- Sedikitnya delapan juta warga Amerika Serikat mengikuti gerakan "No Kings" pada Sabtu (28/3/2026) untuk memprotes kebijakan Trump.
- Demonstrasi ini menyasar isu otoriterianisme, imigrasi, iklim, serta perang ilegal AS terhadap Iran di berbagai negara bagian.
- Gerakan protes meluas hingga Eropa, menunjukkan oposisi signifikan terhadap kepemimpinan Trump menjelang pemilihan paruh waktu mendatang.
Suara.com - Sedikitnya 8 juta warga Amerika Serikat bergerak serempat, berdemonstrasi dalam gerakan No Kings, untuk mengkritik beragam kebijakan Presiden Donald Trump, termasuk perang ilegal terhadap Iran.
Dikutip dari Euronews, Senin (30/3/2026), jutaan orang memadati jalan-jalan utama di seluruh penjuru negeri—dan sebagian di berbagai belahan dunia—pada hari Sabtu (28/3) akhir pekan lalu, untuk memprotes Presiden AS Donald Trump.
Aksi ini menyasar berbagai isu krusial, mulai dari gaya kepemimpinan yang dianggap otoriter, kebijakan imigrasi garis keras, pengingkaran terhadap perubahan iklim, hingga keterlibatan AS dalam perang dengan Iran yang tengah memanas.
Pihak penyelenggara mengklaim setidaknya delapan juta orang berpartisipasi dalam lebih dari 3.300 acara yang tersebar di seluruh 50 negara bagian AS.
Aksi ini menyentuh berbagai wilayah, mulai dari kota-kota metropolis besar, daerah pinggiran, hingga wilayah pedesaan yang secara tradisional jarang tersentuh aksi massa skala besar.
Secara umum, protes berlangsung damai di sebagian besar titik. Namun, kepolisian setempat melaporkan adanya beberapa penangkapan di Los Angeles dan Denver.
Demonstrasi ini menandai kali ketiga dalam kurang dari setahun rakyat AS turun ke jalan sebagai bagian dari gerakan akar rumput yang disebut No Kings atau Tanpa Raja.
Gerakan No Kings telah muncul sebagai oposisi paling nyata dan vokal terhadap Trump, sejak ia memulai masa jabatan keduanya pada Januari 2025.
Protes nasional pertama terjadi Juni lalu pada ulang tahun Trump ke-79, bertepatan dengan parade militer yang ia organisasikan di Washington.
Baca Juga: Mengenal Fitur Aplikasi The White House yang Dirilis Donald Trump, Tapi Picu Kecaman
Aksi kedua pada Oktober tahun lalu menarik sekitar tujuh juta pengunjuk rasa. Kini, jumlah tersebut terus membengkak seiring dengan meningkatnya ketegangan global.
New York dan Washington Jadi Pusat Perlawanan
Di New York City, puluhan ribu orang berkumpul pada hari Sabtu. Di antara kerumunan tersebut, terlihat aktor peraih Oscar, Robert De Niro, yang memberikan orasi tajam.
Robert De Niro menyebut Presiden AS sebagai "ancaman eksistensial terhadap kebebasan dan keamanan kita".
Pernyataan De Niro ini disambut sorak-sorai massa yang memenuhi jalanan Manhattan.
Sementara itu, di ibu kota Washington, ribuan pengunjuk rasa memadati National Mall. Mereka membawa spanduk-spanduk besar bertuliskan "Trump Must Go Now" (Trump Harus Pergi Sekarang) dan "Fight Fascism" (Lawan Fasisme).
Berita Terkait
-
Mengenal Fitur Aplikasi The White House yang Dirilis Donald Trump, Tapi Picu Kecaman
-
ANALISIS: Donald Trump Makin Terpojok karena Ulah Sendiri, Perang Iran Akan Berakhir?
-
Hacker Iran Retas Email Bos FBI Kash Patel, AS Gelar Sayembara Rp157 Miliar
-
AS-Israel Bongkar Kebohongan Sendiri usai Serang Kampus Iran, Isu Nuklir Cuma Bualan
-
Di Tengah Perang dengan Iran, AS dan Israel Bahas Pangkalan Militer Baru
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Sadar Kebijakan Tak Bisa Bahagiakan Semua Pihak, Rudy Susmanto Janji Terus Pembenahan di Bogor
-
Judi Online Kamboja Pakai Pulsa Buat Transaksi Rp890 M, 8 Markasnya Digerebek Bareskrim
-
Dasco Bicara Soal Rencana Dwikewarganegaraan Terbatas, Fasilitasi Diaspora Potensial
-
1.584 Personel Pasukan Gabungan Gelar Apel Kebangsaan di Bogor, Ada Apa?
-
Luruskan Pidato Prabowo, Mendikdasmen Jelaskan Soal Bahasa Asing Wajib Sejak SD
-
Fantastis! Tijjani Reijnders Bakal Kantongi Lebih dari Rp1,5 Triliun di Arab Saudi
-
Menkes Pastikan Iuran BPJS Kesehatan Tak Naik Meski Ada Defisit
-
Pemkab Bogor Bebaskan Denda PBB-P2 Selama 8 Hari, Cukup Bayar Pokoknya Saja
-
Bareskrim Tetapkan Enam Tersangka Kasus Dugaan Pemalsuan Akta PT Alam Raya Abadi, Satu Masuk DPO
-
Gedung Koperasi Desa Merah Putih di Gunung Akan Ditertibkan