News / Nasional
Kamis, 19 Maret 2026 | 20:15 WIB
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (kiri) dan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi (kanan) menyampaikan keterangan saat konferensi pers terkait tunjangan hari raya (THR) di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (3/3/2026). [ANTARA FOTO/Fauzan/hma/tom]
Baca 10 detik
  • Pemerintah Indonesia sedang mengkaji skema kerja fleksibel (WFH) satu hari per minggu untuk ASN dan sektor swasta.
  • Kebijakan ini bertujuan menciptakan efisiensi energi akibat kenaikan harga minyak dunia yang dipicu kondisi global.
  • Rencana implementasi WFH diperkirakan dimulai pasca Lebaran, mendapat dukungan Presiden untuk penghematan BBM.

Pemerintah juga akan terus memantau variabel-variabel eksternal yang menjadi dasar kebijakan ini.

Durasi dan keberlanjutan penerapan WFH akan sangat bergantung pada perkembangan situasi geopolitik dan dampaknya terhadap harga komoditas energi dunia.

"Nanti kita lihat situasi harga minyak, situasi perang, jadi kita ikuti situasinya," kata Airlangga.

Faktor ketidakpastian global, termasuk konflik di berbagai kawasan yang memicu ketegangan pasokan minyak, menjadi alasan kuat mengapa pemerintah merasa perlu mengambil langkah antisipatif melalui pengurangan mobilitas masyarakat.

Dukungan Presiden Prabowo dan Target Penghematan BBM

Rencana penerapan kembali skema WFH ini mendapatkan dukungan penuh dari Presiden Prabowo Subianto.

Dalam rapat terbatas tersebut, Presiden menilai bahwa pengurangan mobilitas harian pekerja dapat menjadi solusi efektif untuk menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) secara nasional.

Airlangga menambahkan Presiden Prabowo memberikan tanggapan positif terhadap rencana WFH karena dinilai dapat mendorong penghematan, terutama dari sisi penggunaan bahan bakar akibat berkurangnya mobilitas.

Berdasarkan estimasi awal, penghematan yang bisa dicapai melalui skema satu hari WFH ini tergolong cukup besar bagi pengeluaran rumah tangga maupun beban subsidi negara.

Baca Juga: Semua Kementerian Akan Efisiensi untuk Jaga Defisit Anggaran, Kecuali MBG

"(Respons Presiden) baik karena itu ada penghematan, dari segi penggunaan mobilitas dari bensin. penghematannya cukup signifikan 1/5 dari apa yang biasa kita keluarkan," pungkasnya.

Langkah ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo yang menginginkan Indonesia lebih proaktif dalam menghadapi krisis energi global.

Sebelumnya, dalam Sidang Kabinet Paripurna, Presiden telah mengingatkan jajarannya untuk tidak lengah terhadap situasi dunia yang tidak menentu.

"Tentunya kita juga sekarang harus melakukan langkah-langkah yang proaktif, dalam arti kita harus melakukan penghematan konsumsi BBM. Kita tidak bisa menganggap bahwa apapun terjadi kita aman, ya kita bersyukur kita aman, tapi kita tidak ada upaya untuk mengurangi konsumsi BBM kita," kata Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3).

Pemerintah berharap dengan adanya skema WFH yang terukur, beban ekonomi akibat tingginya harga minyak dapat diredam, sekaligus memberikan keseimbangan baru dalam pola kerja masyarakat pasca-pandemi yang lebih adaptif terhadap tantangan ekonomi global.

Load More