News / Internasional
Rabu, 08 April 2026 | 12:26 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan pemeriksaan pidana terhadap media CNN karena melaporkan kemenangan Iran.
Baca 10 detik
  • Presiden Donald Trump menunda pengeboman Iran dan sepakat merundingkan sepuluh tuntutan negara tersebut guna menghentikan permusuhan bersenjata.
  • Trump mengancam menuntut pidana CNN karena menyiarkan laporan bahwa Iran telah meraih kemenangan besar atas Amerika Serikat.
  • CNN membela kredibilitas pemberitaannya, menyatakan laporan tersebut diperoleh langsung dari pejabat resmi serta media pemerintah Iran.

Suara.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah memicu "perang baru" setelah menyatakan gencatan senjata serta menerima 10 tuntutan Iran sebagai dasar perundingan. Perang baru yang dimaksud ialah dirinya melawan sejumlah media, terutama CNN.

Itu setelah Trump melontarkan ancaman keras akan menuntut secara pidana terhadap jaringan berita CNN pada Selasa (7/4) malam waktu setempat.

Sebabnya, CNN memuat laporan pemberitaan yang menyebut Iran telah mencapai "kemenangan besar" atas AS.

Perselisihan ini terjadi hanya beberapa saat setelah Trump secara mengejutkan menunda tenggat waktu pengeboman terhadap Iran selama dua minggu.

Awalnya, Trump memberikan ultimatum kepada Iran hingga pukul 20.00 waktu Washington untuk membuka kembali Selat Hormuz, dengan ancaman mengerikan bahwa "satu peradaban penuh akan mati malam ini" jika tuntutan tersebut diabaikan.

Namun, sekitar 90 menit sebelum tenggat waktu berakhir, Trump merilis pernyataan bahwa AS dan Iran telah setuju untuk merundingkan penghentian permusuhan, yang mencakup pembukaan kembali selat strategis tersebut dan penangguhan pertempuran.

Tak lama setelah pengumuman tersebut, CNN menerbitkan laporan yang merinci respons dari pihak Teheran.

"Iran mengatakan telah mencapai kemenangan besar dan memaksa AS untuk menerima rencana 10 poinnya, menurut pernyataan dari laporan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran oleh media pemerintah Iran," bunyi unggahan CNN.

Trump Mengancam Investigasi Kriminal terhadap Media

Baca Juga: AS Menyerah Usai 40 Hari Perang, Iran Deklarasi Kemenangan: Tapi Tangan Kami Masih di Pelatuk!

Laporan CNN tersebut memicu kemarahan presiden. Melalui platform Truth Social, Trump menuduh CNN secara sengaja memublikasikan pernyataan yang tidak benar dan mengancam melakukan penyelidikan resmi.

“Pernyataan yang diduga dikeluarkan oleh CNN World News adalah sebuah PENIPUAN, sebagaimana diketahui oleh CNN. Pernyataan palsu itu dikaitkan dengan situs Fake News (dari Nigeria) dan, tentu saja, segera diambil oleh CNN, dan disiarkan sebagai tajuk utama yang 'legit'" tulis Trump.

Ia menegaskan, pernyataan yang dikutip CNN adalah palsu dan memerintahkan jaringan tersebut untuk segera menarik laporannya.

Lebih jauh lagi, Trump mengisyaratkan adanya konsekuensi hukum bagi media tersebut.

“Pihak berwenang sedang berusaha menentukan, apakah telah terjadi tindak pidana kejahatan dalam penerbitan pernyataan palsu CNN World, atau apakah itu dilakukan oleh pemain nakal yang sakit? CNN diperintahkan untuk segera menarik Pernyataan ini dengan permintaan maaf penuh atas 'pelaporan' mereka yang, seperti biasa, sangat buruk,” ujar Trump.

Ia menambahkan bahwa “Hasil investigasi akan diumumkan dalam waktu dekat.”

Langkah Trump ini didukung oleh Ketua Komisi Komunikasi Federal (FCC), Brendan Carr, yang menyatakan di media sosial bahwa sudah "waktunya untuk perubahan" di CNN.

