-
Houthi kembali menyerang Israel selatan menggunakan rudal jelajah dan drone sebagai aksi bela diri.
-
Serangan dipastikan terus berlanjut hingga agresi militer terhadap Iran dan Lebanon resmi dihentikan sepenuhnya.
-
Presiden Macron berupaya mencegah Irak terseret konflik pasca tewasnya pemimpin tertinggi Iran baru-baru ini.
Houthi menyatakan tidak akan mundur sedikit pun selama tuntutan penghentian agresi militer di Lebanon belum dipenuhi.
Mereka memperingatkan adanya kemungkinan eskalasi yang lebih besar jika situasi di perbatasan Iran tidak segera mereda.
Kelompok ini memandang aksi mereka sebagai kewajiban moral untuk melindungi kedaulatan sesama negara di kawasan tersebut.
Dia menambahkan bahwa Houthi "akan melanjutkan operasi militer dalam beberapa hari mendatang sampai musuh kriminal menghentikan agresinya" terhadap Iran dan Lebanon.
Pernyataan ini menunjukkan kesiapan logistik tempur Houthi yang masih mumpuni untuk melakukan peperangan jangka panjang.
Di tengah berkecamuknya serangan rudal, Presiden Prancis Emmanuel Macron mencoba mengambil langkah diplomasi untuk meredam suasana.
Macron diketahui menjalin komunikasi intensif dengan pemimpin dari wilayah otonom di Irak untuk membahas pencegahan konflik meluas.
Upaya ini bertujuan agar negara-negara sekitar tidak terseret lebih jauh ke dalam pusaran perang yang destruktif.
"Saya berbicara dengan Nechirvan Barzani, Presiden Wilayah Otonom Kurdistan Irak," kata Macron di X.
Baca Juga: Dua 'Pesawat Super' Milik AS Hancur, Kekuatan Militer Iran Kejutkan Dunia
Prancis merasa perlu melakukan intervensi verbal untuk menjaga agar tidak ada front pertempuran baru yang terbuka.
Pembicaraan antara kedua tokoh dunia tersebut secara spesifik menyoroti serangan-serangan yang mulai menyentuh wilayah Kurdistan Irak.
Macron sangat mengkhawatirkan jika Irak kehilangan kendali atas stabilitas keamanan domestiknya akibat tekanan dari luar negeri.
Upaya pencegahan dilakukan secara maraton melalui berbagai jalur komunikasi internasional guna menekan tingkat risiko kekerasan yang ada.
Dia juga menekankan pentingnya "melakukan segala upaya" untuk mencegah Irak terseret ke dalam eskalasi di kawasan tersebut.
Kekhawatiran ini sangat beralasan mengingat posisi geografis Irak yang berada di jantung konflik antara berbagai faksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Listrik Paling Murah di 2026 untuk Harian, Harga Mulai Rp60 Jutaan
- Iran Sakit Hati Kapal dan Minyak Miliknya Rp 1,17 triliun Dilelang Indonesia
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 7 Sepatu Lari yang Awet untuk Pemakaian Lama, Nyaman dan Tahan Banting
- 63 Kode Redeem FF Max Terbaru 27 Maret 2026: Klaim Bundel Panther, AK47, dan Diamond
Pilihan
-
Mengamuk! Timnas Indonesia Hantam Saint Kitts dan Nevis Empat Gol
-
Skandal Rudapaksa Turis China di Bali: Pelaku Ditangkap Saat Hendak Kembalikan iPhone Korban!
-
Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini
-
Fokus Timnas Indonesia, John Herdman Ogah Ikut Campur Polemik Paspor Dean James
-
Video Jusuf Kalla di Pesawat Menuju Iran adalah Hoaks
Terkini
-
Tak Ada 'Hilal' Perang AS - Israel vs Iran Berakhir
-
Krisis Listrik Melanda Iran Utara Akibat Rudal Israel Hantam Menara Tegangan Tinggi di Teheran
-
Prabowo Sempat Berbincang dengan Dasco Sebelum Pergi Menemui Kaisar dan PM Jepang
-
BPBD Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Jakarta Hingga Awal April
-
Pertama Dalam Sejarah Zionis Larang Pemimpin Gereja Ibadah di Makam Kudus
-
Paus Leo Kritik Donald Trump: Tuhan Tolak Doa Pemimpin Pengobar Perang
-
Update SNBP 2026: Cek Hasil Seleksi Jalur Prestasi Resmi
-
Soroti Kasus Amsal Sitepu, Praktisi Hukum Desak Perlindungan Hukum Bagi Pekerja Kreatif
-
Belanja Pegawai Mau Dibatasi 30 Persen APBD, Pemprov DKI Pastikan PPPK Jakarta Tak Dikorbankan
-
Earth Hour 2026: Pertamina Hemat 9 MW Energi dan Tekan 2 Ton Emisi CO2