- Densus 88 mengidentifikasi sekitar 70 anak usia sekolah (11-18 tahun) di Indonesia telah bergabung dengan kelompok radikal.
- Faktor utama keterlibatan remaja ini adalah masalah psikologis seperti perundungan dan kondisi keluarga yang rapuh (broken home).
- DKI Jakarta mencatat sebaran tertinggi keterlibatan radikalisme remaja dengan total 15 kasus teridentifikasi.
Suara.com - Fenomena radikalisme kini menyasar generasi muda dengan fakta yang mengkhawatirkan. Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkapkan sedikitnya 70 anak di Indonesia teridentifikasi bergabung dalam organisasi berpaham radikal.
Mirisnya, puluhan anak tersebut masih berada di usia sekolah, yakni antara 11 hingga 18 tahun.
“Jadi transisi antara SMP ke SMA,” kata Juru bicara Densus 88, Kombes Mayndra Eka Wardhana, di Mabes Polri, Rabu (7/1/2026).
Berawal dari Luka: Bullying dan Broken Home
Berdasarkan hasil asesmen dan wawancara mendalam yang dilakukan tim Densus 88, terungkap bahwa keterlibatan para remaja ini bukan tanpa alasan. Mayoritas dari mereka masuk ke dalam jerat radikalisme bermula dari masalah psikologis dan lingkungan.
“Dari mapping dan asesmen yang dilakukan bersama, bisa diidentifikasi bahwa ada penyebab yang memicu anak-anak bergabung dengan komunitas ini, salah satunya adalah terjadinya perundungan,” jelas Mayndra.
Selain menjadi korban bully di sekolah maupun lingkungan rumah, faktor rapuhnya fondasi keluarga menjadi pintu masuk paham berbahaya ini.
“Kemudian broken home, rata-rata orang tuanya bercerai, meninggal dunia, kurang perhatian, keluarga tidak harmonis, trauma di dalam keluarga atau kerap menyaksikan kekerasan di rumahnya,” ungkapnya.
Jakarta Jadi Wilayah Terbanyak
Baca Juga: SPPG, Infrastruktur Baru yang Menghubungkan Negara dengan Kehidupan Sehari-Hari Anak Indonesia
Mayndra membeberkan bahwa sebaran puluhan remaja ini mencakup berbagai wilayah di Indonesia. Namun, wilayah ibu kota mencatatkan angka tertinggi.
“Provinsi yang terbanyak yaitu DKI Jakarta ada 15 orang,” kata Mayndra.
Setelah Jakarta, Jawa Barat menyusul dengan 12 orang, Jawa Timur 11 orang, dan Jawa Tengah sebanyak 9 orang.
Data Densus 88 juga mencatat persebaran di wilayah lain, yakni: Kalimantan Selatan: 3 orang; Bali, Sumatera Selatan, Banten, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara: Masing-masing 2 orang; Lampung, Sumatera Utara, Yogyakarta, NTT, Aceh, Kepulauan Riau, Sulawesi Tengah: Masing-masing 1 orang.
Belum Bertemu, Tapi 'Satu Frekuensi' dalam Kekerasan
Meskipun tersebar di berbagai provinsi, para remaja ini terhubung melalui pola pikir yang serupa. Fakta mengejutkan lainnya adalah mereka belum pernah bertatap muka secara fisik secara keseluruhan, namun sudah terikat oleh ideologi yang sama.
Mayndra mengatakan, meski puluhan anak itu belum bertemu secara langsung, namun mereka memiliki kesamaan dalam melakukan tindak kekerasan.
Kini, pihak kepolisian terus melakukan pendampingan dan pemantauan intensif untuk memulihkan para remaja tersebut agar bisa kembali ke pangkuan NKRI dan terlepas dari pengaruh paham radikal.
Berita Terkait
-
Seorang Remaja di Rusia Serang Sekolah Usai Terinspirasi Aksi Bom SMA 72
-
Densus 88: 70 Anak Terjerat Grup 'True Crime', Berawal dari Bullying dan Broken Home
-
Banyak Anak Indonesia Terpapar Paham Neo-Nazi, Densus 88 Antiteror: Kurang Filter dari Negara
-
Hujan Tinggi Saat Anak Masuk Sekolah, IDAI Ingatkan Waspada Penularan Penyakit Ini
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- 4 Shio Beruntung Hari ini 21 Agustus 2026 yang Diprediksi Terbebas dari Masalah Keuangan
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Meriahkan HUT Kemerdekaan, Turnamen Sepak Bola di Kabupaten Tangerang Sukses Digelar
-
Pemprov DKI Kaji Usulan Penghapusan Jalur Sepeda di Jakarta
-
Rektor Unsoed Jadi Tersangka KPK, Kemdiktisaintek Tunjuk Ali Rokhman sebagai Plt
-
Diselimuti Kabut Asap, Kualitas Udara Pekanbaru Sangat Tidak Sehat
-
Kabut Asap Karhutla Ganggu Bandara SMB II Palembang, 6 Penerbangan Harus Tertunda
-
Hadapi El Nino, Meki Fritz Nawipa Siapkan Helikopter hingga Satgas Kampung
-
Viral 4 Kementerian Alokasikan Dana Rp4,1 Miliar untuk Pengadaan Mobil Golf
-
Beli Sepatu ANTA Dapat Diskon Ratusan Ribu dari BRI, Cek Caranya di Sini!
-
Indonesia Masuk 6 Negara dengan Obesitas Rendah di Dunia, Apa Rahasianya?
-
Karhutla Makin Ganas, Anggaran Pencegahan Kalah dari Belanja Rutin Daerah