News / Nasional
Selasa, 03 Februari 2026 | 13:25 WIB
Hakim Mahkamah Konstitusi, Arief Hidayat membacakan Dissenting Opinion saat sidang putusan Perselisihan Hasil Pemilu Umum (PHPU) di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Senin (22/4/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Hakim Konstitusi Arief Hidayat akan mengakhiri masa jabatannya setelah 13 tahun mengabdi pada Selasa, 3 Februari 2026.
  • Arief merilis buku reflektif pada 2 Februari 2026 tentang pengabdiannya dan isu Pilpres 2024 di hadapan publik.
  • Ia mengkritik keras Pilpres 2024 sebagai paling hiruk pikuk karena adanya dugaan keterlibatan serta "cawe-cawe" Presiden Jokowi.

Suara.com - Panggung Mahkamah Konstitusi (MK) segera kehilangan salah satu sosok paling vokal dan ikonik. Arief Hidayat akan mengakhiri masa jabatannya sebagai Hakim Mahkamah Konstitusi (MK), Selasa (3/2/2026) pukul 24.00 WIB, setelah 13 tahun mengabdi.

Selama lebih dari satu dekade, Arief Hidayat bukan sekadar penjaga konstitusi, melainkan juga figur yang kerap memicu diskusi publik lewat pernyataan-pernyataan beraninya di ruang sidang.

Menandai akhir perjalanannya di benteng terakhir keadilan tersebut, Arief merilis sebuah karya reflektif. Dia pun merilis buku yang bertajuk 'Peluncuran dan Bedah Buku Arief Hidayat 13 Tahun Mengabdi sebagai Hakim Konstitusi' pada Senin 2/2/2026 di Aula Gedung 1 MK, Jakarta.

Acara ini menjadi momen emosional sekaligus blak-blakan mengenai apa yang terjadi di balik layar selama ia menjabat, terutama saat menangani sengketa politik paling panas di Indonesia.

Protes Keluarga di Balik Sikap Kritis

Menjadi hakim konstitusi yang vokal ternyata bukan tanpa risiko, bahkan di lingkup keluarga sendiri. Arief mengungkapkan bahwa di akhir masa jabatannya, ia sempat diprotes anaknya terkait kritiknya terhadap Pilpres 2024.

Sebagaimana diketahui, Arief merupakan salah satu hakim yang memberikan pandangan berbeda atau dissenting opinion dalam putusan sengketa hasil Pilpres 2024 yang lalu.

Sikapnya yang keras menyoroti dugaan ketidaknetralan atau "cawe-cawe" Presiden Joko Widodo (Jokowi) rupanya membuat sang anak khawatir. Namun, bagi Arief, integritas sebagai seorang negarawan tidak bisa ditawar oleh rasa nyaman.

"Konsistensi saya sering juga dianu (diprotes) anak-anak. 'Pa mbok sudahlah, sudah tua, enggak usah aneh-aneh, Pilpres mbok dibiarkan saja'. Tapi hati nurani saya tidak bisa mengatakan itu. Sehingga saya berbuat lain," cerita dia.

Baca Juga: Gugatan Nikah Beda Agama Ditolak MK, Pencatatan Perkawinan Tetap Ikuti Hukum Nasional

Kelakar Soal Kekalahan Ganjar-Mahfud

Di sela-sela suasana formal peluncuran bukunya, Arief Hidayat menunjukkan sisi humanisnya dengan melontarkan candaan yang memecah tawa hadirin.

Tak sampai di sana, saat ingin menyudahi pidatonya, Arief pun sempat berkelakar soal kekalahan Ganjar Pranowo dan Mahfud Md di Pilpres 2024.

Ia menghubungkan keberhasilan kariernya dengan sebuah filosofi sederhana tentang cara naik dan turun panggung yang menurutnya memiliki makna simbolis bagi keberuntungan seseorang.

"Kebiasaan saya kalau naik panggung dari sini (menunjuk tangan kanannya) turun dari sana (tangan kiri) supaya karirnya enggak muter-muter, jelas. Jadi dari dekan terus Ketua MK karena naiknya dari sini, turunnya dari sana. Pak Mahfud seadainya sering begitu, itu kemarin Pak Ganjar bisa jadi presiden dan wakil presiden," kelakar Arief yang membuat Mahfud dan para tamu undangan tertawa.

Arief bahkan melanjutkan guyonannya dengan menyebut bahwa Mahfud MD, yang juga hadir dalam acara tersebut, mungkin melakukan kesalahan teknis kecil saat berkampanye.

Load More