"Perilaku yang lebih memuakkan dari CNN. Berita palsu sudah cukup buruk bagi negara ini, tetapi menyebarkan tajuk utama hoaks di momen keamanan nasional yang sensitif seperti ini memerlukan akuntabilitas," tegas Carr.

CNN: Itu bukan berita palsu

Menanggapi serangan tersebut, CNN merilis pernyataan resmi yang membela kredibilitas laporan mereka. CNN menegaskan, kutipan tersebut diperoleh langsung dari pejabat Iran.

“Pernyataan yang dimaksud diperoleh CNN dari pejabat Iran dan dilaporkan di berbagai outlet media pemerintah Iran. Kami menerima pernyataan tersebut dari juru bicara resmi Iran tertentu yang kami kenal."

NY Times juga beritan yang sama

Menariknya, CNN bukan satu-satunya media yang melaporkan klaim kemenangan Iran.

The New York Times juga mengunggah laporan serupa, mengutip Dewan Keamanan Nasional Iran yang menyatakan kemenangan atas AS dan Israel setelah perang selama lima minggu.

“Dewan Keamanan Nasional Iran mengatakan dalam sebuah pernyataan, Iran telah menang, dan mengucapkan selamat kepada rakyat Iran atas perlawanan mereka dalam perang lima minggu dengan AS serta Israel. Mereka juga mengatakan AS telah menerima semua rencana perdamaian 10 poin Iran,” tulis The New York Times.

Media tersebut juga mencatat kontradiksi, di mana Trump hanya menyatakan bersedia mendiskusikan rencana 10 poin tersebut sebagai "dasar negosiasi," bukan menerimanya secara keseluruhan.

Dewan Keamanan Nasional Iran sendiri dalam kutipannya menyatakan, “Kami mengucapkan selamat kepada seluruh rakyat Iran atas kemenangan ini dan menekankan bahwa sampai detail kemenangan ini difinalisasi, keteguhan dan kebijaksanaan dari para pejabat serta pemeliharaan persatuan dan solidaritas di antara rakyat Iran tetap menjadi hal yang esensial.”

Perdebatan: Siapa yang Sebenarnya Menyerah?

Di dalam internal pemerintahan Trump, respons defensif juga muncul dari Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, dan Sekretaris Pers, Karoline Leavitt.

Leavitt secara tegas menyatakan situasi ini adalah murni keberhasilan diplomasi Trump.

“Ini adalah kemenangan bagi AS yang diwujudkan oleh Presiden Trump dan militer kita yang luar biasa,” tulisnya di platform X.

“Jangan pernah meremehkan kemampuan Presiden Trump untuk berhasil memajukan kepentingan Amerika dan menengahi perdamaian.”

Namun, narasi di stasiun televisi berita utama AS justru terbelah. Di CNN, pembaca berita Erin Burnett berpendapat, Trump sebenarnya telah melunak dari ancaman destruktifnya.

“Secara harfiah pada jam 11, Trump mundur setelah mengancam bahwa, kutip, 'satu peradaban penuh akan mati malam ini dan tidak akan pernah dibawa kembali lagi',” kata Burnett. Ia menyebut kata-kata Trump sebelumnya sebagai "mengerikan dan tidak dapat diterima."

Sebaliknya, di Fox News, Laura Ingraham mengklaim bahwa pihak Iran-lah yang sebenarnya ketakutan.

Ingraham menyatakan telah berbicara langsung dengan Trump melalui telepon sesaat sebelum siaran dan meyakini bahwa Iran yang "berkedip" atau menyerah di bawah tekanan militer AS.

Perang kata-kata ini diperkirakan akan terus memanas selama dua minggu ke depan, seiring dengan dimulainya negosiasi di Islamabad, Pakistan, untuk menentukan apakah gencatan senjata ini akan menjadi perdamaian permanen atau sekadar jeda sebelum badai yang lebih besar melanda kawasan.

Load More