News / Internasional
Minggu, 29 Maret 2026 | 10:25 WIB
Perang Iran-AS memicu lonjakan harga minyak 45% akibat penutupan jalur strategis Selat Hormuz.
Baca 10 detik
  • Perang Iran-AS memicu lonjakan harga minyak 45% akibat penutupan jalur strategis Selat Hormuz.

  • Mojtaba Khamenei menjadi pemimpin baru Iran menggantikan Ayatollah Ali Khamenei yang tewas terbunuh.

  • Kerugian pasar keuangan dunia mencapai 11,5 triliun dolar disertai krisis energi di berbagai negara.

Suara.com - Genap satu bulan sudah perang bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran mengguncang stabilitas dunia.

Pertempuran yang meletus sejak akhir Februari 2026 ini belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir dalam waktu dekat.

Gelombang serangan udara dan darat masih terus menghiasi berbagai titik strategis di wilayah Timur Tengah hingga saat ini.

Ketegangan justru semakin meningkat seiring dengan aksi balasan yang diluncurkan oleh pihak Iran beserta kelompok sekutunya.

Dunia internasional kini berada dalam bayang-bayang ketidakpastian ekonomi yang sangat mengkhawatirkan akibat pecahnya peperangan ini.

Pergantian Kepemimpinan Tertinggi di Teheran

Fakta mengejutkan muncul saat Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dunia akibat operasi militer gabungan.

"Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan meninggal dalam serangan gabungan AS dan Israel di Teheran," tulis laporan resmi tersebut.

Kabar duka ini sempat memicu kesimpangsiuran informasi sebelum otoritas resmi di Teheran memberikan konfirmasi final kepada publik.

Baca Juga: Dampak Perang AS-Israel, Iran Segel Selat Hormuz Hingga Harga BBM Terus Melejit

Majelis Ahli bergerak cepat dengan menunjuk Mojtaba Khamenei untuk memegang tonggak kepemimpinan tertinggi di negara para mullah itu.

Langkah suksesi ini dianggap sebagai poin krusial yang akan menentukan arah kebijakan luar negeri Iran di masa depan.

Lumpuhnya Jalur Perdagangan Minyak Internasional

Sebagai bentuk perlawanan, militer Iran mengambil keputusan drastis dengan memblokade akses pelayaran di Selat Hormuz secara total.

Penutupan jalur laut ini menjadi pukulan telak bagi distribusi energi lantaran sepertiga minyak dunia bergantung pada rute tersebut.

Dampaknya langsung terasa di pasar internasional dengan kenaikan harga minyak mentah yang menyentuh angka 45 persen.

Inflasi global pun tak terhindarkan seiring dengan melonjaknya biaya logistik dan transportasi di hampir seluruh belahan bumi.

Iran menggunakan strategi ini sebagai instrumen tekanan politik yang kuat untuk menekan posisi tawar Amerika Serikat dan sekutunya.

Rontoknya Nilai Kapitalisasi Pasar Keuangan Global

Ketakutan para investor terhadap eskalasi perang telah memicu kepanikan luar biasa di berbagai lantai bursa saham dunia.

Tercatat kapitalisasi pasar global harus kehilangan nilai sebesar US$11,5 triliun hanya dalam kurun waktu satu bulan saja.

Indeks saham utama di Amerika, Eropa, hingga kawasan Asia mengalami terjun bebas hingga mencapai angka dua digit.

Situasi ini mencerminkan betapa rapuhnya ekonomi dunia saat dihadapkan pada gangguan pasokan energi dan ketidakpastian keamanan wilayah.

Banyak pihak mengkhawatirkan bahwa tekanan finansial ini akan berujung pada resesi panjang jika gencatan senjata tidak segera dilakukan.

Eskalasi Serangan Balasan ke Pangkalan Militer

Iran tidak tinggal diam dan segera mengaktifkan unit militernya untuk menyerang puluhan titik pertahanan milik Amerika Serikat.

Target serangan balasan tersebut mencakup barak-barak militer di Timur Tengah serta infrastruktur pertahanan utama milik negara Israel.

Keterlibatan kelompok Houthi dari Yaman semakin memperkeruh suasana dengan meluncurkan proyektil rudal ke arah wilayah kedaulatan Israel.

Konflik yang semula terlokalisasi kini mulai merembet ke area perairan Laut Merah yang merupakan urat nadi perdagangan.

Risiko gangguan pelayaran internasional semakin nyata dan mengancam stabilitas distribusi barang antarbenua secara masif dan berkelanjutan.

Beban Biaya Perang yang Menguras Kantong

Kerugian di sektor militer tidak hanya dialami oleh Iran, namun juga merembet ke pihak Amerika Serikat yang kehilangan aset mahal.

"AS dilaporkan mengalami kerugian miliaran dolar akibat kerusakan aset militer, termasuk jet tempur, pesawat pengisian bahan bakar, hingga kapal induk," ungkap data tersebut.

Di sisi lain, Israel terpaksa melakukan penghematan anggaran dengan mulai mengeluarkan stok amunisi lama dari gudang persenjataan mereka.

Biaya operasional perang yang sangat tinggi telah membebani kas negara dan mengalihkan fokus pembangunan ekonomi kedua negara tersebut.

Fenomena ini membuktikan bahwa kehancuran akibat perang tidak hanya bersifat fisik, melainkan juga menghancurkan struktur finansial negara.

Krisis Bahan Bakar Menjalar ke Asia Tenggara

Dampak nyata dari terhentinya pasokan minyak mulai dirasakan oleh masyarakat di Filipina, Vietnam, hingga negara Sri Lanka.

Negara-negara tersebut mulai memberlakukan kebijakan darurat guna menyiasati kelangkaan bahan bakar minyak yang semakin kritis di lapangan.

Beberapa langkah ekstrem yang diambil meliputi pembatasan kuota pembelian BBM hingga penghentian sementara kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Aktivitas transportasi publik juga mulai dikurangi secara signifikan demi menjaga ketersediaan cadangan energi nasional yang terus menipis.

Krisis ini menunjukkan betapa ketergantungan dunia terhadap energi fosil dari Timur Tengah masih sangat tinggi dan berisiko besar.

Kekuatan Persenjataan Iran yang Masih Solid

Meskipun telah menerima gempuran bertubi-tubi, kemampuan militer Iran dilaporkan belum sepenuhnya mengalami kelumpuhan di medan tempur.

Intelijen menyebutkan bahwa Teheran masih menyimpan cadangan rudal balistik dan pesawat tanpa awak dalam jumlah yang sangat banyak.

Kemampuan Iran untuk tetap meluncurkan serangan jarak jauh membuktikan bahwa struktur pertahanan mereka memiliki daya tahan yang tinggi.

Kenyataan ini membuat opsi penyelesaian militer menjadi semakin sulit dan berisiko memicu perang urat syaraf yang lebih panjang.

Harapan dunia kini tertuju pada meja perundingan, meskipun Iran tetap bersikukuh pada syarat-syarat yang dianggap sangat berat oleh lawan.

Load More