-
Donald Trump sepakati gencatan senjata dua pekan dengan Iran yang mengejutkan pihak pemerintah Israel.
-
Iran bersedia membuka kembali Selat Hormuz setelah AS menerima sepuluh tuntutan syarat perdamaian mereka.
-
Israel berencana melakukan upaya diplomatik rahasia untuk membatalkan kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran.
Suara.com - Keputusan mendadak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menghentikan kontak senjata dengan Iran memicu reaksi keras.
Pemerintah Israel dikabarkan merasa sangat terpukul dan tidak menyangka atas langkah diplomatik yang diambil sekutu utamanya.
Kesepakatan gencatan senjata selama empat belas hari ini mulai berlaku efektif pada hari Rabu, 8 April 2026.
Padahal, eskalasi militer antara kedua negara tersebut baru saja berlangsung sejak akhir Februari tahun ini.
Hingga saat ini, otoritas resmi di Tel Aviv masih memilih untuk bungkam dan belum mengeluarkan pernyataan formal.
Meski demikian, seorang sumber internal di pemerintahan Israel mengungkapkan keresahan yang mendalam terkait manuver Washington tersebut.
Pejabat yang enggan disebutkan identitasnya itu menyebutkan bahwa kebijakan terbaru Trump ini benar-benar di luar dugaan mereka.
Kekecewaan ini muncul karena Israel memandang situasi tersebut sebagai sebuah kejutan yang merubah peta konflik.
Pasalnya, sesaat sebelum pengumuman damai itu muncul, Trump terpantau masih melontarkan berbagai ancaman keras bagi Iran.
Baca Juga: Trump Terima Proposal Damai 10 Poin Iran Sambil Ancam Gunakan Kekuatan Destruktif Jika Gagal Total
Ketegangan bahkan sempat memuncak saat militer Amerika Serikat membombardir wilayah Pulau Kharg yang strategis bagi Teheran.
Israel sendiri diketahui tetap melakukan serangan udara secara intensif ke berbagai titik pertahanan di wilayah Iran.
Namun, laporan dari media internasional menyebutkan bahwa pihak Gedung Putih memberikan notifikasi yang sangat mepet kepada Israel.
Hal ini memicu spekulasi bahwa koordinasi antara Amerika Serikat dan Israel sedang berada di titik terendah.
Israel kini diprediksi akan mengerahkan seluruh kekuatan diplomasinya untuk menekan Amerika Serikat agar kembali mengangkat senjata.
Berbagai langkah strategis di balik layar diperkirakan sedang disiapkan oleh Tel Aviv guna menggagalkan komitmen damai ini.
Para analis meyakini Israel sedang menimbang risiko jika mereka secara sepihak menolak hasil kesepakatan antara AS dan Iran.
Gencatan senjata ini sendiri bisa terwujud setelah Trump setuju menunda operasi militer lanjutan terhadap Negeri Para Mullah tersebut.
Sebagai imbalan atas penundaan serangan, pihak Teheran akhirnya bersedia memberikan konsesi yang sangat krusial bagi dunia.
Iran berkomitmen untuk segera membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang sempat terganggu akibat pecahnya perang.
Pembukaan jalur perdagangan energi ini menjadi poin kunci bagi Amerika Serikat untuk meredam krisis ekonomi global yang membayangi.
Proses negosiasi ini membuahkan hasil setelah Donald Trump menerima sepuluh poin tuntutan yang diajukan oleh pihak Teheran.
Pihak Iran langsung mendeklarasikan pencapaian ini sebagai sebuah kemenangan diplomatik besar atas tekanan militer Amerika Serikat.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump tidak mau kalah dengan mengeklaim bahwa gencatan senjata ini adalah bagian dari rencananya.
Ia berdalih bahwa misi militer Amerika Serikat di kawasan tersebut sebenarnya sudah mencapai target yang diinginkan sejak awal.
Trump menekankan bahwa perundingan ini adalah jalan keluar paling realistis untuk menciptakan stabilitas jangka panjang di kawasan.
