- Peperangan berevolusi dari konflik darat tradisional menjadi smart war multidimensi mencakup siber.
- Era siber ditandai dengan penggunaan AI, sistem otonom, dan drone sebagai ciri utama perang modern.
- Penguasaan teknologi pertahanan udara, seperti sistem berlapis, menjadi faktor penting penentu keamanan negara saat ini.
Suara.com - Perkembangan teknologi telah mengubah wajah peperangan modern. Jika dahulu konflik militer hanya terjadi di darat dan laut, kini peperangan berlangsung secara multidimensi dengan melibatkan udara, ruang angkasa, hingga dunia siber.
Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Chappy Hakim menyebut fenomena tersebut sebagai “smart war”, yakni perang yang bertumpu pada kecerdasan teknologi.
Dalam perbincangannya di kanal YouTube Rhenald Kasali, Chappy menjelaskan bahwa pola konflik manusia terus berevolusi seiring perkembangan teknologi militer.
Evolusi Perang dari Darat hingga Udara
Menurut Chappy, bentuk perang paling awal bersifat tradisional dan terjadi di daratan. Pada fase ini, negara atau kerajaan membangun tembok sebagai bentuk pertahanan untuk melindungi wilayah dari serangan musuh.
“Yang paling tradisional perang itu di daratan. Itu sebabnya orang untuk menjaga keamanannya membangun tembok. Kita mengenal Tembok Cina, Tembok Berlin, dan zaman Romawi semuanya tembok,” ujar Chappy, dikutip Senin (9/3/2026).
Seiring perkembangan teknologi, peperangan tidak lagi terbatas di darat. Laut dan udara kemudian menjadi arena konflik berikutnya.
Ketika teknologi penerbangan berkembang, karakter perang pun berubah menjadi lebih kompleks.
Chappy menjelaskan bahwa kehadiran kekuatan udara membuat konflik berkembang menjadi perang total.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Mulai Meroket, BBM Indonesia Kapan Naik?
“Tetapi begitu udara bisa digunakan, nah itu berubah semuanya. Perang menjadi total war,” katanya.
Dalam kondisi tersebut, sistem pertahanan juga harus berkembang menjadi total defense system, yang melibatkan berbagai domain pertahanan secara bersamaan.
Era Siber dan Lahirnya Smart War
Transformasi terbesar dalam peperangan terjadi ketika teknologi digital dan kecerdasan buatan mulai digunakan dalam sistem militer. Chappy menyebut fase ini sebagai cyber space era.
Ia menjelaskan ada tiga karakter utama yang menandai perang di era siber.
“Cyber tuh ada tiga ciri yang mudah untuk bisa kita mengenal bahwa itu cyber. Yang pertama adalah penggunaan Artificial Intelligence, yang kedua adalah pengembangan dari autonomous system, dan yang ketiga adalah penggunaan drone,” jelasnya.
Kombinasi teknologi tersebut membuat peperangan tidak lagi semata-mata bergantung pada jumlah persenjataan atau kekuatan militer konvensional.
“Sehingga berubah lagi perang tuh menjadi tidak hanya perang total, tapi saya mengatakannya sebagai perang smart,” ujarnya.
Menurut Chappy, di era ini kemenangan tidak selalu ditentukan oleh jumlah pesawat tempur atau senjata yang dimiliki suatu negara.
“Tidak jadi jaminan bahwa sebuah negara punya pesawat banyak kemudian dia bisa menang. Tunggu dulu, karena sekarang udah di cyber space udah di cyber world era. Ada yang automation di situ, ada data link, ada segala macam, ada network centric system,” kata Chappy.
Pertahanan Udara Jadi Faktor Penentu
Dalam konteks perang modern, penguasaan wilayah udara menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keamanan negara. Sistem pertahanan udara berlapis kini menjadi tulang punggung strategi pertahanan banyak negara.
Chappy mencontohkan sistem pertahanan udara yang dimiliki Israel, seperti Iron Dome dan Arrow 3.
