- 1.251 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menerima sanksi karena tidak memenuhi standar layanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
- DPR mendorong Badan Gizi Nasional memperketat pengawasan, termasuk akreditasi dapur yang melampaui aspek administratif saja.
- Sanksi tegas hingga pencabutan izin operasional diperlukan untuk mencegah keracunan dan menjamin kualitas makanan program MBG.
Suara.com - Data pelanggaran dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) jadi sorotan serius DPR. Sebanyak 1.251 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tercatat mendapat sanksi karena tidak memenuhi standar layanan.
Anggota Komisi IX DPR RI, Neng Eem Marhamah Zulfa, menilai kondisi ini menunjukkan lemahnya pengawasan di lapangan. Ia mendorong Badan Gizi Nasional (BGN) segera memperketat sistem kontrol, termasuk membentuk lembaga akreditasi dapur.
Menurutnya, sertifikasi terhadap dapur MBG tidak boleh berhenti pada aspek administratif semata.
“Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini menyangkut masa depan generasi kita. Jangan sampai sertifikasi hanya menjadi formalitas. Yang paling penting adalah makanan yang disajikan benar-benar aman, sehat, dan layak dikonsumsi,” ujar Neng Eem di Jakarta, Jumat (27/3/2026).
Berdasarkan data yang disorot, dari total 1.251 SPPG yang bermasalah, sebanyak 1.030 unit ditangguhkan operasionalnya, 210 unit mendapat surat peringatan pertama (SP1), dan 11 unit telah mencapai surat peringatan kedua (SP2).
BGN sendiri merancang tiga standar utama yang wajib dipenuhi dapur MBG, yakni sertifikasi laik higiene dan sanitasi, sertifikasi halal, serta Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP).
Namun, Neng Eem mengingatkan bahwa tanpa pengawasan yang ketat, ketiga sertifikasi tersebut berisiko hanya menjadi formalitas.
“Jika ditemukan pelanggaran serius, tidak cukup hanya ditutup sementara. Harus ada tindakan tegas hingga pencabutan izin operasional. Ini penting untuk memberikan efek jera dan menjaga martabat program nasional ini,” tegasnya.
Ia menilai, langkah BGN menjatuhkan sanksi terhadap ribuan dapur tersebut memang menjadi sinyal awal penegakan aturan. Meski begitu, pendekatan ke depan dinilai harus lebih menekankan aspek pencegahan.
Baca Juga: 5 Aksi Dasco Jadi Jangkar Legislasi hingga Persatuan Nasional di Bulan Maret 2026
Neng Eem juga menyinggung potensi risiko yang muncul jika pengawasan tidak diperketat, mulai dari kasus keracunan makanan hingga distribusi makanan yang tidak layak konsumsi.
Dengan anggaran besar yang digelontorkan untuk program MBG, ia menilai sistem akreditasi harus mampu menjamin kualitas secara menyeluruh.
“Ke depan, kita berharap tidak ada lagi kasus keracunan atau makanan basi. Sertifikasi ini harus menjadi garansi mutlak bahwa program MBG aman dan berkualitas tinggi,” pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
Gubernur Jakarta Siapkan Jalur Bawah Tanah di Bundaran HI Buat Penjalan Kaki
-
Janji Pramono Anung di HUT ke-499 Jakarta: Banjir Masih Ada, Tapi Tidak Akan Separah Dulu
-
Pramono Ungkap Biang Kerok Kemacetan Jakarta, 8 Juta Orang Keluar-Masuk Setiap Hari
-
Unik! Demi Nonton Mahalini, Warga 'Nangkring' di Atas Mobil Damkar saat Perayaaan HUT Jakarta
-
Bocah Terpisah dari Ortu hingga Istri Kehilangan Suami Warnai Malam Puncak HUT DKI Jakarta
-
5 Peserta Latsarmil KDMP Tewas, Koalisi Sipil: Stop Militerisasi Ruang Sipil!
-
Kepercayaan Rakyat ke Polri Meroket, Rudianto Lallo: Modal Besar Tingkatkan Pelayanan
-
Kepercayaan Publik ke Polri Tembus 82,4 Persen, Sari Yuliati: Hasil Kerja Nyata dan Konsistensi
-
Pilih Uya Kuya Pimpin PAN Jakarta, Zulhas: Artis Itu Kreatif dan Kerjanya Produktif
-
HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno