- Paham radikal mudah diakses remaja melalui ruang digital, seringkali tergabung dalam grup True Crime Community.
- Kombes Mayndra Eka Wardhana mengaitkan serangan pisau remaja Moskow dengan pengeboman SMA 72 Jakarta.
- Densus 88 berhasil mencegah potensi aksi kekerasan sekolah serupa di Jepara, Kalimantan Barat, dan Jawa Timur.
Suara.com - Aksi kekerasan akibat terpapar paham radikalisme dinilai sangat mengkhawatirkan. Pasalnya, paham tersebut dapat dengan mudah diakses melalui ruang digital.
Biasanya, para remaja yang terpapar paham radikal tergabung dalam grup True Crime Community.
Juru Bicara Densus 88, Kombes Mayndra Eka Wardhana, menyebut meski para anggota grup tersebut belum pernah bertemu secara langsung, mereka memiliki kesamaan dalam pola aksi.
Mayndra menyebut salah satu contoh kasus terjadi di Rusia, ketika seorang remaja melakukan aksi kekerasan di sebuah sekolah di Moskow. Saat itu, remaja tersebut melakukan serangan menggunakan pisau.
Akibat serangan tersebut, seorang anak tewas dan seorang petugas keamanan mengalami luka.
Ironinya, Komite Investigasi Rusia menemukan kaitan antara serangan tersebut dengan peristiwa pemboman di SMA 72 Jakarta.
“Nah, di dalam gagang senjata pelaku penusukan di Moskow, Rusia ini, kita bisa lihat bahwa dia menuliskan ‘Jakarta Bombing 2025’,” kata Mayndra di Mabes Polri, Rabu (7/1/2026).
Mayndra menduga insiden tersebut terinspirasi oleh aksi bom yang dilakukan seorang siswa di SMA 72 Jakarta.
“Nah, diduga ini terinspirasi adanya insiden bom SMAN 72 di Jakarta,” ucapnya.
Baca Juga: Densus 88: 70 Anak Terjerat Grup 'True Crime', Berawal dari Bullying dan Broken Home
Mayndra juga menambahkan bahwa sebelum ledakan di SMA 72 terjadi, pihak Densus 88 Antiteror Polri telah mengidentifikasi potensi aksi serupa.
“Di Jepara itu ada seorang anak yang juga ingin menjadi pelopor kekerasan di sekolah, kemudian ingin mengunggah juga di komunitas mereka. Dan ini bisa ditangani oleh Densus 88 bersama dengan Polda Jateng,” ucapnya.
Namun, aksi serupa di berbagai wilayah, lanjut Mayndra, berhasil dicegah. Di antaranya upaya aksi teror di Kalimantan Barat pada 8 Desember lalu.
“Di Jatim (Jawa Timur), 17 Desember 2025, juga dicegah untuk tidak melakukan aksi,” tandasnya.
Berita Terkait
-
Densus 88: 70 Anak Terjerat Grup 'True Crime', Berawal dari Bullying dan Broken Home
-
Densus 88 Antiteror Polri Sebut Remaja Jakarta Paling Banyak Terpapar Paham Radikal
-
Banyak Anak Indonesia Terpapar Paham Neo-Nazi, Densus 88 Antiteror: Kurang Filter dari Negara
-
AS 'Kuasai' Minyak Venezuela, Ogah Berbagi dengan China, Iran dan Rusia
-
Densus 88: Ideologi Neo Nazi dan White Supremacy Menyasar Anak Lewat Game Online!
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
Terkini
-
Ironi Pelapor Mafia Tanah Jadi Tersangka Fitnah, Kini Minta Perlindungan LPSK
-
Bantah Main Mata, PMJ Tegaskan Kasus Andrie Yunus Tak Dihentikan Diam-diam
-
Dukung Putusan MK, Dasco Pastikan Syarat Keterwakilan Perempuan Masuk RUU Pemilu
-
Dasco Dukung Putusan MK soal Parpol Tanpa 30 persen Caleg Perempuan Bakal Gugur
-
Pemerataan Pendidikan, Anak-Anak di Daerah Terpencil Bogor Kini Punya Gedung Sekolah Dasar Baru
-
Lawan Impunitas, Nasib Kasus Air Keras Andrie Yunus Ditentukan 2 Juni
-
Kementerian PANRB dan Kemenkes Perkuat SDM Kesehatan Dukung Program Prioritas Presiden
-
Bocoran Der Spiegel: AS Berencana Pangkas Drastis Kontribusi Militer untuk NATO
-
Misteri CCTV 'Gaib' di Kasus Andrie Yunus: Muncul Saat Rilis, Lenyap di Meja Hijau
-
Fleksibilitas Kerja ASN Perkuat Budaya Kerja Profesional dan Berbasis Kinerja