Menurutnya, konsep pertahanan tersebut sebenarnya merupakan turunan dari program pertahanan Amerika Serikat pada era Perang Dingin yang dikenal sebagai Strategic Defense Initiative (SDI).
“Itu sebenarnya turunan dari SDI… Dia membendung serangan-serangan rudal dari luar sehingga dia bisa jaga,” ujarnya.
Persaingan Teknologi Sejak Perang Dingin
Chappy juga menyinggung bagaimana perlombaan teknologi militer berkembang pesat sejak rivalitas antara Amerika Serikat dan Uni Soviet pada masa Perang Dingin (Cold War).
Persaingan tersebut memicu percepatan inovasi di bidang teknologi militer, terutama dalam sektor penerbangan dan ruang angkasa.
“Di era Perang Dingin itulah perlombaan senjata yang memicu orang meningkatkan kualitas persenjataan, teknologi perang, terutama teknologi penerbangan itu maju sangat pesat,” jelasnya.
Perang Modern dan Ketidakpastian Global
Menurut Chappy, dinamika geopolitik global saat ini semakin sulit diprediksi. Kepentingan nasional masing-masing negara, ditambah perubahan kepemimpinan politik dunia, membuat situasi internasional semakin kompleks.
Ia bahkan menyebut kondisi global saat ini sebagai global disorder, di mana peta aliansi dan konflik tidak selalu jelas.
Dalam situasi tersebut, konsep smart war menunjukkan bahwa masa depan peperangan akan semakin ditentukan oleh teknologi, kecerdasan sistem, serta kemampuan mengelola data dan jaringan militer secara terintegrasi.
“Smart war. Karena kecerdasan melawan kecerdasan,” pungkas Chappy.
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
Terpopuler
- 43 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 7 Maret 2026: Klaim 10 Ribu Gems dan Kartu Legenda
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- 8 Rekomendasi Moisturizer Terbaik untuk Mencerahkan Wajah Jelang Lebaran
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Siapa Istri Zendhy Kusuma? Ini Profil Evi Santi Rahayu yang Polisikan Owner Bibi Kelinci
Pilihan
-
Patuhi Perintah Trump, Australia Kasih Suaka ke 5 Pemain Timnas Putri Iran
-
Trump Umumkan Perang Lawan Iran 'Selesai' Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
-
BREAKING NEWS: Mantan Pj Gubernur Sulsel Tersangka Korupsi Bibit Nanas
-
Trump Cetak Sejarah di AS: Presiden Pertama yang Berperang Tanpa Didukung Warganya
-
IHSG Keok 3,27 Persen Terimbas Konflik Iran-AS, Bos BEI: Kita Sudah Kuat!
Terkini
-
Dampak Hebat Perang AS-Iran: Minyak Meroket hingga Harga BBM RI Terseret!
-
Pakar Pertahanan: Kesiapan Negara Hadapi Perang Modern Tercermin dari Kehidupan Sehari-hari
-
Presiden Prancis Ingatkan Donald Trump, Menggulingkan Rezim Iran Tak Semudah Menjatuhkan Bom
-
Demi Jaga Hukum Internasional, Puan Desak PBB Segera Bertindak Atasi Konflik AS-Israel Vs Iran
-
Dampak Harga Minyak Dunia Naik Mulai Terasa, di Sini BBM Sudah Batasi, SPBU Antre, dan Kampus Libur
-
Kemlu RI Kawal Kepulangan 32 WNI dari Iran, Ini Jadwal Kedatangannya
-
Puan Sampaikan Duka Cita Mendalam atas Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei
-
Angka Kekerasan di Jakarta Tembus 35 Ribu Kasus, Pemprov DKI Diminta Segera Cari Solusi
-
Uji Publik Batas Nikotin dan Tar Digelar, Pemerintah Klaim Dengarkan Kekhawatiran Industri Tembakau
-
Iran Ancam Balik Militer AS yang Berencana Kawal Kapal Tanker di Selat Hormuz: Kami Tunggu!