News / Nasional
Jum'at, 27 Maret 2026 | 16:52 WIB
Ilustrasi Kayu Ilegal. (Freepik)
Baca 10 detik
  • Pemberantasan kayu ilegal di Indonesia terhambat oleh pemalsuan dokumen; solusi baru gabungkan sains forensik dan hukum.
  • Teknologi forensik kayu seperti DNA dan isotop penting untuk verifikasi akurat, namun implementasinya terkendala basis data.
  • Penerapan sains forensik memerlukan kolaborasi lintas sektor dan akreditasi laboratorium agar hasilnya sah di pengadilan.

Di sisi lain, akreditasi laboratorium juga menjadi faktor penting. Standar seperti ISO 17025 diperlukan agar hasil analisis dapat diakui sebagai alat bukti sah di pengadilan. Saat ini, laboratorium anatomi kayu di bawah Kementerian Kehutanan telah terakreditasi, sementara laboratorium genetika di IPB University tengah dalam proses serupa.

Langkah lain yang mulai dilakukan adalah penyusunan panduan standar untuk pengambilan dan analisis sampel DNA forensik kayu. Panduan ini diharapkan dapat membantu aparat penegak hukum menerapkan metode ilmiah secara konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan.

Menuju Sistem yang Lebih Transparan

Ke depan, pemanfaatan teknologi ini tidak hanya berpotensi memperkuat penegakan hukum, tetapi juga meningkatkan transparansi rantai pasok kayu. Dengan sistem verifikasi yang lebih akurat, praktik ilegal dapat ditekan, sementara pelaku usaha yang patuh mendapat kepastian hukum.

Namun, keberhasilan pendekatan ini sangat bergantung pada komitmen jangka panjang, baik dalam hal pendanaan, penguatan kapasitas, maupun koordinasi antar-lembaga.

Load More