News / Internasional
Selasa, 10 Maret 2026 | 12:40 WIB
Donald Trump dan Prabowo Subianto (USTradRap)
Baca 10 detik

 

  • Donald Trump memberikan pernyataan yang membingungkan mengenai durasi intervensi militer AS di Iran.

  • Harga minyak dunia melonjak hingga US$ 100 per barel akibat ketidakpastian arah kebijakan AS.

  • Trump memicu kontroversi dengan menuduh Iran mengebom sekolahnya sendiri di kota Minab.

Suara.com - Dunia internasional saat ini tengah berada dalam ketidakpastian mendalam menyusul pernyataan terbaru dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Melalui konferensi pers di Doral, Florida, Trump memberikan gambaran yang tidak konsisten mengenai durasi operasi militer di wilayah Iran.

Situasi ini memicu kecemasan bagi para sekutu di Timur Tengah yang mengkhawatirkan terjadinya eskalasi konflik dalam jangka panjang.

Dampak dari ketidakjelasan ini langsung terasa pada sektor ekonomi global dengan lonjakan harga minyak mentah.

Saat ini nilai perdagangan minyak telah melampaui angka US$ 100 per barel akibat sentimen negatif pasar.

Kehadiran Trump di depan publik sebenarnya bertujuan untuk menenangkan pasar serta memberikan arah kebijakan yang konkret.

Namun, dalam durasi bicara selama 35 menit, sang presiden justru lebih banyak menonjolkan kekuatan persenjataan militer negaranya.

Ia tampak enggan memaparkan detail teknis mengenai langkah strategis untuk mengakhiri pertempuran yang sedang berlangsung tersebut.

Sikap ambigu ini terlihat saat ia menjawab pertanyaan awak media mengenai kapan tepatnya pasukan akan ditarik.

Baca Juga: Sempat Tembus 119 Dolar AS, Harga Minyak Dunia Jatuh di Bawah 90 Dolar AS

Meskipun sebelumnya menyebut perang "hampir selesai sepenuhnya", ia tidak memberikan tanggal pasti saat dikonfirmasi lebih lanjut.

"Tidak, tapi segera. Saya rasa segera. Sangat segera," kata Trump dikutip The Guardian.

Ketidakselarasan Pernyataan Presiden dan Menteri Pertahanan

Publik mencatat adanya perbedaan narasi yang tajam antara pihak Gedung Putih dengan jajaran kementeriannya sendiri.

Menteri Pertahanan AS sebelumnya sempat menyatakan bahwa gelombang serangan yang terjadi saat ini hanyalah sebuah permulaan.

Trump secara mengejutkan justru membenarkan kedua pernyataan yang saling bertentangan tersebut dalam waktu yang bersamaan.

Ia bahkan melontarkan wacana mengenai pembangunan entitas negara baru di Iran pasca-konflik militer berakhir nanti.

Padahal, secara resmi pemerintahannya selalu menekankan bahwa Amerika Serikat tidak memiliki ambisi untuk melakukan upaya pembangunan negara.

Dalam sebuah pertemuan dengan jajaran Partai Republik, Trump mengeluarkan pernyataan yang memancing perdebatan sengit di ruang publik.

Ia mengklaim pencapaian militer AS sudah besar, namun memberikan catatan yang dianggap tidak masuk akal oleh banyak pengamat.

Ia mengatakan bahwa kemenangan Amerika saat ini "belum cukup menang" dalam konteks operasi di Timur Tengah tersebut.

Pemimpin Demokrat di Senat, Chuck Schumer, segera melayangkan kritik tajam terhadap gaya kepemimpinan Trump yang dianggap tanpa rencana.

Schumer menilai sang presiden hanya bergerak berdasarkan insting tanpa memiliki visi diplomatik yang terukur dan jelas.

Pergeseran Drastis Kebijakan Sanksi Minyak Global

Langkah mengejutkan diambil Trump dengan rencana melonggarkan pembatasan ekspor minyak bagi sejumlah negara tertentu di dunia.

Kebijakan ini diambil sebagai upaya untuk mendinginkan gejolak harga energi yang sedang mencekik banyak negara konsumen.

Langkah tersebut dianggap bertolak belakang dengan tekanan ekonomi yang selama ini diterapkan oleh pemerintahan Amerika Serikat sebelumnya.

Trump beranggapan bahwa normalisasi perdagangan minyak bisa terjadi lebih cepat jika kesepakatan damai segera tercapai di wilayah tersebut.

Banyak analis menilai asumsi presiden ini terlalu optimistis dan tidak berpijak pada realitas ketegangan geopolitik di lapangan.

Agenda konferensi pers tersebut juga diwarnai oleh respons dingin terhadap tragedi kemanusiaan yang menewaskan banyak warga sipil.

Sebanyak 168 orang dilaporkan tewas di sebuah sekolah perempuan di Minab akibat hantaman rudal Tomahawk yang mematikan.

Trump menepis tudingan bahwa pasukannya melakukan kesalahan koordinasi target yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa dari pihak warga.

Secara kontroversial, ia menuduh pihak Iran mungkin memiliki teknologi serupa dan menyerang fasilitas pendidikan mereka sendiri secara sengaja.

Klaim ini dilontarkan tanpa disertai bukti fisik atau intelijen yang valid kepada publik saat sesi tanya jawab.

Ketika para jurnalis mempertanyakan mengapa hanya presiden yang memegang teori tersebut, Trump mendadak mengubah nada bicaranya.

Ia berdalih tidak mengetahui secara mendalam detail peristiwa tersebut dan menyatakan bahwa proses penyelidikan masih terus berjalan.

Sikap menarik diri ini semakin memperkeruh suasana diplomasi internasional yang sedang mencari jalan keluar dari krisis.

Strategi Amerika Serikat untuk keluar dari pusaran konflik Timur Tengah kini menjadi tanda tanya besar bagi para pemimpin dunia.

Kegagalan dalam menentukan sikap yang jelas berisiko membawa tatanan ekonomi global ke arah kerusakan yang jauh lebih parah.

Load More