-
Trump mengancam hancurkan total jembatan dan pembangkit listrik Iran dalam durasi empat jam saja.
-
Konflik dipicu oleh tuntutan AS agar Iran segera membuka akses navigasi di Selat Hormuz.
-
Garda Revolusi Iran bersumpah melakukan pembalasan jika infrastruktur kritis mereka diserang militer Amerika.
Perselisihan ini berakar dari tuntutan Amerika Serikat agar pihak Teheran segera membuka akses di Selat Hormuz.
Hormuz dikenal sebagai urat nadi pengiriman minyak dunia yang sangat krusial bagi stabilitas harga energi global.
Trump berjanji akan memberikan konsekuensi luar biasa berat jika tuntutan terkait jalur laut tersebut tetap tidak dipenuhi.
Melalui platform media sosial miliknya sang presiden terus memanaskan suasana dengan rangkaian unggahan yang sangat provokatif.
Ia bahkan memberikan label khusus untuk hari Selasa sebagai hari kehancuran bagi seluruh infrastruktur penting di Iran.
Retorika yang digunakan dalam komunikasi publiknya menunjukkan ketegasan tanpa kompromi terhadap kepemimpinan di pihak negara Iran tersebut.
"Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, Hari Jembatan, semuanya digabung jadi satu di Iran. Tidak akan, ada yang seperti itu," ungkap Trump pada Senin.
Kalimat tersebut dikirimkan sebagai peringatan terakhir sebelum mesin perang Amerika Serikat benar-benar digerakkan menuju target operasi.
Ia mendesak agar pihak lawan segera mengubah kebijakan mereka sebelum terlambat dan menghadapi bencana yang jauh lebih besar.
Baca Juga: Suhu Global Mendidih! Ultimatum Trump di Selat Hormuz Bakar Harga Minyak ke Level USD 113
Dia lalu berujar,"Buka Selat sialan itu, brengsek atau Anda akan hidup di neraka. LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah [Praise to be Allah/Alhamdulillah]."
Di sisi lain pemerintah Iran menunjukkan sikap yang tidak akan mundur sedikitpun menghadapi ancaman dari negara adidaya.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baghaei menegaskan kesiapan penuh militer mereka dalam menjaga kedaulatan nasional mereka.
Pasukan elite Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC telah disiagakan untuk memberikan respons balik yang setimpal nantinya.
Teheran memandang setiap bentuk agresi militer terhadap fasilitas publik mereka sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional.
Pihak kementerian menggarisbawahi bahwa mereka tidak akan tinggal diam jika wilayah mereka diserang secara mendadak oleh pihak manapun.
Strategi pertahanan Iran melibatkan serangan balasan yang ditujukan langsung pada aset-aset strategis milik Amerika Serikat di kawasan.
"Reaksi Iran akan melakukan pembalasan terkait serangan apapun. Angkatan Bersenjata kami sudah sangat jelas bahwa serangan terhadap infrastruktur kritis, kita akan membalasnya," kata Baghaei saat wawancara dengan Al Jazeera dan dirilis Senin.
Ancaman balasan ini juga berlaku bagi pihak ketiga yang terbukti membantu operasional militer Washington dalam menyerang Iran.
Dunia internasional kini menanti dengan cemas apakah diplomasi masih memiliki ruang di tengah dentuman ancaman perang.
Esmail Baghaei juga memberikan kritik tajam terhadap gaya komunikasi yang digunakan oleh Donald Trump dalam konflik ini.
Menurutnya bahasa yang digunakan oleh pihak Gedung Putih mencerminkan perilaku yang melanggar norma-norma kemanusiaan dan hukum internasional.
"Ini sama saja dengan hasutan untuk melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan," kata Baghaei.
Komentar ini merujuk pada target serangan yang menyasar fasilitas sipil seperti jembatan dan pembangkit listrik masyarakat luas.
Hingga saat ini belum ada tanda-tanda deeskalasi dari kedua belah pihak yang bersitegang di kawasan Timur Tengah.
Publik menantikan perkembangan pada pukul 23.30 WIB yang diprediksi menjadi titik nol dari potensi konflik bersenjata ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Desil Mendadak Melonjak, Warga Jogja Terancam Kehilangan Bansos
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
- Anggaran Bencana Tak Ditemukan, Istana Malah Beli Merpati Rp305 Juta untuk Perayaan HUT ke-81 RI
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Kabut Asap Palembang Makin Pekat, Kapan Sekolah Mulai Belajar dari Rumah?
-
Ekonom Ungkap Efek Domino Karhutla: Dari Biaya Berobat hingga Pendapatan Warga Tertekan
-
Sumsel Dikepung 1.742 Hotspot, Seberapa Aman Warga dari Kabut Asap?
-
Viral Debt Collector Cek Nomor Mesin Kendaraan, Anggota DPR: Ya Sudah Lha
-
Lahan Perkebunan Indofood di Muba Terbakar, Mengapa Sumber Api Diminta Diusut?
-
Tak Perlu Transit, Citilink Kini Terbang Langsung Palembang-Yogyakarta Setiap Hari
-
Megawati Sentil Pragmatisme Politik: Jangan Jadikan Uang dan Kekuasaan sebagai Tujuan
-
Rekening Aktivis Pati Dibekukan, Koalisi Sipil: Jangan Jadikan Bank Alat Membungkam Kritik
-
Kebakaran Desa Adat Sade, Gubernur NTB Ungkap Dugaan Awal: Masalah Listrik
-
BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tak Saling Salahkan soal Asap Karhutla