- Aktivis kritik pertemuan Presiden Prabowo dengan taipan karena dinilai pro oligarki.
- Ahmad Khozinudin sesalkan Prabowo undang pengusaha besar di tengah gerakan anti-oligarki.
- Pertemuan Prabowo dan taipan dianggap kontradiktif dengan upaya mengembalikan kedaulatan rakyat.
Suara.com - Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan lima pengusaha papan atas Indonesia pada 10 Februari lalu memicu reaksi keras dari kalangan aktivis hukum. Ahmad Khozinudin, salah satu tokoh yang vokal menyuarakan perlawanan terhadap oligarki, menyatakan kekecewaannya karena pertemuan tersebut dinilai kontradiktif dengan semangat pengembalian kedaulatan rakyat.
Ahmad Khozinudin mengungkapkan rasa terkejutnya atas agenda tersebut. Pasalnya, pertemuan itu terjadi di tengah menguatnya gerakan sipil yang menuntut pemerintah untuk membatasi dominasi kelompok yang sering disebut sebagai "sembilan naga".
“Awalnya saya cukup terkejut. Di saat kami memberikan komitmen untuk mendukung penuh agenda Presiden dalam melawan oligarki—sebagaimana disampaikan kepada sejumlah tokoh kritis nasional melalui deklarasi—kok tiba-tiba mereka (para pengusaha) justru diundang,” ujar Ahmad Khozinudin dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, Jumat (13/2/2026).
Ahmad secara eksplisit menyebutkan lima nama pengusaha yang hadir dalam pertemuan tersebut, di antaranya Antoni Salim (Salim Group), Sugianto Kusuma alias Aguan (Agung Sedayu Group), dan Franky Wijaya (Sinarmas). Selain itu, hadir pula dua nama besar lainnya, yakni Boy Thohir (Adaro Group) dan Prayogo Pangestu (Barito Pacific).
Menurut Ahmad, nama-nama tersebut merupakan representasi dari kekuatan ekonomi besar yang selama ini menguasai konsesi lahan dan sumber daya alam (SDA) di Indonesia. Ia merujuk pada deklarasi "Mengembalikan Kedaulatan Rakyat" yang digelar di Gedung Joang beberapa waktu lalu bersama tokoh lain seperti Abraham Samad dan Said Didu.
“Memang saat itu, dalam pertemuan dengan Presiden, beliau menyebut sembilan naga oligarki. Namun, oleh Abraham Samad nama-nama itu tidak dibocorkan (spill) ke publik karena dianggap tidak etis,” ujarnya.
Kritik Ahmad Khozinudin ini didasari pada tuntutan utama para aktivis untuk mengembalikan hak rakyat atas sumber daya alam sesuai mandat Pasal 33 Ayat 3 UUD 1945. Ia menilai sektor tambang, hutan, dan sawit saat ini terlalu didominasi oleh segelintir orang.
“Mandat pengelolaan SDA ada pada negara. Hasilnya harus menjadi pemasukan APBN dan disalurkan untuk kepentingan rakyat. Inilah protap makna dari penguasaan oleh negara yang digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat,” tegasnya.
Meski menyayangkan pertemuan tersebut, Ahmad menganggap momentum ini sebagai "lampu hijau" bagi para aktivis untuk tetap konsisten mengawal kebijakan pemerintah. Ia memastikan bahwa gerakan menolak konsesi lahan yang dianggap merugikan rakyat, seperti dalam kasus PIK 2, akan terus disuarakan oleh lintas tokoh dan berbagai elemen masyarakat.
Baca Juga: Prabowo Ngaku Dapat Laporan: Kemiskinan hingga Pengangguran di Daerah Menurun
__________________________
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Local Media Community Gandeng Google Dukung Penguatan Ekosistem Media Lokal
-
Tegas! Menkeu Purbaya Ungkap Tak Ada Kenaikan Gaji Guru di 2027
-
Renjana Perca, Saat Fashion Indonesia Bertemu Ekonomi Sirkular
-
Modal Foto AI Berseragam Polisi, Pria di Bandung Tipu Korban dan Bawa Lari Uang
-
Insentif Guru Ngaji di Bogor Jadi Rp1,2 Juta per Tahun
-
Jaga Gajah Sumatera, Pertamina Kilang Plaju Perkuat Upaya Melestarikan Warisan Alam Sumsel
-
Temukan 1.500 Warga Terjebak Grup LGBT Daring, Pemkab Serang Siapkan Langkah Pembinaan
-
Bank Sumsel Babel dan Unsri Bersinergi Menyiapkan Generasi Pemimpin Masa Depan
-
Havaianas Debut Kitten Heel di Copenhagen Fashion Week
-
Perombakan Buku Sekolah, Solusi Literasi atau Cuma Proyek Bisnis Baru?