News / Internasional
Senin, 06 April 2026 | 14:19 WIB
Selat Hormuz (Gemini AI)
Baca 10 detik
  • Pemerintah Iran menetapkan syarat pembukaan Selat Hormuz agar pendapatan transit digunakan untuk mengompensasi seluruh kerusakan akibat perang.
  • Ketegangan di Selat Hormuz dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada tanggal 28 Februari lalu.
  • Pembatasan aktivitas pelayaran oleh Iran berdampak signifikan pada terganggunya jalur distribusi energi vital bagi seluruh dunia.

Suara.com - Pemerintah Iran menetapkan prasyarat khusus bagi aktivitas pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Melalui pernyataan resmi pada Minggu (5/4), Kantor Presiden Iran menegaskan bahwa jalur perairan vital tersebut hanya akan dibuka kembali jika pendapatan transit digunakan untuk membiayai kompensasi kerusakan akibat perang.

Pernyataan ini disampaikan oleh Wakil Bidang Komunikasi dan Informasi Kantor Presiden Iran, Mehdi Tabatabai, sebagai respons atas eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan tersebut.

“Selat Hormuz akan dibuka kembali hanya jika sebagian pendapatan transit digunakan untuk mengompensasi seluruh kerusakan akibat perang yang dipaksakan,” tegas Mehdi Tabatabai melalui platform media sosial X.

Selain menetapkan syarat pembukaan selat, Tabatabai juga melontarkan kritik keras terhadap Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ia menilai sikap pemimpin AS tersebut sebagai bentuk rasa frustrasi di tengah ketegangan yang kian memuncak.

Menurut Tabatabai, Trump kerap melontarkan hinaan dan pernyataan tidak masuk akal karena putus asa dan marah.

Ia juga menuding Trump sebagai pihak yang memicu konfrontasi bersenjata di Timur Tengah namun tetap merasa bangga atas tindakan tersebut.

Situasi di kawasan Teluk saat ini berada dalam level siaga tertinggi. Ketegangan bermula sejak serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari lalu yang menelan korban jiwa hingga lebih dari 1.340 orang, termasuk tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Teheran merespons serangan tersebut dengan meluncurkan gelombang drone dan rudal yang menyasar Israel, Yordania, Irak, serta sejumlah negara Teluk yang menjadi basis militer AS. Iran mengeklaim tindakan tersebut merupakan upaya pertahanan diri yang sah.

Baca Juga: Amankan BBM, Bahlil: RI Tak Pilih-Pilih Pasokan

Sebagai bagian dari strategi pertahanannya, Iran mulai membatasi pergerakan kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Langkah ini berdampak signifikan pada jalur logistik energi global, mengingat selat tersebut merupakan urat nadi utama bagi distribusi minyak dunia.

(Antara)

Load More