Melalui platform media sosial pribadinya, Trump memberikan penjelasan rinci mengenai dasar pengambilan keputusan yang kontroversial bagi Israel tersebut.
"Ini akan menjadi GENCATAN SENJATA dua arah," tulis Trump di media sosialnya dikutip dari Al Jazeera.
Trump merasa bahwa kehadiran militer Amerika Serikat sudah tidak lagi mendesak karena tujuan-tujuan strategis telah terpenuhi sepenuhnya.
"Alasan kami melakukan ini adalah karena kami telah memenuhi dan melampaui semua tujuan militer, serta sudah sangat dekat dengan kesepakatan definitif terkait perdamaian jangka panjang dengan Iran dan perdamaian di Timur Tengah. Kami telah menerima proposal 10 poin dari Iran, dan menilai itu sebagai dasar yang dapat digunakan untuk bernegotiasi," ujarnya menambahkan.
Israel kini harus berhadapan dengan kenyataan bahwa arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat telah bergeser secara drastis.
Pertaruhan diplomatik di Timur Tengah kini memasuki babak baru yang penuh dengan ketidakpastian bagi aliansi Israel dan Amerika.
Dunia internasional kini menunggu apakah gencatan senjata dua pekan ini akan bertahan atau justru memicu konflik yang lebih luas.
Kekhawatiran akan adanya sabotase terhadap kesepakatan ini tetap tinggi mengingat penolakan keras yang ditunjukkan oleh beberapa faksi di Israel.
Masa depan Selat Hormuz dan stabilitas harga minyak dunia kini bergantung sepenuhnya pada implementasi sepuluh poin kesepakatan tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- 7 Bedak Anti Luntur Kena Keringat saat Cuaca Panas, Makeup Tetap On Seharian
- Geger! Saiful Mujani Serukan "Gulingkan Prabowo": Dinasihati Nggak Bisa, Bisanya Hanya Dijatuhkan
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 4 HP Tahan Air yang Bisa Digunakan saat Berenang, Anti Rusak dan Anti Rewel
Pilihan
-
Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan
-
Berkas 4 Oknum BAIS TNI Tersangka Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus Dilimpahkan ke Otmil
-
Resmi! Lurah Kalisari Dinonaktifkan Buntut Skandal Tangani Laporan di JAKI Pakai Foto AI
-
Efek Konflik Global: Plastik Langka, Pedagang Siomay hingga Penjual Jus Tercekik Biaya Produksi
-
Serangan Brutal di Istanbul, 3 Orang Tewas di Dekat Konsulat Israel
Terkini
-
PBB Bongkar Hasil Investigasi: Tank Israel dan Ranjau Hizbullah Penyebab Gugurnya 3 Prajurit TNI
-
Rahasia Foto Epik Bulan Kru Artemis II: Kamera Lawas Rp15 Jutaan Jadi Andalan NASA
-
Selat Hormuz Dibuka Sementara, Iran Tetapkan 2 Aturan Ketat untuk Kapal yang Melintas
-
4 Kementerian Siap Integrasi Data Perkuat Keberlangsungan Program JKN
-
Dewan Keamanan Iran: Perang Belum Berakhir, Tangan Kami Tetap di Pelatuk
-
BNI Perkuat Edukasi Anti-Phishing, Kenalkan Panduan Aman Periksa untuk Nasabah Korporasi
-
Sosok Kim Ju Ae: Putri Kim Jong Un yang Digadang Jadi Presiden Perempuan Pertama Korut
-
Polres Jakarta Barat Terbakar: Api Berhasil Dipadamkan dalam 30 Menit, Tak Ada Korban Jiwa
-
Buru Aliran Dana Korupsi Tambang, Kejagung Bekukan Rekening Samin Tan dan Keluarganya!
-
'Urat Malu Putus?' Viral Pria Diduga TNI Cekcok dengan Polisi Gegara Terobos Lampu Merah