- Jet tempur Amerika Serikat melakukan serangan udara di wilayah Kohgiluyeh, Iran, pada Minggu (5/4) untuk mencari pilotnya yang hilang.
- Tindakan tersebut merupakan respons atas jatuhnya pesawat F-15 milik militer Amerika Serikat yang ditembak jatuh oleh pihak Iran.
- Eskalasi militer ini memperkeruh ketegangan diplomatik antara kedua negara serta menyebabkan gangguan signifikan pada stabilitas dan penerbangan global.
AS dan Israel melancarkan serangan udara gabungan terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan masif tersebut dilaporkan telah menewaskan 1.340 orang.
Di antara ribuan korban jiwa tersebut, terdapat nama Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, sebuah peristiwa yang mengguncang stabilitas politik di Teheran.
Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal ke Israel serta wilayah-wilayah di Yordania, Irak, dan negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Serangan balasan ini merupakan bentuk respons langsung atas serangan gabungan pada akhir Februari lalu. Eskalasi ini terus berlanjut hingga mengakibatkan jatuhnya jet tempur F-15 milik Amerika Serikat di wilayah Iran tengah.
Dampak dari rangkaian konflik ini telah meluas ke ranah global. Serangan balasan itu menelan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar dan penerbangan global.
Ketidakpastian di wilayah Timur Tengah ini membuat jalur penerbangan internasional mengalami gangguan serius, sementara pasar komoditas dunia terus bergejolak seiring dengan meningkatnya risiko perang terbuka yang lebih luas.
Kini, fokus dunia tertuju pada nasib satu pilot AS yang masih hilang dan bagaimana respons lanjutan Iran terhadap penembakan di Kohgiluyeh.
Berita Terkait
-
Penyebab Iran Tak Jalin Kerjasama Kilang Minyak dengan Indonesia Meski Kaya SDA
-
Mengurai Efek Domino Perang AS-Israel Vs Iran terhadap Perdagangan RI
-
Tragedi Jembatan B1 Iran: Jumlah Korban Jiwa Serangan AS-Israel Kini Capai 13 Jiwa
-
Mediasi Buntu, Iran Tolak Mentah-mentah Tawaran Gencatan Senjata AS
-
Trump Klaim Hancurkan Jembatan Terbesar Iran, Menlu Araqchi: Kehancuran Moral Amerika Serikat!
Terpopuler
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
Pilihan
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
Terkini
-
Bukan Sekadar Fiskal, Pimpinan DPD: Pidato Prabowo Ekspresi Nyata Ekonomi Pancasila
-
Rangkuman Lengkap Pidato Prabowo di Rapat Paripurna DPR RI 20 Mei 2026
-
Udara Jakarta Pagi Ini Terburuk di Dunia, Warga Diminta Kurangi Aktivitas Luar
-
Narasi Viral Ternyata Rekayasa! Polisi: Model Ansy Jan De Vrie Bukan Korban Begal
-
Peringati Harkitnas, Menteri PANRB Dorong Transformasi Birokrasi Berbasis Data
-
'Tetangga Punya SHM, Kami Kok Tidak?' Warga Pangkalan Jati Tagih Keadilan Lahan ke Komisi XI DPR
-
Benjamin Netanyahu Minta Lepaskan Aktivis Global Sumud Flotilla
-
Dari Tragedi 98 hingga Isu Papua, Mahasiswa UI Suarakan Kekecewaan Lewat Aksi #Reformati
-
Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Diduga Terima SGD 213.600 di Kasus Suap Blueray Cargo!
-
Benjamin Natanyahu: Perlakuan Menteri Israel ke Aktivis Global Sumud Flotilla Tak Sesuai Norma