- Profesor UGM, Zainal Arifin Mochtar, memperingatkan dunia termasuk Indonesia bergerak menuju konservatisme otoriter.
- Fenomena ini disebabkan kegagalan kekuatan liberal global dan meningkatnya konservatisme anak muda Indonesia.
- Zainal menilai Indonesia mengalami "Efek Treadmill," banyak usaha namun tetap diam di tempat pasca-Reformasi.
Suara.com - Profesor Tata Negara Universitas Gadjah Mada (UGM), Profesor Zainal Arifin Mochtar, memberikan peringatan serius mengenai kondisi demokrasi di Indonesia dan dunia.
Pria yang akrab disapa Uceng ini menyebut bahwa saat ini dunia, termasuk Indonesia, sedang bergerak ke arah konservatisme yang memicu penguatan gejala otoritarianisme.
Menurut Zainal, fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia.
Ia menyoroti kemenangan kelompok konservatif di berbagai belahan dunia, mulai dari Belanda, Jepang, Amerika Serikat, hingga negara-negara di Eropa dan Afrika.
Zainal menilai salah satu penyebab utamanya adalah kegagalan kekuatan liberal dalam tampil meyakinkan.
"Kekuatan liberal di banyak negara gagal tampil meyakinkan. Mereka tampil terlalu kiri sehingga tidak menarik," ujar Zainal pada kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored, Selasa (6/1/2026).
Kondisi global ini berkaitan dengan situasi domestik. Zainal mengungkapkan adanya peningkatan signifikan tren konservatisme di kalangan anak muda Indonesia.
Meski belum mencapai mayoritas mutlak (50 persen plus 1), jumlah anak muda yang berpindah ke arah konservatif meningkat hampir 100 persen.
Zainal melihat adanya 'kebosanan kolektif' terhadap demokrasi.
Baca Juga: Prabowo: Kritik Itu Bagus, tapi Fitnah dan Kebohongan Bisa Merusak Bangsa
"Setelah 20 hingga 30 tahun menjalani demokrasi, muncul pertanyaan mendasar: apakah demokrasi menjamin kesejahteraan ekonomi? Pertanyaan ini membawa kita kembali ke square one," tuturnya.
Menanggapi transisi demokrasi Indonesia sejak Reformasi 1998, Zainal memberikan perumpamaan yang tajam. Ia menyebut Indonesia sedang mengalami 'Efek Treadmill'.
"Kita banyak berlari, berkeringat banyak, tapi sebenarnya tidak bergerak dari tempat semula. Kita diam di tempat," tegasnya.
Lebih jauh, ia mengutip teori Juan Linz mengenai transisi demokrasi yang diibaratkan sebagai jalan berliku.
Sering kali sebuah negara merasa sedang berlari maju menuju demokrasi, namun tanpa disadari justru melakukan putar balik (U-turn) kembali ke pola-pola lama atau otoritarianisme.
Dalam perbincangan tersebut, Zainal juga menyoroti realitas politik praktis di mana pemilu sebagai salah satu pilar demokrasi kerap dianggap gagal membawa perubahan nyata menuju masa depan yang dicita-citakan.
Berita Terkait
-
Prabowo: Kritik Itu Bagus, tapi Fitnah dan Kebohongan Bisa Merusak Bangsa
-
Menteri HAM Minta Polisi Usut Tuntas Teror Terhadap Aktivis Pengkritik Bencana Sumatra
-
Tawuran Awali Tahun Baru di Jakarta, Pengamat Sebut Solusi Pemprov DKI Hanya Sentuh Permukaan
-
Elit PDIP soal Wacana Pilkada Dipilih DPRD: Rakyat Akan Marah, Hak-haknya Diambil
-
Potret Kemunduran Demokrasi dan Menguatnya Corak Otoritarian di Indonesia
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Dicopot Dedi Mulyadi Gegara KTP, Segini Fantastisnya Gaji Kepala Samsat Soekarno-Hatta!
- Intip Kekayaan Ida Hamidah, Pimpinan Samsat Soetta yang Dicopot Dedi Mulyadi gara-gara Pajak
- 7 Tablet Rp2 Jutaan SIM Card Pengganti Laptop, Spek Tinggi Cocok Buat Editing Video
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Ada Lebaran Betawi, Berikut Rekayasa Lalu Lintas di Lapangan Banteng
-
OTT KPK di Tulungagung: Selain Bupati Gatut Sunu Wibowo, 15 Orang Juga Diamankan
-
Tiba di Pakistan, Tim Perunding Iran Ingatkan Pengalaman Pahit Dikhianati AS
-
Jaga Kelestarian Alam, Ekowisata Mangrove di Lombok Timur Ini 'Mengalah' Demi Napas Lingkungan
-
Kisah Supriadi: Dulu Belajar Silvofishery ke Kalimantan, Kini Sukses Budidaya Nila di Lombok Timur
-
KPK OTT di Tulungagung, Bupati Gatut Sunu Diamankan
-
Seskab Teddy Pastikan Indonesia Tidak Akan Tarik Pasukan dari UNIFIL
-
Lagi-lagi Singgung Iran, Ini Sesumbar Donald Trump Soal Pasokan Minyak
-
Kantor Kementerian PU Digeledah Kejati, Seskab Teddy: Silakan, Pemerintah Terbuka untuk Proses Hukum
-
Seskab Teddy: Presiden Prabowo Bakal ke Rusia Dalam Waktu Dekat