layar Besar untuk Orang Tua Mulai Rp1 Jutaan
- 10 Rekomendasi Cream Memutihkan Wajah dalam 7 Hari BPOM
Pilihan
-
Trump Tetapkan Tarif Baru 10 Persen Usai Kesepakatan RI-AS, Indonesia Rugi?
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
-
Impor Mobil India Rp 24 Triliun Berpotensi Lumpuhkan Manufaktur Nasional
-
Jadwal Imsak Jakarta Hari Ini 20 Februari 2026, Lengkap Waktu Subuh dan Magrib
-
Tok! Eks Kapolres Bima AKBP Didik Resmi Dipecat Buntut Kasus Narkoba
Terkini
-
Pelindo Siap Layani Arus Mudik Lebaran di 63 Terminal Penumpang
-
DTSEN Rayakan Satu Tahun, Pemutakhiran Data Terus Diperkuat
-
Pelaku Percobaan Pemerkosaan Lansia di Gunungkidul Ternyata Pelajar, Kini Dititipkan ke LPKA
-
Bukan Kasus Biasa: Tersangka Pembakar Mushola di Maluku Tenggara Terancam 9 Tahun Penjara
-
Satpol PP Sita Ribuan Botol Miras dari Sejumlah Warung dan Gudang di Jakarta Barat
-
Pasca OTT Bea Cukai, KPK Gandeng Inspektorat Kemenkeu Bahas Pencegahan Korupsi
-
Eks Pimpinan KPK Bingung Soal Dakwaan di Perkara Pertamina: Ini Apa Sih Esensinya?
-
KPK Telusuri Dugaan Aliran Dana Kasus Impor Barang KW ke Dirjen Bea Cukai
-
Dinamika Kepemimpinan Kampus di Sulsel Uji Netralitas dan Independensi Akademik
-
Eks Jubir Tessa Mahardhika Sugiarto Resmi Dilantik Jadi Direktur Penyelidikan KPK