-
Ribuan pasukan elite Divisi Lintas Udara ke-82 AS tiba untuk memperkuat posisi di Timur Tengah.
-
Pemerintah Amerika Serikat mengkaji operasi darat guna merebut pusat minyak dan nuklir milik Iran.
-
Donald Trump memperingatkan Teheran untuk membuka Selat Hormuz atau menghadapi serangan ladang minyak.
Seorang sumber internal menekankan bahwa hingga saat ini keputusan final untuk menginvasi Iran secara total belum diketuk.
Namun, pengerahan ini secara otomatis memperkuat kapabilitas militer AS jika sewaktu-waktu operasi masa depan harus segera dilaksanakan.
Salah satu target yang masuk dalam radar perencanaan militer adalah penguasaan penuh atas wilayah strategis Pulau Kharg.
Pulau tersebut merupakan jantung ekonomi Iran karena menjadi titik pusat bagi hampir 90 persen kegiatan ekspor minyak mereka.
Pengambilalihan aset vital ini diyakini mampu melumpuhkan kekuatan finansial Iran secara instan di tengah ketegangan yang terjadi.
Rencana operasi untuk mengamankan Pulau Kharg tersebut diakui memiliki tingkat risiko yang sangat tinggi bagi keselamatan pasukan.
Iran diketahui memiliki kemampuan militer yang mumpuni untuk menjangkau area tersebut menggunakan sistem rudal dan pesawat nirawak.
Selain urusan minyak, pembicaraan di internal pemerintahan AS juga menyentuh isu krusial mengenai ekstraksi uranium di Iran.
Opsi ini melibatkan pengerahan pasukan darat untuk mengambil material uranium yang diperkaya di fasilitas bawah tanah Iran.
Baca Juga: Donald Trump Ancam Bikin Iran 'Kiamat Lebih Cepat'
Misi semacam ini diprediksi akan menempatkan tentara Amerika Serikat di dalam wilayah lawan dalam jangka waktu yang lama.
Diskusi strategis lainnya mencakup penempatan personel militer di pesisir Iran untuk menjamin keamanan kapal-kapal tanker internasional.
Fokus utamanya adalah memastikan jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka bagi lalu lintas energi dunia tanpa gangguan.
Meski angkatan laut dan udara memegang peran kunci, kehadiran pasukan di garis pantai tetap diperlukan untuk pengamanan darat.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump sempat memberikan pernyataan mengenai adanya upaya komunikasi dengan pihak lawan yang dianggap logis.
Trump menegaskan bahwa AS sedang melakukan pembicaraan dengan "rezim yang lebih masuk akal" untuk mengakhiri perang di Iran.
Berita Terkait
Terpopuler
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 5 Rekomendasi Smartwatch yang Bisa Balas WhatsApp, Mulai Rp400 Ribuan
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
Dasco Sebut Tak Ada Pembatasan Pembelian Pertalite dan Pertamax: Stok BBM Kita Cukup
-
Terungkap! Motif Keji Pembunuhan Mayat dalam Freezer di Bekasi, Gara-gara Tolak Ajakan Merampok
-
BGN Tegaskan 93 Persen Anggaran MBG Langsung untuk Masyarakat, Bantah Isu Dana Rp335 Triliun
-
Kasus Air Keras Aktivis KontraS Andrie Yunus, Polisi Belum Temukan Keterlibatan Warga Sipil
-
DPR Apresiasi Pemerintah Tak Naikkan Harga BBM, Dasco: Masyarakat Jangan Panik dan Menimbun
-
Polisi Ungkap Motif di Balik Pembunuhan dan Mutilasi Karyawan Ayam Goreng di Bekasi
-
Gaji Rp3,5 Juta Jadi Umpan: Perempuan Dijebak Sindikat Prostitusi Online di Cilegon
-
Misteri Penyiraman Air Keras Andrie Yunus, TAUD Identifikasi 16 Pelaku dan Jejak Struktur Komando
-
Gus Yaqut Bantah Terima Uang 30 Ribu USD dari Maktour dalam Kasus Korupsi Kuota Haji
-
Kejahatan Perang Baru AS-Israel Terbongkar, Incar Museum dan Situs Sejarah Iran