News / Internasional
Kamis, 26 Maret 2026 | 20:19 WIB
Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, mengungkap keterlibatan tokoh senior Raúl Castro dalam pembicaraan awal dengan Amerika Serikat. [Tangkap layar X]
Baca 10 detik
  • Presiden Díaz-Canel mengonfirmasi peran kunci Raúl Castro dalam memulai dialog awal dengan Amerika Serikat.
  • Proses dialog Kuba-AS memerlukan waktu panjang, dimulai dengan membangun saluran dan menyusun agenda bersama.
  • Blokade AS menyebabkan krisis bahan bakar parah di Kuba, memicu pemadaman listrik dan ancaman krisis kemanusiaan.

Suara.com - Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, mengungkap keterlibatan tokoh senior Raúl Castro dalam pembicaraan awal dengan Amerika Serikat.

Diaz-Canel menyebut proses dialog masih berada pada tahap awal dan membutuhkan waktu panjang.

“Pertama, kita harus membangun saluran dialog. Kemudian, menyusun agenda bersama dan menunjukkan komitmen nyata untuk melangkah maju,” ujarnya dilansir dari Aljazeera.

Diaz-Canel menegaskan bahwa Raul Castro tetap memainkan peran penting dalam arah kebijakan negara.

“Dia adalah salah satu tokoh yang membimbing bagaimana proses dialog ini harus dijalankan, bersama pemerintah dan partai,” tambahnya.

Meski tidak lagi menjabat sejak 2018, Raul Castro yang kini berusia 94 tahun masih dianggap sebagai figur paling berpengaruh di Kuba.

Raul Castro ebelumnya memimpin pembicaraan bersejarah dengan Barack Obama pada 2014 yang membuka kembali hubungan diplomatik kedua negara.

Ketegangan terbaru dipicu pernyataan Trump yang mengaku akan mengambil alih pemerintahan Kuba.

Di sisi lain, kebijakan tekanan ekonomi terus berlanjut, termasuk ancaman tarif terhadap negara yang memasok minyak ke Kuba.

Baca Juga: 4 Ucapan Kontroversial Trump di Depan Donatur Partai Republik: Serang Media AS hingga Obama

Dampak blokade mulai terasa serius di dalam negeri.

Kuba dilaporkan tidak menerima pasokan bahan bakar selama tiga bulan terakhir, memicu pemadaman listrik massal dan melumpuhkan aktivitas ekonomi.

Pejabat PBB di Kuba, Francisco Pichon, memperingatkan potensi krisis kemanusiaan.

“Jika situasi ini terus memburuk, kita bisa menghadapi krisis serius,” katanya.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, yang sebelumnya memperingatkan kemungkinan “kolaps kemanusiaan”.

Sementara itu, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menilai kondisi kesehatan di Kuba sangat mengkhawatirkan.

Load More