Suara.com - Pemerintah Indonesia pada Selasa (1/4/2026), menetapkan kebijakan Work From Home (WFH) sebagai respons terhadap krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dipicu oleh konflik geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Salah satu dampak signifikan dari konflik tersebut adalah penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama distribusi minyak dunia. Bagi Indonesia, kondisi ini cukup krusial mengingat sekitar 19–25 persen impor minyak nasional melewati selat tersebut.
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah menerapkan kebijakan WFH satu hari dalam sepekan, yakni setiap Jumat. Kebijakan ini ditujukan bagi pekerja di sektor Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), serta sektor swasta.
Namun demikian, kebijakan ini tidak berlaku bagi sektor-sektor esensial yang membutuhkan kehadiran fisik, seperti kesehatan, energi, pelayanan publik, dan infrastruktur.
Selain bertujuan mengurangi konsumsi BBM, kebijakan WFH juga dinilai memiliki potensi dalam menekan emisi karbon. Logika yang digunakan adalah berkurangnya mobilitas harian pekerja akan mengurangi jumlah kendaraan di jalan, sehingga emisi dari sektor transportasi dapat ditekan. Namun seberapa efektif solusi tersebut?
Apakah WFH Bisa Dijadikan Solusi Untuk Mengurangi Emisi Karbon ?
Work From Home (WFH) digadang-gadang bisa mengurangi emisi karbon. Hal ini didasarkan pada berkurangnya jumlah kendaraan di jalan karena para pekerja tidak melakukan mobilitas ke kantor. Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Dilansir dari The Guardian (2/4/2026), sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Proceedings of the National Academy of Sciences menunjukkan bahwa pekerja yang melakukan WFH tidak secara signifikan mengurangi emisi karbon.
Penelitian tersebut menemukan bahwa dengan bekerja dari rumah atau WFH satu hari dalam sepekan hanya mampu mengurangi sekitar 2 persen emisi karbon.
Baca Juga: Pakar HI UGM: Gencatan Senjata AS-Iran Buktikan Donald Trump 'Chicken Out'
Rendahnya penurunan emisi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah meningkatnya penggunaan pendingin ruangan (AC) di rumah pada saat WFH.
Selain itu, praktik Work From Anywhere (WFA) yang kerap terjadi saat WFH juga berpotensi menghasilkan emisi tambahan dan tidak sejalan dengan tujuan dari kebijakan yang ada, yaitu menghemat konsumsi BBM.
Bekerja dari rumah juga meningkatkan penggunaan listrik untuk mengisi daya perangkat elektronik, seperti handphone dan laptop. Tidak hanya itu, penggunaan layanan digital dan internet pada aplikasi penunjang pekerjaan, seperti email dan zoom bergantung pada data center yang membutuhkan energi yang besar serta sistem pendingin agar dapat beroperasi dengan baik.
Dengan berbagai dampak yang ditimbulkan melalui kegiatan Work From Home (WFH), dapat disimpulkan bahwa WFH tidak dapat mengurangi emisi karbon secara signifikan. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi lain yang lebih efektif untuk mengatasi masalah emisi karbon di Indonesia.
WFH sementara memang dinilai relevan sebagai langkah darurat untuk mengendalikan permintaan energi dalam jangka pendek. Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, kebijakan ini dapat menjadi instrumen taktis untuk menahan konsumsi BBM sekaligus memberi sinyal pentingnya efisiensi energi.
Namun, kebijakan tersebut perlu ditempatkan secara proporsional sebagai bagian dari strategi yang lebih luas. Dalam konteks risiko gangguan pasokan energi global yang berkelanjutan, Indonesia perlu memperkuat ketahanan energi melalui langkah yang lebih struktural.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Terdakwa Militer Dituntut Ringan, Keluarga Kacab BRI Gugat Pasal Peradilan Koneksitas ke MK
-
Hujan Lebat Disertai Petir Ancam Akhir Pekan Warga Jakarta Selatan dan Timur Jelang Petang
-
Program MBG Serap 1,28 Juta Tenaga Kerja, Ribuan UMKM hingga Peternak Ikut Kecipratan
-
Jateng Genjot Investasi EBT dan Pengelolaan Sampah, Ahmad Luthfi Tawarkan ke Para Pengusaha Tiongkok
-
'Kan Bisa di-Google', Jimly Asshiddiqie Sindir Pansel yang Loloskan Hery Susanto
-
Pansel Dinilai Kecolongan Loloskan Hery Susanto Jadi Ketua Ombudsman
-
Studi Temukan Mikroplastik Menyusup ke Sperma dan Ketuban, Apa Dampaknya?
-
Momen Prabowo Mau Reshuffle Zulhas Gara-Gara Salah Kasih Info Nama Desa, Ternyata Cuma Guyon
-
Hindari Area Kuningan, Dishub DKI Terapkan Buka-Tutup Jalan Hingga 26 Mei 2026
-
Usai 9 WNI Dipulangkan, Wanda Hamidah Serukan Konvoi Lebih Besar ke Palestina