News / Internasional
Senin, 23 Maret 2026 | 07:11 WIB
Serangan rudal Iran ke pangkalan militer gabungan AS-Inggris di Samudra Hindia memicu kekhawatiran baru tentang kemampuan jarak jauh rudal milik Teheran. [Tangkap layar X]

Perang yang dimulai pada 28 Februari 2026 ini awalnya diluncurkan AS dan Israel dengan dalih melumpuhkan program nuklir Iran. Meski demikian, badan pengawas nuklir PBB dan intelijen AS sempat menyatakan bahwa Iran tidak berada di ambang pembuatan bom nuklir sebelum serangan dimulai.

Beberapa poin penting terkait situasi terkini meliputi:

Krisis Energi: Pemblokiran Selat Hormuz oleh Teheran telah memicu lonjakan harga minyak dunia.

Geopolitik Diego Garcia: Pangkalan ini merupakan objek sengketa kedaulatan antara Inggris dan Mauritius, yang kini semakin krusial sebagai pusat operasi militer AS.

Pelanggaran Hukum: Sejumlah pakar hukum internasional menilai agresi ini melanggar Piagam PBB, sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terus mendapat tekanan internasional terkait tuduhan kejahatan perang di Gaza.

Analis militer Elijah Magnier menilai serangan ke target yang jauh seperti Diego Garcia adalah sinyal bahwa Iran mencoba mengubah "persamaan biaya" dalam perang ini.

"Iran tidak mencoba memenangkan perang konvensional karena AS jauh lebih kuat. Mereka mencoba menunjukkan bahwa melanjutkan perang ini akan mendatangkan risiko dan biaya yang sangat tinggi bagi Barat," jelas Magnier.

Kontributor : Rizqi Amalia

Baca Juga: Iran Tembak Rudal Balistik ke Diego Garcia, Pangkalan Pesawat Pengebom Amerika di Samudra Hindia

Load More