News / Nasional
Kamis, 26 Februari 2026 | 20:48 WIB
Habib Husein Jafar Al-Hadar menyampaikan tausyiah di Taman Literasi Blok M, Jakarta Selatan, Kamis (26/2/2026). (dok. ist).
Baca 10 detik
  • Habib Jafar menyampaikan Ramadan melatih empati sosial melalui rasa lapar dan haus yang memicu kepedulian pada sesama.
  • Rezeki dipahami lebih luas dari materi saja, mencakup kesehatan, waktu, dan kehadiran sebagai kekayaan penting.
  • Kekayaan sejati adalah kekayaan mental dan hati, yang membutuhkan penataan ulang standar sukses diri menuju rasa cukup.

Dalam sambutannya, CCO Katadata Heri Susanto menyampaikan bahwa tema “kaya hati” dipilih sebagai refleksi atas kecenderungan masyarakat modern yang sering menilai diri dari capaian materi.

“Di era sekarang, kita sering terjebak dalam angka pencapaian atau status ekonomi. Padahal Ramadan mengajak kita berbenah dari fokus memiliki menjadi memaknai, dari hobi mengumpulkan menjadi semangat memberi, dan dari rasa takut kekurangan menjadi merasa tercukupi,” ujarnya.

Ia juga mengutip Surah Al-Baqarah ayat 245 untuk menegaskan bahwa memberi bukan berarti kehilangan, melainkan bentuk investasi spiritual dan sosial yang bernilai.

Selain tausiah, acara ini turut menghadirkan sesi diskusi Databoks by Katadata yang memaparkan tren zakat di Indonesia. Manajer Databoks Jamalianuri menjelaskan bahwa pencarian informasi terkait zakat dan donasi digital cenderung meningkat setiap Ramadan, seiring kemudahan akses dan transparansi kanal digital yang semakin diminati generasi muda.

“Literasi zakat meningkat seiring kemudahan akses informasi. Tantangannya adalah memastikan pemahaman publik tentang ke mana dana disalurkan dan dampak sosialnya,” ujarnya.

Sementara itu, VP Finance and Business Development Katadata Ivan Triyogo Priambodo menyoroti zakat sebagai instrumen dampak sosial yang berkelanjutan.

“Zakat bukan sekadar kewajiban individual, tetapi investasi sosial yang dampaknya bisa dirasakan lebih luas ketika dikelola dengan baik,” tuturnya.

Load More