- Mantan anggota BAIS, Sri Radjasa Chandra, menilai operasi penyiraman air keras aktivis KontraS sangat amatir.
- Sri Radjasa menduga ada agenda politik pembusukan terhadap Presiden Prabowo atau upaya "kudeta merayap."
- Ia mendesak Panglima TNI ikut bertanggung jawab dan mengundurkan diri demi objektivitas proses hukum.
Suara.com - Mantan anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra, angkat bicara terkait keterlibatan empat oknum anggota BAIS dalam kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus.
Sri Radjasa secara blak-blakan menyebut operasi tersebut sangat amatir dan tidak masuk akal dalam kaidah intelijen profesional. Bahkan, ia menduga ada agenda politik besar di balik peristiwa ini, yakni upaya pembusukan terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto atau “kudeta merayap”.
Dalam podcast Madilog di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Sri Radjasa memberikan penilaian hampir maksimal untuk tingkat kecerobohan operasi tersebut.
"Kalau hitungan 10 paling nora ya, mungkin 9 kali udah. Nora banget, iya nora banget. Sudah nggak masuk akal buat saya," ujar Sri Radjasa, dikutip Selasa (31/3/2026).
Kejanggalan utama, menurutnya, terletak pada identitas pelaku yang berasal dari Detasemen Markas (Denma), bukan dari unsur operasional intelijen.
"Unsur pelayanan ini adanya di Denma. Jadi tidak mungkin, sepanjang saya di BAIS selama 7 tahun, tidak pernah ada pelaksanaan operasi intelijen melibatkan anggota Denma. Nggak mungkin," tegasnya.
Dugaan Kudeta Merayap dan Pembusukan Presiden
Sri Radjasa mencium adanya aroma intervensi kekuatan politik luar yang mencoba memanfaatkan institusi BAIS. Ia menilai Presiden Prabowo tampak terkejut dengan kejadian ini, seolah kekuasaannya sedang digerogoti dari dalam.
"Saya mencermati ini ada sasarannya adalah dalam rangka pembusukan Presiden, dan juga ini langkah-langkah apa namanya kudeta merayap lah," ungkapnya.
Baca Juga: TAUD: Belasan Orang Terlibat Operasi Intelijen Serang Aktivis KontraS
Ia menambahkan bahwa saat ini terjadi fenomena “dualisme loyalitas” di tubuh institusi negara, di mana sebagian aparat masih memiliki afiliasi dengan kekuatan politik masa lalu.
"Ancaman sudah di pekarangan rumahnya Prabowo sekarang ini. Kita lihat saja banyak hal yang tidak bisa diselesaikan Prabowo sehingga nanti akumulasinya bahwa negara kekuasaan ini jatuh bukan karena ada satu kekuatan bersenjata untuk menghadapi, tapi akumulasi dari krisis-krisis," paparnya.
Desak Panglima TNI Mundur
Meskipun Kepala BAIS TNI (Mayjen Yudi) telah mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawaban, Sri Radjasa menilai hal tersebut belum cukup. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab akhir berada pada pengguna (user) institusi tersebut.
"User-nya ada Panglima TNI. Artinya apa? Pertanggungjawaban tidak bisa berhenti di Kepala BAIS. Kalau perlu Panglima TNI, dengan jiwa besar, juga mundur untuk memberikan objektivitas dalam proses hukum ini," tukasnya.
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Kabar Duka! Legenda Persija Si Macan Betawi Tan Liong Houw Tutup Usia
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
Terkini
-
Tragedi Berdarah di Jerman: 6 Tewas dalam Penembakan, Polisi Ungkap Motif Dendam
-
China Wajibkan AI di Sekolah: Semua Siswa Wajib Kuasai Kecerdasan Buatan dalam 5 Tahun
-
Misteri Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi Beijing, Pemerintah Bungkam Sensor Ketat
-
Taruna Akmil akan Dampingi Siswa Sekolah Rakyat Belajar Mandiri di Asrama Selama 5 Hari
-
Tak Lagi 'Macan Ompong', RUU HAM Beri Komnas HAM Kewenangan Penyidikan
-
Menuju Kota Global, Jakarta Kejar Target Bebas Buang Air Sembarangan
-
Jangan Terkecoh! Pendakian Gunung Merapi Masih Ditutup, Abaikan Ajakan di Medsos
-
Jadi Otak Penyekapan, Bos Percetakan di Senen Perintahkan Anak Buah Pasung Kaki Korban
-
Bertemu Dony Oskaria, KPK Minta Pejabat BUMN Bandel Tak Lapor LHKPN Disanksi
-
Gelar Budaya Jokowi Disorot, Dinilai Jadi 'Senjata' Politik Incar Masyarakat Paternalistik